kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.007,14   -0,66   -0.07%
  • EMAS987.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Berusia 29 Tahun di Pasar Modal, Begini Kisah Bumi Resources Setelah IPO (Bagian 2)


Sabtu, 03 Agustus 2019 / 16:45 WIB
Berusia 29 Tahun di Pasar Modal, Begini Kisah Bumi Resources Setelah IPO (Bagian 2)


Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono triatmojo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Telah lebih dari seperempat abad PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi emiten di pasar modal. Tepatnya 29 tahun lalu atau pada 30 Juli 1990, saham Bumi Resources yang saat itu masih bernama PT Bumi Modern Tbk diperdagangkan di bursa efek.

Pasca proses initial public offering (IPO), masyarakat mengapit 29% saham BUMI dan 71% lainnya milik AJB Bumiputera 1912 (Bumiputera). Kondisi ini bertahan hingga tahun 1993, hingga akhirnya hadir PT Taspen (persero), PT Astek (persero) dan Pelician Holding Limited masuk sebagai pemegang saham BUMI.

Mengutip laporan keuangan BUMI tahun 1993, diceritakan bahwa pada Maret 1993 perusahaan ini menerbitkan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau biasa disebut rights issue. Artinya, tiga tahun pasca IPO, BUMI kembali memupuk modal dari pasar modal.

Lewat rights issue Maret 1993, BUMI menawarkan 10 juta saham baru, seharga Rp 2.900 per saham. Harga rights issue tersebut 35% lebih rendah ketimbang harga saham perdana (IPO) tiga tahun silam di level Rp 4.500 per saham. Dari rights issue ini, BUMI memperoleh dana segar Rp 29 miliar.

Baca Juga: Berusia 29 Tahun di Pasar Modal, Begini Kisah Bumi Resources (BUMI) Menjelang IPO

Seiring dengan aksi korporasi itu, saham BUMI yang dicatatkan pun bertambah dari sebelumnya 35 juta menjadi 45 juta saham. Aksi rights issue itu juga menambah daftar nama pemegang saham BUMI dengan masuknya Taspen, Astek dan Pelician Holding.

Per 31 Desember 2013, Taspen menggenggam 13,33% saham BUMI. Komposisi pemegang saham BUMI menjadi seperti berikut ini (lihat tabel).

Susunan Pemegang Saham BUMI per 31 Desember 1993
Nama Pemegang Saham Jumlah Saham Porsi Saham (%)
AJB Bumiputera 1912 26.178.100 58,17
PT Taspen (persero) 6.000.000 13,33
Pelican Holding Limited 4.800.000 10,67
PT Astek (persero) 4.000.000 8,89
Masyarakat 4.021.900 8,94

 

Rajin membagikan dividen

Dari sisi kinerja, bisnis perhotelan yang dijalankan BUMI di awal tahun 90-an sejatinya membukukan hasil yang menggembirakan. Aset BUMI yang utama saat itu adalah Hotel Hyatt Bumi Surabaya yang berubah nama menjadi Hyatt Regency Surabaya.

Hotel ini dikelola oleh Hyatt International Corporation yang merupakan operator hotel asal Chicago Amerika Serikat sesuai kesepakatan perjanjian menajemen tanggal 20 Oktober 1975. Perjanjian manajemen tersebut kemudian diubah pada 3 Agustus 1994.

Untuk pemasaran Hyatt International Corporation dikelola oleh Hyatt Worldwide Marketing Centre, untuk wilayah Asia Pasifik berkantor pusat di Hong Kong.

Hotel bertaraf internasional itu diresmikan oleh menteri perhubungan saat itu, Roesmin Noejadin pada Desember 1979. Saat diresmikan, pemegang saham Bumi Modern masih terdiri dari AJB Bumiputera 1912, Peter Sondakh dan H.A. Latief Thoyeb.

Baca Juga: OJK kembali semprit AJB Bumiputera, kali ini karena tak setor laporan keuangan

Pada tahun 1989, laba bersih Bumi Modern masih sebesar Rp 1,48 miliar. Adapun pada akhir tahun 1992 atau 2 tahun setelah IPO 1990, laba bersih BUMI naik 238,51% menjadi Rp 5,01 miliar.

Beberapa tahun pasca IPO tahun 1990, BUMI juga tidak pernah absen membagikan hasil keuntungan kepada perusahaan bagi pemegang sahamnya (dividen). Pada 5 Mei 1992, BUMI membagikan dividen untuk laba tahun 1991 sebanyak Rp 50 per saham atau senilai total Rp 1,75 miliar. Jumlah yang sama dibagikan BUMI, setahun berikutnya.

Maklum, lewat prospektus IPO tahun 1990, BUMI menyinggung soal pembagian dividen kepada calon investornya. Disebutkan dalam prospektus IPO bahwa perusahaan ini berencana membagikan dividen sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun.

Besar dividen yang akan dibagikan, tergantung dari laba bersih setelah pajak yang mereka peroleh. Sebagai ilustrasi, BUMI menyebut untuk laba bersih setelah pajak sampai dengan Rp 15 miliar, maka porsi dividen yang akan dibagikan berkisar 15% hingga 25%.

Sedangkan bila laba bersih setelah pajak yang mereka peroleh lebih dari Rp 15 miliar, maka porsi dividen yang dapat dibagikan adalah sebesar 26%-36%.

Simalakama bisnis perkantoran

Bisnis perhotelan di Indonesia semkin berkembang pesat. Demikian juga persaingan bisnis perhotelan yang BUMI miliki di Surabaya, kian mendapat pesaing yang kuat. Mau tidak mau, manajemen BUMI harus memikirkan cara lain untuk tetap meningkatkan pendapatannya.

