kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.595.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 17.912   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.071   -50,56   -0,83%
  • KOMPAS100 785   -8,35   -1,05%
  • LQ45 601   -6,98   -1,15%
  • ISSI 211   -1,12   -0,53%
  • IDX30 333   -4,43   -1,31%
  • IDXHIDIV20 424   -2,18   -0,51%
  • IDX80 90   -0,99   -1,09%
  • IDXV30 115   -0,39   -0,33%
  • IDXQ30 109   -0,96   -0,88%

Strategi Baru BI Redam Volatilitas Rupiah, Ini Dampaknya bagi SBN dan Pasar Saham


Rabu, 30 September 2026 / 18:28 WIB
Strategi Baru BI Redam Volatilitas Rupiah, Ini Dampaknya bagi SBN dan Pasar Saham
ILUSTRASI. INDONESIA-ECONOMY-CURRENCY (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergeseran strategi Bank Indonesia dalam mengawal stabilitas nilai tukar rupiah kini mengandalkan bauran intervensi yang lebih efisien di tengah tekanan eksternal global yang masih bergejolak.

Mengutip data Bloomberg pada Rabu (30/9/2026), rupiah di pasar spot berada di posisi Rp 17.894 per dolar AS atau menguat 0,48% (87 poin), sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah menguat 0,67% ke level Rp 17.877 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya di level Rp 17.998 per dolar AS.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede melihat penyesuaian porsi intervensi tunai di pasar spot menjadi sekitar 30% merupakan bentuk perubahan menuju intervensi yang lebih terarah dan berlapis.

Baca Juga: VKTR Rights Issue Rp 3 Triliun, Analis Soroti Risiko Dilusi Saham yang Cukup Besar

BI kini membagi fungsi stabilisasi melalui pasar tunai untuk kebutuhan likuiditas riil, NDF (Non-Deliverable Forward) untuk mengarahkan ekspektasi pasar luar negeri, serta DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) untuk penyediaan lindung nilai domestik.

Penjualan dolar di pasar tunai memakan biaya lebih tinggi karena menggerus cadangan devisa secara langsung, sedangkan instrumen derivatif memungkinkan stabilisasi dengan penggunaan cadangan devisa yang lebih efisien.

"Tetapi apabila tekanan eksternal berlangsung lama, instrumen derivatif tidak dapat menggantikan perbaikan fundamental neraca pembayaran," kata Josua kepada Kontan, Rabu (20/9/2026).

Keberhasilan stabilisasi rupiah melalui bauran instrumen ini membawa implikasi berbeda bagi instrumen investasi domestik.

Untuk pasar SBN, berkurangnya risiko kurs membuat imbal hasil SUN 10 tahun yang berada di level 7,22% per 29 September menjadi lebih menarik bagi investor asing, mengingat adanya selisih sekitar dua poin persentase terhadap obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (5,2%).

Hingga 28 September 2026, arus dana asing ke SBN masih mencatatkan inflow bersih Rp 27,5 triliun.

Sementara itu, posisi instrumen SRBI menurun dari sekitar Rp 1.097 triliun pada Juli menjadi Rp 1.028 triliun per 28 September, seiring langkah BI menurunkan jumlah SRBI beredar secara bertahap dan mengalihkan penopang stabilisasi ke instrumen lain.

Baca Juga: Rupiah Dekati Rp 18.000, Intip Pemicu dan Proyeksinya Hingga Akhir 2026

Di pasar saham, tantangan masih membayangi akibat pergeseran minat investor asing ke instrumen berpendapatan tetap.

Sepanjang tahun 2026 hingga 28 September, pasar saham mencatat net sell asing sebesar Rp 62,1 triliun.

"Intinya, perubahan strategi BI justru membuat stabilisasi rupiah menjadi lebih hemat cadangan devisa dan lebih beragam instrumennya," ujar Josua.

Menghadapi akhir tahun 2026, Josua memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.000 per dolar AS dalam skenario dasar, dengan perkiraan imbal hasil SUN 10 tahun berada di rentang 7,15%–7,35%.

Pasar saham diprediksi masih bergejolak dan selektif, di mana investor disarankan mencermati empat indikator utama, yaitu imbal hasil obligasi AS, harga minyak dunia, pergerakan rupiah, dan arus modal asing sebelum mengambil keputusan investasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×