Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar mata uang global diwarnai dinamika kebijakan bank sentral utama dunia dan gejolak geopolitik yang menopang keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutpip data Trading Economics pada Senin (21/9/2026) pukul 17:18 WIB, mata uang Yen Jepang (USD/JPY) menguat 0,24% atau naik 0,38 poin ke level 157,254, sementara Euro (EUR/USD) melemah 0,04% atau berkurang 0,00049 poin ke level 1,14802, dan Poundsterling Inggris (GBP/USD) terkoreksi 0,08% atau turun 0,00108 poin ke posisi 1,33843.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan menilai mata uang Yen Jepang menjadi mata uang yang paling menarik dicermati saat ini.
Baca Juga: Indeks Dolar Melemah, Begini Prospek Valas Utama
Meskipun Bank of Japan (BoJ) telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, keputusan tersebut justru direspons pasar sebagai dovish hike lantaran hasil pemungutan suara 7-2 menunjukkan belum adanya kesepakatan kuat untuk pengetatan yang agresif.
Kondisi tersebut diperparah sinyal The Fed yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan, serta eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang menjaga permintaan aset safe haven terhadap dolar AS tetap tinggi dengan Indeks Dolar (DXY) bertahan di kisaran 100.
“Dalam jangka pendek, USD/JPY masih berpotensi bertahan tinggi, tetapi semakin mendekati 157–160, risiko intervensi Jepang juga semakin besar,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Senin (21/9/2026).
Untuk mata uang Euro dan Poundsterling, pergerakannya masih dibayangi kebijakan European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE) serta tantangan pertumbuhan ekonomi kawasan.
Baca Juga: Risalah The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga, Begini Prospek Valas Utama
Meskipun GBP/USD mendapat sokongan dari imbal hasil (yield) obligasi Inggris yang relatif tinggi, kondisi fiskal dan laju pertumbuhan ekonomi domestik menjadi faktor pembatas.
Menghadapi volatilitas pasar yang cukup tinggi ini, Brahmantya menyarankan investor untuk tidak terlalu agresif melawan pergerakan Dolar AS selama Indeks Dolar masih bertenaga.
Untuk EUR/USD dan GBP/USD, strategi buy on weakness secara bertahap dapat dipertimbangkan sembari menunggu kepastian arah kebijakan bank sentral Eropa.
“Jadi JPY lebih menarik sebagai posisi taktikal dibanding mengejar penguatan USD/JPY pada level tinggi,” tutur Brahmantya.
Hingga akhir tahun 2026, Brahmantya memproyeksikan pasangan mata uang USD/JPY bergerak di kisaran 157–160.
Baca Juga: Indeks Dolar Di Atas 100, Begini Prospek Valas Utama
Namun, jika BoJ kembali melancarkan normalisasi kebijakan secara berkelanjutan atau otoritas Jepang melakukan intervensi pasar, nilai tukar yen berpeluang menguat kembali ke area 150–152.
Sementara itu, EUR/USD diproyeksikan berada pada rentang 1,13–1,17 dan GBP/USD diproyeksikan bergerak di kisaran 1,32–1,36, dengan ruang pemulihan terbuka apabila inflasi AS melandai dan siklus pengetatan suku bunga The Fed mencapai puncaknya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