Pada laporan keuangan BUMI tahun 1993, disebutkan bahwa perusahaan ini memperoleh pinjaman dari PT Bank Pan Indonesia (Bank Panin) guna mendanai pembangunan gedung perkantoran bernama Hyatt Skyline Building (Skyline Building) senilai US$ 4 juta.

Baca Juga: BUMN Mengajak Grup Sinarmas dan Panin Menyelamatkan Jiwasraya

Lalu pada 9 Juni 1994, BUMI kembali memperoleh fasilitas pinjaman dari Bank Panin (Grup Panin) guna membiayai pembangunan perkantoran Skyline. Pagu pinjaman proyek itu mencapai Rp 2,2 miliar dengan suku bunga super gede, yakni antara 18% hingga 21%. Jaminan pinjaman tersebut, salah satunya berupa jaminan pribadi dari Sri Hoedojo S, Presiden Direktur BUMI saat itu. 

Sebelumnya pada tanggal 28 November 1990, BUMI telah menandatangani perjanjian pengelolaan gedung perkantoran dengan Hyatt International - Asia Limited (d/h Hyatt of Hongkong Ltd). Lewat perjanjian tersebut, Hyatt International berhak memperoleh royalti dan management fee masing-masing sebesar 4% dan 1% dari jumlah pendapatan sewa kantor milik BUMI.

Hyatt Skyline Building mulai memberikan kontribusi pada tahun 1994, meski jumlahnya masih sangat mini dibandingkan usaha perhotelah BUMI saat itu. Dari total pendapatan BUMI tahun 1994 sebesar Rp 32,51 miliar, kontribusi gedung (Hyatt Skyline Building) masih sebesar Rp 1,15 miliar.

Menurut manajemen BUMI, dari total pendapatan sewa gedung yang sebanyak Rp 1,15 miliar tersebut, sebanyak 64%-nya bersumber dari penyewa yakni perusahaan penerbangan dan perusahaan asing lainnya.  

Terjerat utang bank

Namun sayang, sejak tahun 1994 BUMI mulai mencatatkan kerugian dari bisnis perhotelannya. Tahun 1994, BUMI membukukan rugi bersih Rp 11,52 miliar. Bandingkan dengan akhir tahun 1993, dimana BUMI masih mencetak laba bersih Rp 3,86 miliar.

Salah penyebabnya adalah beban bunga perbankan, khususnya untuk anggaran pembangunan Skyline Building.

Perlu dicatat, pada 25 Januari 1994, BUMI memperoleh sindikasi pinjaman perbankan US$ 4 juta, yang dikomandoi Bank Panin. Bank anggota sindikasi pinjaman itu terdiri dari PT Prima Express Bank, PT Nusa Bank Int., dan PT Jaya Bank Int.

Pinjaman berbunga 9,56% per tahun itu akan dilunasi dalam 10 kali angsuran mulai 21 September 1994.

Namun tak lama kemudian, atau pada 9 Juni 1994, BUMI justru kembali meminta pinjaman dengan jumlah maksimum Rp 2,2 miliar. Kali ini, pinjaman yang rencananya akan dilunasi dalam sembilan kali pembayaran itu mengenakan bunga pinjaman hingga 18% per tahun atau dua kali lipat dari besaran bunga pinjaman sebelumnya.

Kondisi keuangan BUMI menjadi tidak sehat. Pada akhir tahun 1994, jumlah aset BUMI tercatat sebesar Rp 231,02 miliar. Dari jumlah tersebut, ekuitas BUMI berjumlah Rp 92,40 miliar. Sedangkan kewajiban BUMI mencapai Rp 138,62 miliar, naik 15,71% dari tahun 1993 yang sebesar Rp 119,80 miliar.

Sri Hoedojo Sontokusumo Presiden Direktur BUMI dalam laporan keuangan tahun 1996 menegaskan, persaingan bisnis perhotelan sudah semakin ketat. Kata Sri Hoedojo, pertumbuhan hotel tahun 1995 mengalami peningkatan pesat, sementara jumlah konsumen tidak bertambah. Posisi Hyatt Regency kian terjepit dengan kehadiran Hotel Sheraton, Westin, Majapahit Mandarin, Mercure Grand di tahun 1996. Bisnis hotel di Surabaya, jelas Sri Hoedojo, mengalami over supply yang menyebabkan persaingan ketat.

Saat bisnis perhotelan BUMI semakin memburuk, pada tahun 1997 munculah PT Bakrie Capital Indonesia sebagai pemegang saham BUMI.

Prosesnya diawali saat pada 20 Juni 1997 atau 22 tahun yang lalu, PT Bakrie Capital Indonesia melakukan penawaran tender atas saham BUMI. Dari aksi ini Bakrie memperoleh 25% saham BUMI, yang terdiri dari saham milik Bumiputera dan masyarakat.

Selanjutnya pada 29 Agustus 1997, Bakrie kembali memperoleh 33,90% saham BUMI milik Bumiputera. Sehingga, Bakrie Capital Indonesia akhirnya mendekap 58,9% saham BUMI yang saat itu masih merupakan perusahaan yang bergerak di bisnis perhotelan dan pariwisata.

Baca Juga: Dorong penyelamatan, OJK carikan peluang bisnis affinity untuk AJB Bumiputera

Lantas, bagaimana perkembangan bisnis dan sepak terjang BUMI setelah masuk dekapan Grup Bakrie? Nantikan kelanjutannya di tulisan berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×