Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market) tengah berada dalam sorotan.
Penyedia indeks global MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil evaluasi pasar Indonesia pada Selasa (24/6) waktu setempat, yang berpotensi menentukan apakah Indonesia tetap berada di kelompok emerging market atau menghadapi risiko penurunan status menjadi frontier market.
Keputusan MSCI ini menjadi perhatian besar pelaku pasar karena akan memengaruhi aliran dana investasi global yang mengikuti indeks MSCI.
Jika Indonesia mengalami penurunan status, arus keluar modal asing dari pasar saham domestik diperkirakan bisa semakin besar di tengah tekanan yang sudah berlangsung sepanjang tahun ini.
Baca Juga: MSCI Soroti Transparansi Indonesia Jelang Pengumuman Status Pekan Depan
Analis menilai sejumlah langkah perbaikan yang telah dilakukan regulator dan otoritas pasar modal Indonesia, termasuk upaya meningkatkan porsi saham beredar di publik (free float), berpeluang membantu Indonesia menghindari penurunan status secara langsung.
Selain itu, pembaruan MSCI pekan lalu juga tidak memuat kritik besar baru terhadap pasar Indonesia.
Meski demikian, investor tidak hanya menunggu keputusan terkait status pasar Indonesia. Pelaku pasar juga mencermati kemungkinan MSCI mencabut penghentian sementara (freeze) penambahan saham-saham Indonesia ke dalam indeksnya, yang diberlakukan sejak awal tahun ini.
Risikonya tidak kecil. Goldman Sachs memperkirakan penurunan status Indonesia dapat memicu arus keluar dana asing hingga US$ 13 miliar dari pasar saham domestik.
Potensi tekanan tersebut muncul ketika kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia telah menyusut signifikan menjadi sekitar US$ 601 miliar, dari lebih dari US$ 900 miliar pada Januari lalu.
Baca Juga: MSCI Pertahankan Status Emerging Market Indonesia, Mengapa Rupiah Masih Tertekan?
Tekanan terhadap aset-aset Indonesia sebenarnya sudah berlangsung sejak Januari 2026. Saat itu, MSCI membekukan penambahan saham Indonesia ke dalam indeksnya dan mengisyaratkan kemungkinan penurunan status pasar.
MSCI menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari kurang transparannya informasi kepemilikan saham, keterbatasan visibilitas free float, hingga kualitas data perdagangan yang dinilai belum memadai.
Di saat bersamaan, sentimen investor juga tertekan oleh kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang dinilai lebih populis. Kondisi tersebut turut membebani nilai tukar rupiah dan meningkatkan kehati-hatian investor terhadap prospek investasi di Indonesia.
Kondisi pasar saham Indonesia pun menjadi salah satu yang terburuk di dunia tahun ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot sekitar 30% sepanjang 2026, sementara investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai US$ 3,89 miliar.














