Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tampil perkasa pada Senin (17/8/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,16% secara harian ke Rp 17.798 per dolar AS.
Sementara berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah pada Jumat (14/8/2026) menguat 0,26% secara harian menjadi Rp 17.836 per dolar AS.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi memproyeksikan, arah rupiah pada Selasa (18/8/2026) ditopang oleh pelemahan dolar AS, penurunan yield US Treasury, serta peluang masuknya kembali arus portofolio ke aset rupiah.
Kanal transmisinya cukup jelas. DXY dan UST turun, daya tarik relatif SBN membaik, arus modal berpotensi masuk, lalu tekanan terhadap rupiah berkurang.
Baca Juga: Ekonom: Asumsi RAPBN 2027 Kurang Konservatif, Risiko Global Jadi Tantangan
"Ruang apresiasi tetap terbatas karena pasar juga menunggu sinyal kebijakan Bank Indonesia dan respons investor setelah libur domestik," ujar Syafruddin kepada Kontan, Senin (17/8/2026).
Syafruddin menambahkan, sentimen utama yang perlu dicermati besok ialah indeks dolar AS (DXY), yield US Treasury, harga minyak, ekspektasi rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia, dan arus modal asing.
DXY serta UST menjadi faktor eksternal paling cepat memengaruhi rupiah karena keduanya menentukan kekuatan dolar dan imbal hasil relatif aset Indonesia. Harga minyak juga penting karena kenaikannya dapat memperbesar kebutuhan devisa impor, mendorong inflasi, dan menambah tekanan fiskal.
Dari dalam negeri, pasar akan menilai apakah BI tetap konsisten menjaga stabilitas rupiah tanpa menciptakan tekanan berlebihan pada pertumbuhan dan biaya kredit.
Arus asing ke SBN dan instrumen rupiah menjadi indikator konfirmasi. Penguatan rupiah akan lebih sehat jika disertai inflow, penurunan yield, volatilitas valas yang mereda, dan CDS yang tidak melebar.
"Risiko terbesar datang dari reversal dolar, eskalasi geopolitik, serta pelemahan ekonomi China yang dapat menekan komoditas dan sentimen mata uang Asia," jelas Syafruddin.
Syafruddin memproyeksikan rupiah pada Selasa (18/8/2026) masih memiliki bias menguat terbatas di kisaran Rp 17.720–Rp 17.880 per dolar AS.
Baca Juga: Siloam (SILO) Siapkan Jaminan Aset untuk Fasilitas Pinjaman Sindikasi Rp14,5 Triliun
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS didukung oleh penurunan indeks dolar AS menyusul serentetan data-data ekonomi AS yang lemah. Indeks sentimen konsumen AS tercatat menurun pada Agustus menjadi 51 dari 55,2 pada bulan sebelumnya.
Penjualan ritel AS juga mencatat penurunan menjadi 0,6% bulan lalu, setelah mencatat kenaikan 0,2% pada bulan Juni. Ini memicu ekspektasi bahwa the Fed akan bernada dovish pada risalah pertemuan FOMC pekan ini.
"Tidak ada data ekonomi besok, namun pelemahan dolar AS diperkirakan masih akan berlanjut hingga FOMC minutes," ucap Lukman.
Lukman memperkirakan, rupiah bergerak di kisaran Rp 17.750 - Rp 17.850 per dolar AS pada Selasa (18/8/2026).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
