Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) akan melakukan rights issue dengan menerbitkan maksimal 15 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 200 per saham. Aksi korporasi tersebut berpotensi menghimpun dana hingga Rp 3 triliun untuk memperluas ekosistem kendaraan listrik komersial.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, aksi tersebut akan memberikan dampak dilusi yang cukup besar bagi pemegang saham lama, terutama bagi investor yang tidak mengeksekusi haknya.
"Dilusinya besar. 15 miliar saham baru adalah jumlah sangat signifikan. Yang perlu dicermati bukan hanya dilusi kepemilikan, tapi dilusi laba per saham, karena VKTR belum menghasilkan laba, sehingga penambahan saham langsung memperkecil nilai per saham tanpa penambahan laba sebagai penyeimbang," kata Wafi kepada Kontan, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga: Rupiah Dekati Rp 18.000, Intip Pemicu dan Proyeksinya Hingga Akhir 2026
Menurut dia, dana Rp 3 triliun memang cukup besar untuk membangun ekosistem kendaraan listrik komersial. Namun, manfaat terhadap kinerja keuangan tidak akan langsung terlihat karena dana tersebut perlu digunakan untuk perakitan, jaringan purna jual, hingga kemungkinan pembangunan infrastruktur pengisian daya.
Investasi tersebut dinilai baru dapat menghasilkan pendapatan dalam beberapa tahun ke depan. Dalam jangka pendek, VKTR justru berpotensi menghadapi peningkatan beban penyusutan dan biaya operasional.
Wafi juga menyoroti kesepakatan indikatif pendanaan senilai Rp 2 triliun dari Danantara yang sebelumnya telah diumumkan VKTR. Pendanaan tersebut belum bersifat mengikat sehingga perlu dicermati apakah rights issue yang direncanakan merupakan bagian dari skema tersebut atau sumber pendanaan yang terpisah.
Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai tambahan modal Rp 3 triliun dapat memperkuat kapasitas ekspansi VKTR di bisnis kendaraan listrik komersial. Dana tersebut dapat digunakan untuk pengadaan kendaraan, memperkuat modal kerja, memperluas ekosistem e-MaaS, serta meningkatkan kapasitas operasional.
Namun, Nafan menilai dampak terhadap pendapatan dan EBITDA tidak akan otomatis muncul setelah rights issue selesai. Perseroan masih perlu melalui proses pengadaan, produksi, distribusi hingga peningkatan utilisasi kendaraan.
"Apabila ekspansi berjalan sesuai rencana dan tingkat utilisasi armada meningkat, tambahan modal tersebut berpotensi menjadi basis pertumbuhan pendapatan dan EBITDA dalam beberapa periode ke depan," ujar Nafan.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menambahkan, besarnya dana rights issue cukup material untuk mempercepat ekspansi VKTR, khususnya dalam pengadaan kendaraan listrik komersial, pengembangan bisnis MaaS dan kebutuhan modal kerja.
Baca Juga: Potensi Rupiah Tembus Rp 18.000 per dolar AS Meningkat, Begini Proyeksi Analis
Menurut Elandry, dampak terhadap kinerja akan bergantung pada kecepatan perusahaan mengonversi tambahan armada menjadi pendapatan dan laba. Karena itu, pertumbuhan pendapatan perlu dilihat bersamaan dengan kemampuan ekspansi menghasilkan tingkat pengembalian yang sehat.
Dari sisi manfaat, Nafan menilai rights issue dapat memperkuat struktur permodalan tanpa menambah beban utang secara langsung. Hal ini relevan bagi VKTR karena pengembangan kendaraan listrik komersial dan ekosistem pendukungnya membutuhkan investasi serta modal kerja yang besar.
Namun, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati. Wafi menyebut setidaknya ada risiko penyerapan dana, risiko eksekusi, serta potensi tekanan harga saham menjelang tanggal cum date akibat bertambahnya pasokan saham.
Risiko penyerapan juga perlu diperhatikan apabila pemegang saham pengendali tidak menebus seluruh haknya dan porsi yang besar akhirnya ditanggung pembeli siaga. Sementara itu, risiko eksekusi berkaitan dengan pasar kendaraan listrik komersial yang masih berada pada tahap awal dan permintaannya dipengaruhi kebijakan pemerintah serta kesiapan infrastruktur.
Nafan menambahkan, investor perlu mencermati dampak kenaikan jumlah saham beredar terhadap earnings per share (EPS) dan return on equity (ROE). Menurut dia, dilusi tidak selalu menjadi persoalan apabila modal baru mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang memadai.
"Investor juga perlu mencermati potensi tekanan terhadap return on equity dan earnings per share apabila pertumbuhan laba tidak mampu mengimbangi peningkatan jumlah saham," ujar Nafan.
Pasca rights issue, prospek VKTR akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen mengeksekusi ekspansi dan mengubah tambahan modal menjadi pendapatan serta laba berkelanjutan. Nafan menyebut sejumlah indikator yang perlu dipantau, antara lain volume penjualan kendaraan listrik, jumlah armada yang mulai beroperasi, perkembangan bisnis e-MaaS, utilisasi kendaraan, pertumbuhan pendapatan dan EBITDA, margin, serta arus kas operasi.
Kebutuhan pendanaan lanjutan juga masih terbuka. Wafi menilai pembangunan ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir biasanya membutuhkan investasi yang lebih besar dari Rp3 triliun. Sementara Elandry menilai bisnis kendaraan listrik komersial yang padat modal membuat kebutuhan pendanaan tambahan tetap mungkin muncul apabila ekspansi terus diperbesar.
Baca Juga: Samuel Kripto Resmi Jadi Anggota ICEx, Layanan Deposit Rupiah Ditutup Sementara
Untuk saham VKTR, Nafan memberikan rekomendasi ADD dengan target harga Rp 1.035 per saham. Sementara Elandry melihat VKTR masih berada dalam kategori speculative buy. Dengan asumsi harga sekitar Rp 830 per saham, Elandry melihat area target Rp 900 hingga Rp 950 per saham, dengan support di Rp 780 hingga Rp 800 per saham.
"Jika mampu breakout Rp 850 disertai volume yang kuat, ruang penguatan menuju target tersebut terbuka. Sebaliknya, jika support Rp 780-Rp 800 jebol, investor sebaiknya wait and see terlebih dahulu," kata Elandry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














