Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Minat investor terhadap instrumen ETF emas mulai menunjukkan respons positif, hal ini ditandai dengan kenaikan dana kelolaan (AUM) empat kali lipat padahal belum ada sebulan sejak diluncurkan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dana kelolaan pada tujuh produk exchange traded fund (ETF) emas yang diterbitkan oleh tujuh manajer investasi mencapai Rp 90,39 miliar sejak 10 Agustus hingga akhir Agustus 2026.
Mengingat ETF emas merupakan pilihan investasi baru di tanah air, Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, respons investor terhadap ETF emas sejauh ini cukup positif. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan dana kelolaan yang meningkat signifikan sejak peluncuran.
Baca Juga: Kantongi Free Cash Flow Rp 4,9 Triliun, TOWR Fokus Jaga Pertumbuhan
“Responsnya cukup positif. Angka OJK dana kelolaan Rp 90,39 miliar per akhir Agustus atau setara sekitar 34 kg emas, tumbuh lebih dari empat kali lipat dari Rp 21,6 miliar di hari peluncuran 10 Agustus,” ujar Wawan kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).
Menariknya, pertumbuhan dana kelolaan tersebut terjadi ketika return ETF emas masih berada di zona negatif. Menurut Wawan, kondisi ini mengindikasikan investor tidak semata-mata mengejar momentum kenaikan harga emas, melainkan mulai memanfaatkan ETF emas sebagai instrumen diversifikasi untuk jangka panjang.
Kendati demikian, Wawan menyebut, dari sisi skala industri sebenarnya dana kelolaan ETF emas masih relatif kecil. Wawan mencatat, AUM Rp 90,39 miliar tersebut baru sekitar 0,014% dari total dana kelolaan industri reksadana yang mencapai Rp 652,88 triliun.
Menurut Wawan, terdapat sejumlah faktor yang mendorong minat terhadap ETF emas. Salah satunya adalah tren harga emas global yang berada di atas US$ 4.400 per ons troi. Selain itu, kebutuhan diversifikasi portofolio serta kepraktisan ETF emas turut menjadi daya tarik bagi investor.
ETF emas juga menawarkan selisih harga beli dan jual yang relatif lebih tipis dibandingkan emas fisik. Wawan menyebut spread emas fisik dapat mencapai sekitar 8%-10%. Sementara itu, ETF emas dapat dibeli dengan modal yang relatif terjangkau, mulai sekitar Rp 25.000 per lot, dan semuanya berbasis syariah.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Menguat Rabu (9/9), Bayangan Harga Minyak Dunia Jadi Ancaman
Lebih lanjut, di antara produk yang tersedia, Trimegah Syariah ETF Emas (XTRA) menjadi salah satu produk dengan dana kelolaan terbesar. Wawan mencatat produk tersebut mengelola dana sekitar Rp 55,78 miliar atau setara dengan sekitar 62% dari total AUM ETF emas.
Dari sisi strategi investasi, dalam memilih ETF emas, Wawan menyarankan investor memperhatikan kinerja harga. Faktor likuiditas, biaya pengelolaan, serta kredibilitas manajer investasi (MI) dan dealer partisipan juga perlu menjadi pertimbangan.
Ke depan, Wawan optimistis ETF emas memiliki prospek yang cukup cerah. Bahkan, instrumen ini berpotensi menjadi salah satu kendaraan utama investasi emas bagi investor ritel di Indonesia, mengikuti perkembangan ETF emas di pasar global.
Optimisme tersebut ditopang oleh budaya menabung emas yang cukup kuat di Indonesia serta jumlah investor pasar modal yang telah mencapai 31,14 juta.
Selain investor ritel, menurut Wawan, masih terdapat peluang dari investor institusi. Saat ini, institusi seperti dana pensiun dinilai belum memiliki alokasi emas yang signifikan dalam portofolionya.
Meski prospeknya positif, Wawan menilai pengembangan ETF emas tetap membutuhkan dukungan likuiditas dan edukasi investor. Salah satu hal yang perlu dipahami adalah acuan ETF emas merupakan harga emas domestik dalam rupiah. Dengan demikian, pergerakannya dalam jangka pendek tidak selalu searah dengan harga emas dunia.
“Bila itu terjaga, dana kelolaan ETF emas bisa mencapai Rp 500 miliar sampai Rp 1 triliun dalam dua tahun ke depan,” pungkas Wawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














