kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.595.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 17.912   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.071   -50,56   -0,83%
  • KOMPAS100 785   -8,35   -1,05%
  • LQ45 601   -6,98   -1,15%
  • ISSI 211   -1,12   -0,53%
  • IDX30 333   -4,43   -1,31%
  • IDXHIDIV20 424   -2,18   -0,51%
  • IDX80 90   -0,99   -1,09%
  • IDXV30 115   -0,39   -0,33%
  • IDXQ30 109   -0,96   -0,88%

BI Kurangi Intervensi Rupiah di Pasar Spot, Begini Strategi Investor SBN dan Saham


Rabu, 30 September 2026 / 20:07 WIB
BI Kurangi Intervensi Rupiah di Pasar Spot, Begini Strategi Investor SBN dan Saham
ILUSTRASI. Aktivitas Penjualan Saham dan Surat Berharga Lainnya (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perubahan bauran strategi intervensi Bank Indonesia (BI) dengan mengurangi porsi intervensi di pasar spot hingga sekitar 30% dan mengoptimalkan instrumen derivatif seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) serta Non-Deliverable Forward (NDF) disebut sebagai langkah adaptif di tengah tingginya ketidakpastian global.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi berpandangan, intervensi langsung di pasar spot membutuhkan likuiditas dolar AS secara fisik dan seketika.

Meski efektif meredam volatilitas jangka pendek, strategi tersebut berbiaya tinggi dan dapat menggerus cadangan devisa jika tekanan eksternal berlangsung panjang.

Baca Juga: Valas Utama Tertekan Dolar, Cemati Prospek JPY, EUR, dan GBP

"Sebaliknya, dengan membatasi porsi spot ke level 30%, BI menunjukkan kehati-hatian untuk menjaga kecukupan cadangan devisa dalam menghadapi gejolak eksternal yang lebih sistemik," ujar Rahma kepada Kontan, Rabu (30/9/2026).

Menurut dia, instrumen derivatif tetap memiliki batas efektivitas apabila tidak diiringi penguatan fundamental sektor riil dan eksternal.

Stabilitas rupiah yang berkelanjutan tetap bergantung pada kinerja neraca perdagangan dan optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE), termasuk memastikan pasokan valas eksportir masuk dan tetap berada di dalam negeri.

Rahma melihat perubahan bauran intervensi tersebut juga mencerminkan pergeseran pendekatan BI. Intervensi spot lebih bersifat reaktif untuk meredam tekanan harga di pasar fisik.

Sementara itu, peningkatan penggunaan DNDF dan NDF membuat BI tidak hanya mempertahankan harga rupiah, tetapi juga mengelola ekspektasi pelaku pasar.

Baca Juga: Penguatan Dolar AS Berlanjut, Investor Perlu Cermati Arah Valas Asia

Memasuki akhir 2026, Rahma melihat arah instrumen keuangan domestik akan ditentukan oleh keseimbangan antara upaya BI menjaga stabilitas eksternal dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Untuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Rahma memperkirakan instrumen tersebut tetap menjadi daya tarik bagi aliran modal asing jangka pendek di tengah sikap BI yang cenderung hawkish dengan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, ia memperkirakan yield SRBI tenor sekunder akan berada di kisaran 7,3%-7,7%, bergantung pada tenor. Level tersebut dinilai diperlukan untuk menjaga daya tarik selisih suku bunga Indonesia dengan pasar global.

Sementara itu, yield SUN tenor 10 tahun diperkirakan bergerak relatif konsolidatif di kisaran 7,1%-7,2%. Meski, yield SUN tenor 10 tahun yang saat ini sudah berada di kisaran 7,2% mencerminkan premi risiko global dan domestik yang masih cukup tinggi

Baca Juga: Yen Jepang Jadi Valas Utama Paling Prospektif hingga Akhir Tahun

Menurut Rahma, arus modal asing yang masuk ke pasar domestik dapat menopang SBN. Namun, tekanan pasokan dari lelang fiskal pada akhir tahun serta pergerakan yield US Treasury berpotensi membuat harga SBN bergerak dalam rentang terbatas.

Untuk pasar saham, Rahma melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi tantangan untuk mencatatkan reli agresif. Ia menyebut target konsensus institusional seperti JPMorgan berada di sekitar level 7.000 pada akhir tahun.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×