Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID- JAKARTA. Pergerakan Bitcoin masih berada dalam fase yang belum sepenuhnya pulih. Setelah beberapa pekan bergerak di bawah tekanan jual, aset kripto terbesar di dunia tersebut masih berkonsolidasi di kisaran US$ 65.000.
Kondisi ini terjadi di tengah memburuknya sentimen global yang dipicu lonjakan harga energi, meningkatnya tensi geopolitik, hingga ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Di saat yang sama, kapitalisasi pasar kripto global juga ikut terkoreksi sekitar 1,8% menjadi US$ 2,19 triliun pada pekan lalu.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat pada Jumat (31/7), Ini Rekomendasi Analis
Presiden Direktur PINTU Andy Putra menilai pasar kripto dalam beberapa waktu ke depan masih akan sangat dipengaruhi perkembangan faktor-faktor makro global, terutama hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral Amerika Serikat.
Menurutnya, pasar kripto sebenarnya telah memasuki fase konsolidasi sejak awal tahun. Hal ini bisa dilihat dari sebagian likuiditas investor juga mulai bergeser menuju kelas aset lain yang dinilai menawarkan momentum pertumbuhan lebih menarik.
“Minat investor mulai bergeser ke kelas aset lainnya, seperti produk aset tertokenisasi berbasis saham seiring terjadinya reli di pasar saham global. Namun, kami melihat kondisi tersebut lebih merupakan rotasi likuiditas yang wajar di pasar keuangan,” ujarnya dalam wawancara tertulis dengan Kontan, Kamis (30/7).
Andy juga melanjutkan bahwa tekanan terhadap bitcoin saat ini bukan hanya berasal dari satu faktor, melainkan kombinasi berbagai sentimen global yang membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Ketidakpastian menjelang keputusan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor utama yang membuat pelaku pasar memilih bersikap wait and see.
Di sisi lain, konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya eskalasi kebijakan dagang pemerintah AS juga memperburuk sentimen pasar.
Tekanan tambahan datang dari aksi perusahaan milik Michael Saylor, Strategy, yang melepas sebagian kepemilikan Bitcoin. Langkah tersebut ikut memengaruhi psikologis pasar sehingga memperbesar tekanan jual.
Pada saat bersamaan, reli yang terjadi di pasar saham global membuat sebagian investor mengalihkan dana dari aset kripto ke instrumen investasi lain yang dinilai memiliki prospek lebih menarik dalam jangka pendek.
Melihat berbagai faktor tersebut, PINTU memperkirakan bitcoin masih akan bergerak dalam fase konsolidasi dalam jangka pendek.
Berdasarkan analisis tim Pintu Academy, bitcoin diproyeksikan berada pada rentang US$ 58.000 hingga US$ 66.000 dengan kecenderungan bergerak bearish hingga sideways sampai muncul katalis baru.
Katalis tersebut dapat berasal dari perubahan arah kebijakan moneter global, meningkatnya arus investasi institusi, maupun membaiknya sentimen industri aset digital secara keseluruhan. Selama faktor-faktor tersebut belum muncul, volatilitas diperkirakan masih akan menjadi karakter utama pasar kripto.
Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, Andy menilai investor ritel sebaiknya tidak hanya berfokus pada potensi kenaikan harga Bitcoin semata.
Ia menyarankan investor menerapkan strategi dollar-cost averaging (DCA) secara disiplin sehingga pembelian aset dilakukan secara bertahap tanpa bergantung pada upaya menebak titik terendah harga.
Baca Juga: Laba MAP Aktif Adiperkasa (MAPA) Melonjak 30%, Pendapatan Tembus Rp 10,12 Triliun
Selain itu, diversifikasi portofolio dinilai semakin penting, terutama dengan berkembangnya tren Real World Assets (RWA) atau aset dunia nyata yang ditokenisasi melalui teknologi blockchain.
Menurut Andy, RWA tidak hanya mencakup saham yang ditokenisasi (tokenized stocks), tetapi juga exchange traded fund (ETF), emas digital (tokenized gold), perak digital (tokenized silver), hingga berbagai aset riil lainnya.
Model investasi tersebut memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap berbagai aset global dengan modal yang lebih terjangkau serta akses yang lebih mudah.
Andy juga menyampaikan bahwa sebagai bagian dari pengembangan ekosistem RWA di Indonesia, PINTU kini menyediakan 45 aset tertokenisasi yang mengacu pada saham maupun ETF Amerika Serikat.
Pilihan tersebut meliputi saham perusahaan teknologi besar seperti Apple, Microsoft, NVIDIA, Amazon, Meta, Netflix, Tesla, Alphabet, AMD, Coinbase, hingga Circle. Selain itu, tersedia pula ETF berbasis Nasdaq-100 dan S&P 500, serta aset komoditas seperti emas dan perak digital.
Menurut Andy, semakin banyaknya pilihan aset tersebut memberikan kesempatan bagi investor untuk membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.
"Diversifikasi dinilai menjadi salah satu pendekatan penting di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global," ujarnya.
Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa setiap keputusan investasi harus didasarkan pada pemahaman yang memadai terhadap karakteristik masing-masing instrumen.
“Investor maupun trader tetap perlu mempelajari setiap keputusan trading dan investasi secara menyeluruh karena aktivitas tersebut memiliki risiko yang tinggi,” tutupnya.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan pada Jumat (31/7), Ini Proyeksi Analis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














