Reporter: Ahmad Febrian, Avanty Nurdiana | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah serta berlanjutnya arus modal asing keluar dari pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi tekanan.
Di tengah volatilitas tersebut, sejumlah analis justru melihat peluang menarik pada saham-saham berfundamental kuat.Seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
DBS dalam riset terbarunya menilai, kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia cenderung berlebihan dan sudah banyak tercermin pada valuasi saham saat ini. DBS masih memperkirakan fundamental korporasi Indonesia tetap cukup tangguh dengan pertumbuhan laba perusahaan sekitar 7,5% pada 2026.
Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, investor dinilai semakin selektif dan cenderung mencari emiten dengan visibilitas laba yang tinggi, kualitas aset yang kuat, serta model bisnis yang defensif. Atas dasar tersebut, DBS tetap menempatkan BBCA sebagai pilihan utama di sektor perbankan.
"BBCA tetap menjadi pilihan utama kami di sektor perbankan berkat posisi likuiditas yang kuat, pertumbuhan kredit yang konservatif, serta kualitas aset yang unggul," tulis DBS dalam riset, 17 Juni 2026
DBS menjelaskan, kekuatan utama BBCA terletak pada rasio dana murah (CASA) yang merupakan salah satu yang tertinggi di industri perbankan nasional. Struktur pendanaan tersebut dinilai mampu membantu bank menjaga biaya dana tetap kompetitif meskipun suku bunga masih berada pada level yang relatif tinggi.
Selain itu, kualitas aset yang terjaga serta disiplin dalam pengelolaan modal membuat BBCA dinilai lebih siap menghadapi kondisi likuiditas yang semakin ketat dibandingkan bank-bank besar lainnya. Menurut DBS, rasio CASA yang unggul, kualitas aset yang kuat, serta pengelolaan modal yang disiplin menjadi fondasi utama yang menjaga kepercayaan investor terhadap BBCA selama bertahun-tahun.
Baca Juga: MSCI Putuskan Status Indonesia, Risiko Outflow US$ 13 Miliar Mengintai
Di sisi lain, koreksi harga saham yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir telah membawa valuasi BBCA ke level yang semakin menarik. DBS mencatat bahwa valuasi BBCA sempat turun ke kisaran yang terakhir kali terlihat saat krisis keuangan global 2008 sebelum kembali mengalami pemulihan.
"Pada level saat ini, valuasi BBCA seolah mencerminkan pelemahan ekonomi dan penurunan kinerja yang lebih buruk dibandingkan periode pandemi, suatu skenario yang kami nilai kecil kemungkinannya terjadi kecuali terdapat guncangan negatif yang sangat material," tulis DBS.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa harga saham BBCA saat ini telah mengakomodasi berbagai skenario negatif, mulai dari pelemahan ekonomi domestik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga perlambatan pertumbuhan sektor perbankan. Namun, DBS menilai kondisi fundamental yang ada saat ini belum menunjukkan indikasi yang mengarah pada skenario ekstrem tersebut.
Analis DBS juga menilai musim laporan keuangan kuartal II-2026 akan menjadi ujian penting bagi pasar. Apabila kinerja emiten-emiten besar, khususnya sektor perbankan, tetap menunjukkan ketahanan di tengah tekanan makroekonomi, maka ruang pemulihan valuasi pasar akan semakin terbuka.
Senada dengan DBS, analis Maybank Sekuritas, Jeffrosenberg Chenlim, juga menilai BBCA tetap menjadi salah satu emiten terkuat di sektor perbankan nasional. Menurut dia, kekuatan utama BCA terletak pada basis pendanaan murah (low-cost funding) yang stabil, pendapatan berbasis biaya (fee income) yang tangguh, serta posisi likuiditas yang sangat nyaman.
"Kami mempertahankan rekomendasi buy untuk BBCA dengan target harga Rp8.800 per saham, didukung oleh pertumbuhan laba yang konsisten," tulis Jeffrosenberg dalam riset tertanggal 18 Juni 2026.
Target harga tersebut berdasarkan pada valuasi 3,5 kali price-to-book value (P/BV) proyeksi tahun fiskal 2026. Maybank Sekuritas juga memperkirakan pemulihan net interest margin (NIM) akan berlanjut secara bertahap dalam beberapa kuartal mendatang.
Di sisi profitabilitas, return on average equity (ROAE) BCA tercatat sebesar 21,6%, sedangkan return on average assets (ROAA) mencapai 3,7%. Capaian tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas BCA masih berada pada level yang kuat meskipun sedikit melandai dibandingkan periode sebelumnya.
"BCA masih berada pada posisi yang sangat kuat untuk mempertahankan ketahanan laba sekaligus memiliki ruang ekspansi neraca," tulis Jeffrosenberg.
Hingga akhir 2026, Maybank Sekuritas memperkirakan laba bersih BBCA dapat mencapai Rp59,9 triliun. Sementara itu, laba bersih pada 2027 diproyeksikan meningkat menjadi Rp 66,53 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














