Reporter: Vivit Dewi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah resmi menawarkan Sukuk Tabungan (ST) seri ST017 dalam dua tenor. Di mana, investor diproyeksi lebih tertarik pada tenor dua tahun.
Pasalnya, selisih imbal hasil minimum ST017 tenor dua tahun terhadap yield acuan Surat Berharga Negara (SBN) lebih tipis dibandingkan tenor empat tahun.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman mengatakan, ST017 tenor dua tahun memiliki daya saing lebih baik dibandingkan tenor empat tahun.
"Saya menilai ST017 tenor dua tahun lebih kompetitif. Kupon minimumnya hanya 18 basis poin di bawah yield acuan SBN dengan tenor yang sama per 3 November 2026. Sedangkan, untuk ST017 tenor empat tahun tertinggal 42 basis poin. Tambahan kupon 10 basis poin per tahun relatif tipis untuk menahan dana dua tahun lebih lama," ujar Rizal kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).
Baca Juga: ST017 Berpeluang Capai Target, Imbal Hasil yang Capai 7,05% Jadi Daya Tarik Investor
Sebagai informasi, berdasarkan keterangan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), ST017 merupakan surat berharga negara berbasis syariah yang menawarkan dua pilihan tenor, yakni dua tahun dan empat tahun. Produk ini menggunakan skema imbal hasil mengambang dengan batas minimum atau floating with floor.
Imbal hasil ST017 mengacu pada BI-Rate ditambah spread sebesar 120 basis poin untuk tenor dua tahun dan 130 basis poin untuk tenor empat tahun. Dengan skema tersebut, imbal hasil dapat meningkat mengikuti kenaikan suku bunga acuan, tetapi tidak akan turun di bawah batas minimum yang telah ditetapkan, yakni 6,95% dan 7,05%.
Tingkat imbal hasil ST017 akan disesuaikan setiap tiga bulan, sedangkan pembayaran imbalan dilakukan setiap bulan. Masa penawaran berlangsung pada 6 November hingga 2 Desember 2026. Investor dapat mulai berinvestasi dengan pemesanan minimum Rp 1 juta.
Adapun batas maksimal pemesanan ditetapkan sebesar Rp 5 miliar untuk tenor dua tahun dan Rp 10 miliar untuk tenor empat tahun.
ST017 tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Namun, pemerintah menyediakan fasilitas pelunasan lebih awal atau early redemption maksimal 50% dari setiap transaksi sesuai jadwal dan ketentuan yang berlaku.
Dari sisi imbal hasil bersih, ST017 juga menawarkan tingkat keuntungan yang relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah instrumen investasi berisiko rendah. Setelah dipotong pajak final 10%, imbal hasil minimum ST017 mencapai sekitar 6,26% untuk tenor dua tahun dan 6,35% untuk tenor empat tahun.
Baca Juga: Biaya Operasional Tekan Laba MTEL, Prospek Bisnis Menara Masih Terbuka
Sebagai pembanding, deposito dengan bunga setara tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar 3,75% memberikan imbal hasil bersih sekitar 3% setelah dikenakan pajak final 20%. Sementara itu, indeks reksa dana pasar uang Infovesta mencatat imbal hasil sekitar 4,2% dalam setahun terakhir.
Rizal bilang, ST017 dapat menjadi alternatif bagi investor yang mengutamakan pendapatan rutin dan kepastian pembayaran dari pemerintah.
"ST017 lebih menarik bagi investor yang menginginkan pendapatan bulanan dengan pokok dan kupon dijamin negara," katanya.
Meski menawarkan imbal hasil yang kompetitif, investor tetap perlu memperhitungkan kebutuhan likuiditas sebelum memilih ST017. Berbeda dengan SUN seri FR yang dapat dijual di pasar sekunder, ST017 tidak dapat diperdagangkan sebelum jatuh tempo. Penjualan SUN FR memang memberi fleksibilitas kepada investor, tetapi harga jualnya dapat berubah mengikuti kondisi pasar.
Sementara itu, pencairan lebih awal ST017 hanya dapat dilakukan melalui fasilitas early redemption dengan batas maksimal 50% dari nilai investasi pada periode yang telah ditentukan. Karena itu, produk ini lebih sesuai bagi investor yang memiliki dana menganggur dan tidak membutuhkan pencairan dalam waktu dekat.
Untuk kebutuhan dana dalam beberapa bulan, deposito berjangka tenor satu hingga tiga bulan atau reksa dana pasar uang dapat menjadi alternatif karena menawarkan fleksibilitas pencairan yang lebih besar.
Baca Juga: Penerbitan Obligasi ESG Masih Menantang hingga 2027, Ini Pemicunya
Dari sisi prospek, imbal hasil ST017 berpeluang meningkat apabila suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) naik. Hal ini sejalan dengan karakteristik kupon floating with floor yang memungkinkan tingkat imbal hasil menyesuaikan perubahan suku bunga acuan selama hasil perhitungannya berada di atas batas minimum.
Rizal menambahkan, apabila BI-Rate mencapai 6% pada 2027, imbal hasil ST017 berpotensi naik menjadi 7,20% untuk tenor dua tahun dan 7,30% untuk tenor empat tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
