Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktur Utama PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI) Irsyad Hanif kembali melakukan penjualan saham perusahaan. Di sisi lain, saham PPRI justru menguat signifikan.
Irsyad Hanif menjual 15 juta saham PPRI pada 5 Oktober 2026 di harga Rp 185 per saham. Dengan demikian, nilai transaksi penjualan tersebut mencapai sekitar Rp 2,78 miliar.
Sebelumnya, Irsyad juga menjual 3 juta saham PPRI pada 1 Oktober 2026 di harga Rp 148 per saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp 444 juta. Dengan dua transaksi tersebut, total saham PPRI yang dijual Irsyad mencapai 18 juta saham.
Baca Juga: Yield Obligasi AS dan Jepang Tinggi, Rupiah Dibayangi Pelemahan
Meski terdapat aksi penjualan saham oleh Direktur Utama, saham PPRI justru ditutup melonjak 34,78% atau 48 poin ke level Rp 186 per saham pada perdagangan 5 Oktober 2026. Sebelumnya, saham PPRI berada di level Rp 133 pada 30 September 2026.
Senior Technical Analyst, M. Nafan Aji Gusta menilai aksi penjualan saham oleh Direktur Utama perlu dicermati karena dapat menjadi sentimen negatif dari sisi psikologis investor, terutama apabila dilakukan berulang kali. Namun, aksi divestasi belum tentu mencerminkan pandangan negatif terhadap prospek fundamental perusahaan.
Menurut Nafan, investor perlu melihat tujuan transaksi, jumlah saham yang dilepas dibandingkan total kepemilikan, serta apakah terdapat perubahan material dalam prospek bisnis PPRI. Aksi penjualan saham juga dapat berkaitan dengan kebutuhan likuiditas maupun kepentingan pribadi pemegang saham.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,21%, Analis Cermati Peluang Penguatan pada Rabu (7/10)
Sementara itu, lonjakan saham PPRI sebesar 34,78% dinilai lebih mencerminkan kuatnya momentum perdagangan dan speculative buying. Kenaikan tersebut dapat dipengaruhi ekspektasi terhadap pemulihan kinerja perseroan, sentimen terhadap prospek industri kemasan dan kertas, maupun meningkatnya minat investor terhadap saham berkapitalisasi kecil.
Nafan menilai kenaikan harga PPRI tersebut belum dapat langsung dikatakan sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental. Investor masih perlu mencermati pertumbuhan pendapatan, margin laba, arus kas operasional, struktur utang, serta kemampuan perseroan meningkatkan utilisasi dan efisiensi produksi.
Apabila pertumbuhan laba dan arus kas belum menunjukkan akselerasi yang sebanding dengan kenaikan harga saham, valuasi PPRI berpotensi bergerak lebih cepat dibandingkan fundamentalnya.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Nafan merekomendasikan strategi sell on strength untuk saham PPRI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














