kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Biaya Operasional Tekan Laba MTEL, Prospek Bisnis Menara Masih Terbuka


Jumat, 06 November 2026 / 17:00 WIB
Biaya Operasional Tekan Laba MTEL, Prospek Bisnis Menara Masih Terbuka
ILUSTRASI. mtel (DOK/MTEL)


Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) membukukan pertumbuhan laba bersih yang terbatas hingga kuartal III-2026. Kenaikan beban operasional menjadi salah satu faktor yang menekan profitabilitas emiten menara telekomunikasi tersebut, meskipun jumlah penyewa menara terus bertambah.

Hingga September 2026, MTEL mencatatkan pendapatan sebesar Rp 7 triliun, meningkat 1,8% YoY. Sementara itu, laba bersih perseroan hanya tumbuh 0,8% YoY menjadi Rp 1,55 triliun.

Mengutip riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia oleh Equity Research Analyst Daniel Aditya Widjaja pada 5 November 2026, pertumbuhan pendapatan MTEL belum mampu diikuti peningkatan profitabilitas yang lebih baik. Hal ini terlihat dari kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 4,4% YoY menjadi Rp 3,51 triliun selama sembilan bulan pertama 2026.

Baca Juga: Laba Bersih Mitratel (MTEL) Capai Rp 1,55 Triliun Hingga Kuartal III-2026

Selain itu, beban umum dan administrasi meningkat 11,8% YoY menjadi Rp 224 miliar. Beban karyawan juga naik 7,3% YoY menjadi Rp 242 miliar. Kondisi tersebut membuat laba inti atau core profit MTEL hanya tumbuh 0,9% YoY menjadi Rp 1,52 triliun.

Pada kuartal III-2026, laba inti MTEL tercatat sebesar Rp 468 miliar, turun 14,2% dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, margin EBITDA perseroan berada di level 82,9%, lebih rendah dibandingkan posisi 83,8% pada periode sembilan bulan pertama 2025.

Meski demikian, bisnis utama MTEL masih menunjukkan pertumbuhan dari sisi jumlah penyewa. Hingga September 2026, jumlah tenant meningkat menjadi 65.037, dibandingkan 61.987 tenant pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio penyewaan menara juga naik menjadi 1,60 kali dari sebelumnya 1,55 kali.

Namun peningkatan jumlah penyewa tersebut belum sepenuhnya tercermin pada kenaikan tarif sewa. Rata-rata tarif sewa menara MTEL tercatat sekitar Rp 10 juta per bulan, turun 1,6% YoY.

Dari sisi bisnis fiber, MTEL juga mencatatkan pertumbuhan. Pendapatan fiber mencapai Rp 157 miliar atau meningkat 9% YoY. Perusahaan menambah panjang jaringan fiber sekitar 2.257 kilometer sehingga total aset fiber mencapai 61.500 kilometer.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai tantangan MTEL saat ini bukan terletak pada permintaan infrastruktur, melainkan kemampuan perseroan dalam mengonversi pertumbuhan pendapatan menjadi profitabilitas yang lebih baik.

"Artinya, tantangan MTEL saat ini bukan pada permintaan infrastruktur, melainkan kemampuan MTEL mengonversi pertumbuhan pendapatan menjadi profitabilitas yang lebih baik," ujarnya pada wawancara tertulis (6/11/2026).

Menurutnya, kenaikan biaya pemeliharaan jaringan, operasional menara, dan karyawan memberikan tekanan terhadap margin perseroan. Meski demikian, MTEL masih memiliki EBITDA margin yang relatif tinggi, yakni sekitar 82,9%. Ke depan, efisiensi dan optimalisasi aset menjadi faktor penting untuk menjaga profitabilitas.

Baca Juga: Mitratel (MTEL) Bidik Pertumbuhan dari Shared Infrastructure, Simak Prospek Sahamnya

Dari sisi operasional, Elandry menilai jumlah tenant yang telah mencapai 65.037 dengan tenancy ratio 1,60 kali menunjukkan peluang monetisasi aset MTEL masih terbuka. Pertumbuhan permintaan dapat berasal dari ekspansi jaringan 5G, fixed wireless access (FWA), serta meningkatnya kebutuhan konektivitas.

Namun, optimalisasi menara yang sudah dimiliki akan lebih penting dibandingkan ekspansi menara secara agresif. Strategi tersebut dinilai dapat membantu perseroan meningkatkan utilisasi aset sekaligus menjaga efisiensi biaya.

Bisnis fiber juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru seiring meningkatnya kebutuhan fiberisasi jaringan 5G. Meski MTEL telah memiliki aset fiber sekitar 61.500 kilometer, kontribusinya terhadap pendapatan konsolidasian masih relatif kecil. Karena itu, monetisasi aset dan penambahan pelanggan menjadi faktor penting untuk mendorong pertumbuhan bisnis tersebut.

Sementara itu, dalam risetnya, Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan pertumbuhan bisnis MTEL masih menghadapi tekanan dari perlambatan penambahan menara dan penurunan tarif sewa. Mirae Asset memangkas asumsi penambahan menara menjadi sekitar 600 unit per tahun dari proyeksi sebelumnya 900 unit. Asumsi penurunan tarif sewa juga diperlebar menjadi 3% dari sebelumnya 2%.

Baca Juga: Mitratel (MTEL) Perkuat Transformasi Bisnis dan Efisiensi, Ini Prospeknya

Dengan mempertimbangkan tekanan tersebut, Mirae Asset merevisi turun target harga saham MTEL menjadi Rp 590 per saham dari sebelumnya Rp 670 per saham. Meski target harga diturunkan, rekomendasi saham MTEL tetap dipertahankan pada posisi Buy.

Elandry memperkirakan kinerja MTEL pada kuartal IV-2026 masih akan tumbuh terbatas, dengan dukungan penambahan tenant dan bisnis fiber. Memasuki 2027, prospek perseroan berpotensi membaik seiring ekspansi 5G, FWA, dan fiberisasi jaringan.

Dengan begitu, pemulihan laba akan sangat bergantung pada efisiensi biaya dan peningkatan utilisasi aset. Sejumlah risiko yang perlu dicermati investor antara lain persaingan tarif sewa menara, ketergantungan terhadap belanja modal operator telekomunikasi, kenaikan biaya operasional, serta risiko dalam ekspansi bisnis fiber.

Secara fundamental, Elandry menilai MTEL masih menarik untuk investasi jangka menengah hingga panjang karena memiliki recurring income serta peluang pertumbuhan dari kebutuhan infrastruktur digital. Ia menyarankan strategi buy on weakness atau akumulasi bertahap dengan target harga Rp 590 per saham.

Baca Juga: Konsolidasi Industri Menara Berpotensi Jadi Katalis Positif Bagi MTEL dan TBIG

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×