Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas rupiah melalui instrumen moneter disebut mulai menghadirkan konsekuensi terhadap biaya pendanaan di dalam negeri.
Salah satunya berasal dari penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang disebut cukup agresif.
Asal tahu saja, nilai tukar rupiah pada awal tahun 2026 bergerak di kisaran Rp 16.700 -Rp 16.815 per dolar AS, sebelum mengalami tren pelemahan lebih lanjut sepanjang tahun. Pada Selasa (6/10/2026) rupiah ditutup ke level Rp 17.899 per dolar AS atau menguat 0,10% secara harian.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Dipo Satria Ramli mengatakan, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya berasal dari pergerakan dolar AS, tetapi juga potensi kenaikan suku bunga The Fed yang dapat kembali memicu arus modal keluar dari Indonesia.
Baca Juga: Dirut Paperocks Indonesia Gencar Melepas Saham PPRI Saat Harga Naik, Ini Kata Analis
Di Amerika Serikat (AS), pasar masih mencermati dot plot The Fed yang menunjukkan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga satu kali lagi pada tahun ini. Kenaikan tersebut diproyeksikan terjadi pada bulan-bulan menjelang akhir tahun.
“Kalau Fed Rate naik lagi, capital outflow naik lagi. Bahkan sekarang sudah terlihat, dengan The Fed naik bulan lalu, rupiah sudah mulai tertekan bulan ini,” ujar Dipo kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).
Pasalnya, kenaikan suku bunga AS dapat meningkatkan daya tarik aset dolar AS dan mendorong investor mengurangi eksposur pada aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di tengah kondisi tersebut, Dipo bilang BI mulai mengurangi ketergantungan pada intervensi langsung menggunakan cadangan devisa.
Sebagai gantinya, BI mengoptimalkan sejumlah instrumen operasi moneter dan lindung nilai, termasuk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan SRBI.
Melansir data BI, kepemilikan investor asing pada instrumen SRBI mencapai Rp 294,66 triliun pada Agustus 2026, menjadi level tertinggi sejak SRBI pertama kali diterbitkan pada September 2023.
Jika dibandingkan dengan posisi Mei yang sebesar Rp 216,48 triliun, kepemilikan asing telah melonjak Rp 78,18 triliun atau 36,1% dalam tiga bulan.
Baca Juga: Yield Obligasi AS dan Jepang Tinggi, Rupiah Dibayangi Pelemahan
Menurut Dipo, instrumen tersebut memang dapat membantu menjaga stabilitas rupiah sekaligus memberikan insentif bagi investor asing untuk tetap menempatkan dana di Indonesia. Namun, kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap neraca BI dan biaya pendanaan di dalam negeri.
Dipo mencatat, utang BI meningkat dari US$ 24,67 miliar menjadi US$ 42,46 miliar atau sekitar 70% dalam enam bulan pertama 2026.
“Dengan kenaikan ini sebenarnya dampak tidak langsung ke ekonomi cukup besar. Jadi pertama bayar bunganya. Bukan hanya bayar bunga, tapi dia bikin cost of fund atau biaya peminjaman di Indonesia juga menjadi mahal,” jelas Dipo.
Lebih lanjut, Dipo menjelaaskan penguatan rupiah dalam jangka panjang tidak bisa hanya mengandalkan financial flow.
“Kalau kita benar-benar mau membuat Indonesia rupiahnya kuat, memang kita harus ekspor lebih. Entah itu ekspor komoditas, barang atau jasa. Tetapi intinya yang bikin rupiah kuat itu adalah sektor riil,” paparnya.
Baca Juga: Kinerja Emiten EBT Beragam, Ini Prospek PGEO, BREN dan KEEN hingga 2027
Lebih lanjut Dipo melihat kondisi fundamental seperti cadangan devisa dan neraca perdagangan memang menunjukkan perbaikan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, perbaikan tersebut masih dinilai rapuh.
Menurut dia, surplus perdagangan perlu ditopang oleh penguatan sektor riil dan ekspor yang berkelanjutan. Sebab, apabila rupiah hanya ditopang oleh aliran modal ke instrumen finansial, ketahanannya akan lebih rentan ketika sentimen global berubah. Pun, kondisi industri domestik juga belum menunjukkan kestabilan untuk terus tumbuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














