Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (1/9/2026) diperkirakan masih berada dalam tren positif, meski investor perlu mencermati potensi aksi ambil untung setelah indeks mencatat kenaikan hampir 5% dalam sebulan terakhir.
Pada perdagangan Senin (31/8/2026), IHSG ditutup naik tipis 0,11% ke level 6.525. Dalam sebulan terakhir, IHSG telah menguat 4,67%.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Budi Frensidy memperkirakan IHSG masih bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat pada perdagangan hari ini.
"Untuk hari ini, IHSG saya perkirakan masih bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat di kisaran 6.550-6.600," ujar Budi kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Menurut Budi, rilis data inflasi Agustus yang mencapai 3,19% secara tahunan masih berada dalam sasaran Bank Indonesia (BI). Kondisi tersebut dinilai relatif netral hingga positif bagi pasar saham domestik.
Baca Juga: Rupiah Menguat Pada Agustus tapi Tertekan Sejak Awal Tahun, Cek Valas Pilihan Berikut
Memasuki September, IHSG masih dinilai memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan. Indeks berpotensi menguji level 6.700 jika aliran dana asing terus masuk dan pergerakan rupiah tetap berada dalam kondisi kondusif.
Namun, investor tetap perlu mengantisipasi potensi profit taking. Kenaikan IHSG hampir 5% dalam sebulan terakhir berpotensi mendorong sebagian investor merealisasikan keuntungan.
Selain itu, mulai berlakunya indeks MSCI hasil rebalancing Agustus 2026 turut menjadi perhatian pasar. Sejumlah saham Indonesia, termasuk GOTO dan CPIN, sebelumnya terdampak perubahan komposisi indeks tersebut.
Budi menilai pengaruh rebalancing MSCI terhadap pergerakan saham dan IHSG secara umum sudah diperhitungkan oleh pelaku pasar. Setelah indeks baru berlaku, perhatian investor diperkirakan kembali tertuju pada faktor fundamental dan perkembangan makroekonomi.
"Dampak rebalancing MSCI menurut saya sebagian besar sudah di-price in, termasuk pada GOTO dan CPIN," katanya.
Ke depan, arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan BI, pergerakan rupiah, aliran dana asing, harga minyak, serta perkembangan geopolitik Timur Tengah akan menjadi sejumlah sentimen utama yang memengaruhi pasar saham.
Baca Juga: Astra International (ASII) Merealisasikan Investasi Rp 12 Triliun per Juni 2026
Budi juga menilai meningkatnya kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati. Kebijakan moneter Amerika Serikat berpotensi memengaruhi arus modal menuju negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Strategi Trading IHSG
Untuk strategi trading, Budi menyarankan investor menerapkan strategi buy on weakness dan tetap selektif. Investor disarankan tidak mengejar saham yang sudah mengalami kenaikan tinggi, tetapi memprioritaskan saham berkapitalisasi besar yang memiliki likuiditas dan fundamental kuat.
"Saya menyarankan buy on weakness dan lebih selektif, bukan mengejar saham yang sudah naik tinggi," ungkapnya.
Sementara itu, saham-saham yang terdampak rebalancing MSCI masih berpotensi mengalami volatilitas dalam beberapa hari ke depan. Investor disarankan menunggu hingga harga saham tersebut menemukan keseimbangan baru sebelum mengambil posisi.
Dari sisi teknikal, Budi memperkirakan area 6.400-6.450 menjadi level support IHSG. Adapun level 6.600-6.700 menjadi resistance terdekat yang perlu diperhatikan investor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














