Reporter: Vivit Dewi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan dolar AS masih menjadi salah satu perhatian investor di pasar valuta asing setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan.
Dengan indeks dolar AS (DXY) bertahan di sekitar level 100, strategi mengambil posisi di mata uang Asia perlu dilakukan lebih selektif.
Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (17/9/2026) pukul 17.13 WIB, DXY berada di level 100,143.
Pergerakan mata uang Asia masih beragam. Yen Jepang menguat 0,40% terhadap dolar AS, yuan China menguat 0,07% dan dolar Singapura menguat 0,14%.
Sementara itu, rupiah melemah 0,02%, won Korea Selatan melemah 0,55% dan ringgit Malaysia melemah 0,75%.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.753 Per Dolar AS Hari Ini (17/9/2026), Asia Mixed
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, mengatakan, kondisi dolar AS yang masih kuat membuat investor sebaiknya tidak terburu-buru mengambil posisi besar pada mata uang Asia.
"Investor sebaiknya tidak terlalu agresif mengambil posisi melawan USD ketika DXY masih berada di sekitar 100. Lebih baik menggunakan pendekatan bertahap dan menunggu konfirmasi dari data ekonomi serta kebijakan bank sentral," kata Brahmantya kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).
Menurut Brahmantya, pendekatan tersebut juga dapat membantu investor menghadapi volatilitas yang muncul dari perubahan ekspektasi suku bunga.
Pergerakan imbal hasil US Treasury dan data ekonomi AS dapat menjadi acuan untuk menyesuaikan posisi, terutama ketika pasar kembali mengubah ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
"Untuk diversifikasi Asia, CNY dan SGD bisa diakumulasi secara bertahap. JPY lebih taktis mengikuti kebijakan BoJ, sedangkan IDR dan KRW perlu lebih selektif karena faktor arus modal dan sentimen risiko," jelasnya.
Brahmantya juga mengingatkan investor agar tidak hanya berpatokan pada level DXY dalam menentukan waktu masuk.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.696 Per Dolar AS Hari Ini (16/9), Asia Perkasa
Perubahan arus modal, harga minyak dan sentimen terhadap aset berisiko dapat membuat pergerakan mata uang Asia berbeda meski dolar AS bergerak dalam arah yang sama.
Dengan kondisi tersebut, strategi investor hingga akhir 2026 lebih banyak ditentukan oleh momentum masuk dan pengelolaan posisi.
Investor dapat mempertahankan eksposur dolar sebagai penyeimbang portofolio sembari menambah posisi pada mata uang Asia secara bertahap ketika tekanan mulai mereda.
Brahmantya memperkirakan DXY masih memiliki ruang untuk bergerak pada kisaran 99-102 hingga akhir 2026. Namun, ruang pergerakan tersebut tetap akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap data ekonomi dan kebijakan The Fed berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














