Reporter: Dina Farisah, Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Sofyan Hidayat
JAKARTA. Harga gas alam naik untuk hari ke delapan setelah terjun ke level terendah tahun ini. Ini menjadi kenaikan beruntun terpanjang dalam 11 bulan terakhir. Pelaku pasar berspekulasi, cuaca dingin di Amerika Serikat (AS) bakal memicu permintaan gas alam sebagai bahan bakar pemanas ruangan.
Mengutip Bloomberg pada Kamis (6/11) pukul 14.00 WIB, harga gas alam pengiriman Desember 2014 di New York Merchantile Exchange naik 0,28% dari hari sebelumnya menjadi US$ 4,206 per mmbtu. Sementara dalam sepekan, harga tumbuh 9,9%.
Menurut Commodity Weather Group LLC, suhu udara akan berada di bawah normal dari Great Plains melalui pantai timur pada tanggal 9-18 November 2014. Sementara berdasarkan AccuWeather Inc, suhu rendah di Chicago pada 13 November mungkin berada di 24 derajat Fahrenheit (minus 4 derajat celcius), 12 derajat di bawah normal dan New York City mungkin turun ke 33,9 derajat lebih rendah dari biasanya. Seperti diketahui, sekitar 49 % rumah tangga AS menggunakan gas untuk pemanas ruangan.
Ibrahim, analis dan Direktur Equilibirium Komoditi Berjangka mengatakan, kenaikan harga gas alam ditopang oleh cuaca dingin di AS pada tanggal 9-18 November yang dapat mengerek permintaan gas alam. “Isu musim dingin ini sangat berpengaruh pada kenaikan harga,” ujarnya.
Kenaikan harga, menurut Ibrahim juga terjadi lantaran belum adanya kesepakatan terkait tunggakan pembayaran gas alam yang belum dilunasi oleh Ukraina dari Rusia.
Saat ini, Rusia belum menyalurkan gas alamnya karena Ukraina belum membayar. “Ini memicu kenaikan harga karena saat musim dingin tiba, permintaan akan tinggi,” ujarnya.
Ibrahim memperkirakan harga gas alam masih akan naik. Tapi penurunan harga bisa terjadi jika isu cuaca dingin tanggal 9-18 November tidak terjadi. Kendati masih bisa turun, namun Ibrahim menduga, harga gas berpotensi menguat akhir tahun ini.
Maklum, bulan Desember- Februari merupakan periode musim dingin di negara-negara yang memiliki empat musim seperti AS. Akhir tahun, harga gas alam bisa menembus US$ 4,500 per mmbtu.
Secara teknikal, Ibrahim melihat kenaikan harga gas alam masih berlanjut. Ini tercermin dari bollinger band yang berada 60% berada di atas bollinger bawah dan moving average (MA) 70% berada di atas bollinger bawah.
Indikator stochastic berada di level 70% area positif mengindikasikan potensi naik. Moving average convergence divergence (MACD) 60% di area positif. Sedangkan relative strength index (RSI) wait and see. Ibrahim memperkirakan, harga gas alam sepekan akan bergerak di antara US$ 4,200-US$ 4,225 per mmbtu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News