Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dianggap masih solid, kendati dikeluarkan dari indeks MSCI Global Standard pada Juli 2026. Hal ini disebabkan fundamental yang dinilai masih kuat, ditopang oleh bisnis emas, nikel, proyek hilirisasi dan potensi pemberian dividen besar.
Pada perdagangan Kamis (22/10), harga saham ANTM ditutup di level Rp 2.840 per saham, naik 4,41% dari perdagangan hari sebelumnya. Namun sejak awal tahun, saham ANTM terpantau melemah 9,84%.
Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai koreksi harga merupakan peluang untuk mengakumulasi saham ANTM bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang.
Ia menyatakan, tekanan akibat sentimen MSCI berpotensi memicu penyesuaian portofolio dan meningkatkan volatilitas ANTM, terlepas dari kondisi fundamental perusahaan. Koreksi harga memang membuka peluang akumulasi, kendati saat ini belum ada support yang solid.
Baca Juga: Japfa (JPFA) Bakal Serap Capex Jumbo hingga Akhir Tahun 2026, Cek Prospek Sahamnya
“Investor sebaiknya menunggu stabilisasi harga dan meredanya tekanan jual asing sebelum masuk secara bertahap,” kata dia.
Fundamental ANTM disebutnya masih relatif kuat. Pada semester I-2026, laba bersih perseroan mencapai Rp 6,91 triliun, naik 34% secara tahunan, dengan emas sebagai kontributor utama penjualan.
Bisnis nikel dan proyek hilirisasi juga berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan jangka menengah. Namun, kinerja tetap sensitif terhadap harga komoditas, volume penjualan, dan keberhasilan eksekusi proyek.
Secara historis, dia menyatakan, ANTM telah membagikan dividen tahun buku 2025 sekitar Rp 5,05 triliun atau Rp 209,99 per saham, setara 70% laba bersih tahun tersebut.
Untuk dividen berikutnya, investor perlu melihat laba sepanjang 2026, arus kas, serta kebutuhan belanja modal yang dianggarkan sekitar Rp 6 triliun. “Dividen berpotensi menjadi penopang sentimen, tetapi belum tentu cukup untuk mengimbangi tekanan jual akibat MSCI,” tegas dia.
Baca Juga: TOBA Kantongi Investasi HPS hingga S$ 555 Juta, Analis Sarankan Wait and See
Secara teknikal, dia menyatakan, area Rp2.350–2.400 dapat dicermati sebagai support dan akumulasi bertahap, dengan target terdekat Rp 2.800 dan Rp 3.000. Jika terjadi breakdown support, ia menyarankan investor untuk waspadai pelemahan lanjutan.
Katalis utama yang perlu diperhatikan, lanjut Alrich, adalah perkembangan isu MSCI, pergerakan harga emas dan nikel, realisasi kinerja kuartal III, serta perkembangan proyek hilirisasi. Investor sebaiknya tidak hanya berpatokan pada harga yang sudah turun, tetapi juga menunggu konfirmasi pembalikan tren.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














