kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.723.000   -27.000   -0,98%
  • USD/IDR 17.783   42,00   0,24%
  • IDX 6.450   44,59   0,70%
  • KOMPAS100 838   4,85   0,58%
  • LQ45 634   1,80   0,29%
  • ISSI 227   2,30   1,02%
  • IDX30 355   0,60   0,17%
  • IDXHIDIV20 433   0,50   0,11%
  • IDX80 96   0,52   0,55%
  • IDXV30 121   0,57   0,47%
  • IDXQ30 113   0,02   0,02%

Konsolidasi Industri Menara Berpotensi Jadi Katalis Positif Bagi MTEL dan TBIG


Kamis, 27 Agustus 2026 / 11:45 WIB
Konsolidasi Industri Menara Berpotensi Jadi Katalis Positif Bagi MTEL dan TBIG
ILUSTRASI. Para analis memberikan rekomendasi saham pilihan dan prospek bagi emiten menara di tengah konsolidasi (Dok/TBIG)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana konsolidasi industri menara telekomunikasi kembali menjadi perhatian investor. Penggabungan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berpotensi menjadi katalis pertumbuhan sektor tersebut.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Daniel Aditya Widjaja mengatakan, konsolidasi dapat menjadi peluang bagi industri menara setelah pertumbuhan permintaan menara dan penambahan penyewa atau tenant cenderung moderat dalam beberapa tahun terakhir.

Apabila merger terealisasi, entitas gabungan MTEL dan TBIG diperkirakan memiliki sekitar 65.800 menara dan 106.100 tenant. Rasio penyewaan menara atau tenancy ratio diperkirakan mencapai sekitar 1,61 kali.

Baca Juga: Saham Naik 50% Sepekan, Intip Profil Emiten NICE, Lini Bisnis, dan Kinerja Keuangan

Menurut Daniel, kedua perusahaan memiliki jaringan yang relatif saling melengkapi. MTEL lebih banyak memiliki aset di luar Jawa, sedangkan TBIG memiliki eksposur yang lebih besar di Jawa. Kondisi tersebut membuat potensi tumpang tindih aset setelah konsolidasi dinilai relatif terbatas.

"Kombinasi kedua perusahaan dinilai memiliki kecocokan karena MTEL lebih terkonsentrasi di luar Jawa, sementara TBIG memiliki eksposur lebih besar di Jawa," ujar Daniel dalam keterangan resmi, Kamis (27/8/2026).

Daniel menilai konsolidasi juga dapat memperkuat posisi tawar perusahaan menara dalam negosiasi perpanjangan kontrak sewa. Selain itu, peluang pertumbuhan dapat berasal dari siklus belanja modal jaringan generasi kelima atau 5G oleh operator telekomunikasi.

Meski demikian, Mirae Asset Sekuritas masih mempertahankan pandangan Neutral terhadap sektor infrastruktur telekomunikasi. Hal ini mencerminkan prospek pertumbuhan yang masih perlu dicermati di tengah permintaan menara yang cenderung moderat.

Untuk saham, Mirae Asset Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk MTEL dengan target harga Rp 670 per saham. Sementara itu, TBIG memperoleh rekomendasi Trading Buy dengan target harga Rp 1.700 per saham.

 

Adapun PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) juga berpotensi mendapatkan dampak positif dari konsolidasi industri menara, meski tidak menanggung risiko integrasi secara langsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×