kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

CPO mulai merangkak naik kembali


Rabu, 23 November 2016 / 19:51 WIB
CPO mulai merangkak naik kembali


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Memasuki pekan ini, pergerakan harga CPO kini mulai merangkak naik. Analis memperkirakan CPO masih berpotensi terus menguat hingga menyentuh RM 3.000 per metrik ton.

Mengutip Bloomberg, Rabu (23/11) pukul 15.24 WIB, harga CPO kontrak pengiriman Februari 2016 di Malaysia Derivative Exchange tumbuh 0,48% ke level RM 2.942 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, CPO meningkat 3,05%.

Deddy Yusuf Siregar, Research & Analyst PT Soo Gee Futures mengatakan sejauh ini setimen utama yang melekat dari pergerakan harga CPO masih dipengaruhi cuaca. Malaysian Palm Oil Association merilis produksi CPO Malaysia periode 1 – 20 November 2016 turun 3,5% dibanding periode yang sama bulan sebelumnya.

Curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya dianggap bisa mempengaruhi proses panen hingga distribusi. “Sampai pekan ini curah hujan cukup tinggi dan bisa memicu banjir bandang,” terangnya kepada Kontan, Rabu (23/11).

Proses panen dan distribusi akan terhambat jika terjadi banjir bandang. Alhasil selama periode 1-20 November kemarin ekspor CPO Malaysia mengalami penurunan sekitar 8%-9%. Padahal dari sisi permintaan CPO sendiri masih cukup besar.

Dengan dukungan serangkaian sentimen positif tersebut, Deddy melihat ada peluang CPO bergerak naik menembus level RM 3.000 per metrik ton. Namun untuk mencapai level tersebut, minyak sawit mentah masih terganjal penurunan harga minyak kedelai.

Kini dua negara pengimpor terbesar China dan India mulai banyak beralih ke minyak kedelai yang harganya lebih murah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×