Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi zona Euro yang kembali menembus 3% memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB). Kondisi tersebut turut menjadi sentimen positif bagi euro terhadap dolar AS.
Menurut Trading Economics, Selasa (8/9/2026) pukul 18.11 WIB, EUR/USD berada di level 1,1609. Euro turun 0,11% secara harian, tetapi masih menguat 0,15% dalam sepekan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) berada di level 99. DXY turun 0,16% secara harian, melemah 0,73% dalam sepekan, dan turun 0,87% secara tahunan.
Baca Juga: Perdagangan ETF Emas Mulai Menggeliat, Investor Ritel Jadi Penggerak
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan, prospek euro masih cukup positif seiring meningkatnya inflasi zona Euro. Menurutnya, kondisi tersebut memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga ECB.
“Untuk EUR, prospeknya masih cukup positif karena inflasi zona euro kembali berada di atas 3% pada Agustus, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga ECB semakin kuat. Kondisi ini dapat menjadi penopang euro terhadap dolar AS, meskipun penguatannya tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi berikutnya,” ujar Amru kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).
Inflasi zona Euro tercatat 3,3% secara tahunan pada Agustus 2026, naik dari 2,9% pada Juli. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak September 2023 dan berada cukup jauh di atas target ECB sebesar 2%. Kenaikan inflasi terutama didorong oleh lonjakan harga energi.
Di pasar valuta asing, euro bergerak stabil di sekitar US$ 1,16 karena investor menantikan pertemuan kebijakan ECB pada akhir pekan ini. Kenaikan harga minyak juga menambah kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Harga minyak mentah Brent mendekati US$ 100 per barel, sementara harga gas alam Eropa naik ke level tertinggi sejak akhir 2022. Pergerakan tersebut terjadi di tengah kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta kekhawatiran terhadap pengelolaan pengiriman melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Fluktuatif, Investor Menanti Sinyal Kebijakan The Fed
Tekanan inflasi yang masih bertahan dan pertumbuhan ekonomi yang relatif tangguh membuat bank sentral Eropa menghadapi tekanan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang restriktif. ECB secara luas diperkirakan menaikkan suku bunga dalam pertemuan Kamis mendatang, sementara pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan lanjutan pada akhir tahun.
Di sisi lain, investor juga masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Data inflasi AS menjadi perhatian setelah laporan ketenagakerjaan yang kuat pada Jumat meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan menjadi hampir 60%.
Menurut Amru, perkembangan data ekonomi berikutnya akan menjadi penentu penting bagi pergerakan euro. Karena itu, meski inflasi yang berada di atas 3% saat ini memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga ECB, prospek penguatan mata uang tersebut masih perlu melihat perkembangan ekonomi selanjutnya.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham PTBA, SSIA, dan BUMI untuk Rabu (9/9)
“Untuk euro, support masih ada dari ekspektasi kenaikan suku bunga ECB, tetapi tetap perlu melihat data ekonomi berikutnya untuk memastikan apakah penguatan tersebut dapat berlanjut,” kata Amru.
Dengan inflasi zona Euro yang masih tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga ECB yang menguat, euro masih memperoleh sentimen positif. Namun, arah pergerakannya tetap akan bergantung pada perkembangan inflasi, harga energi, serta sinyal kebijakan ECB dan The Fed.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














