Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga Bitcoin dipengaruhi oleh sejumlah faktor, baik dari kondisi makroekonomi global maupun dinamika domestik Indonesia. Arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), arus dana ETF Bitcoin spot, hingga sentimen makroekonomi menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan Bitcoin saat ini.
CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis mengatakan terdapat empat faktor utama dari sisi global yang perlu diperhatikan, yakni kebijakan suku bunga The Fed, arus dana ETF Bitcoin spot, sentimen makroekonomi, serta faktor teknikal dan siklikal pasca-halving.
"Arah kebijakan suku bunga The Fed, ini konsisten menjadi variabel paling berpengaruh, karena ekspektasi pemangkasan atau penahanan suku bunga langsung memengaruhi selera investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin," kata Yudhono.
Baca Juga: Ekspektasi Kebijakan Suku Bunga, Begini Proyeksi Rupiah untuk Selasa (18/8)
Selain kebijakan The Fed, arus dana ETF Bitcoin spot juga menjadi perhatian. Yudhono melihat arus masuk ETF Bitcoin spot belakangan melambat cukup signifikan dibandingkan puncaknya pada bulan sebelumnya.
Faktor ketiga berasal dari sentimen makroekonomi yang lebih luas. Data inflasi, imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) atau yield US Treasury, hingga ketegangan geopolitik seperti di Timur Tengah menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi selera risiko investor secara global.
Sementara itu, faktor teknikal dan siklikal pasca-halving juga masih relevan dalam membaca pergerakan Bitcoin.
"Bitcoin secara historis selalu mengalami fase konsolidasi dan koreksi setelah mencetak rekor tertinggi, dan pola ini tetap relevan untuk membaca pergerakan harga saat ini," kata Yudhono.
Dari sisi domestik, Yudhono menegaskan bahwa harga Bitcoin tetap ditentukan oleh pasar global sehingga Indonesia bukan merupakan price setter. Namun, sejumlah faktor domestik dapat memengaruhi bagaimana investor Indonesia merespons dan bertransaksi di tengah pergerakan harga Bitcoin.
Salah satu faktor tersebut adalah kepastian regulasi. Sejak pengawasan aset kripto resmi berpindah kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan berlakunya payung hukum baru di bawah Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), tingkat kepercayaan investor domestik terhadap platform yang legal dan berizin cenderung meningkat.
Kondisi tersebut pada akhirnya memengaruhi seberapa nyaman investor Indonesia bertransaksi, termasuk ketika harga Bitcoin sedang bergerak volatil.
Faktor domestik berikutnya adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Harga Bitcoin di Indonesia dikonversikan dari harga dalam dolar AS, sehingga pelemahan rupiah dapat membuat harga Bitcoin dalam rupiah terlihat lebih mahal meskipun harga Bitcoin dalam dolar AS tidak mengalami perubahan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada 17 Agustus 2026 berada di level Rp 17.798 per dolar AS, menguat 0,16% secara harian.
"Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, karena harga Bitcoin di Indonesia dikonversi dari dolar, pelemahan rupiah bisa membuat harga BTC dalam rupiah terlihat lebih mahal meski harga dolarnya stagnan, dan ini memengaruhi psikologi investor ritel," jelas Yudhono.
Selain regulasi dan nilai tukar, perkembangan produk aset digital di dalam negeri juga dapat memengaruhi aliran likuiditas yang masuk secara spesifik ke Bitcoin. Kehadiran produk seperti tokenisasi aset dan tokenized stocks mulai memberikan alternatif bagi investor selain sekadar melakukan perdagangan Bitcoin.
Dengan demikian, faktor global tetap menjadi penggerak utama harga Bitcoin, sementara faktor domestik lebih berpengaruh terhadap bagaimana investor Indonesia merespons pergerakan harga tersebut.
"Jadi harga Bitcoin tetap ditentukan oleh dinamika global, tapi bagaimana investor Indonesia bereaksi terhadap harga tersebut, apakah panik jual, wait and see, atau justru melihatnya sebagai peluang akumulasi, itu yang dipengaruhi faktor domestik seperti regulasi, kurs rupiah, dan variasi produk yang tersedia di platform lokal," pungkasnya.
Berdasarkan data Trading Economics, harga Bitcoin per 17 Agustus 2026 pukul 16.18 WIB berada di level US$ 63.311, naik 0,78% secara harian. Namun, Bitcoin masih mencatat penurunan 0,87% secara mingguan, 2,23% secara bulanan, 27,59% secara year-to-date (ytd), dan 45,51% secara tahunan.
Baca Juga: Bitcoin Anjlok Saat Emas Cetak Rekor, Benarkah Kripto Layak Disebut Emas Digital?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
