Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham emiten lapis kedua tampak tertekan di tengah gejolak pasar. Meskipun begitu, prospek kinerjanya diperkirakan masih menarik di sisa tahun 2026.
Saham emiten lapis kedua terus turun sejak awal tahun. Melansir data Bursa Efek Indonesia, IDX SMC Composite turun 12,41% year to date (YTD). IDX SMC Liquid juga turun 6,43% YTD.
Padahal, saham lapis kedua sempat naik tinggi di tahun 2025. Sebagai gambaran, per 30 Desember 2025, IDX SMC Composite dan IDX SMC Liquid masing-masing mampu naik 57,28% YTD dan 18,29% YTD.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menyebut, era saham lapis kedua sebenarnya belum selesai, tapi fasenya berubah.
Baca Juga: Cek Prospek Midi Utama (MIDI) Usai Raih Lonjakan Laba 45,01% pada 2025
Reli untuk saham lapis kedua di sepanjang tahun 2025 didorong likuiditas dan euforia. Sementara, pergerakan saham lapis kedua di tahun 2026 terkena normalisasi dan risk-off dari perang, kenaikan harga minyak, serta keluarnya dana asing.
“Akibatnya saham lapis kedua yang punya beta tinggi dengan likuiditas tipis yang paling tertekan. Koreksi banyak terjadi di properti, konstruksi, teknologi, dan saham ‘story-driven’,” katanya kepada Kontan, Rabu (25/3/2026).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan melihat, koreksi yang terjadi pada IDX SMC Composite dan IDX SMC Liquid di awal 2026 lebih mencerminkan sentimen negatif di pasar lantaran tekanan global. Sebut saja, kenaikan harga energi akibat perang AS-Iran, potensi inflasi, serta arah suku bunga global yang masih tinggi.
“Kondisi ini membuat saham lapis kedua yang sebelumnya naik signifikan di tahun 2025 menjadi sasaran profit taking,” katanya kepada Kontan, Rabu (25/3/2026).
Sepanjang awal 2026 ini, tekanan paling dalam terlihat pada saham di sektor teknologi, properti, dan konstruksi yang sensitif terhadap likuiditas dan suku bunga.
“Sementara secara fundamental tidak semua emiten mengalami penurunan kinerja,” ungkap David.
Di tahun 2026, prospek kinerja saham lapis kedua masih terbuka, tetapi cenderung selektif dan tidak merata.
Baca Juga: IHSG Naik 2,75% pada Perdagangan Rabu (25/3), Ini Faktor Pendukungnya
Liza melihat, pergerakan saham second liner masih ada peluang, tapi tidak broad-based lagi karena pasar lebih selektif.
Sektor yang masih menarik adalah komoditas emas, nikel, dan energi, sektor CPO dan agribisnis, serta sektor logistik atau industrial dengan kontrak jelas.
“Sektor yang bisa dihindari adalah yang punya valuasi mahal tanpa kinerja jelas, serta leverage tinggi tanpa arus kas,” tuturnya.
David bilang, kinerja emiten di tahun ini akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed, stabilitas harga komoditas, serta kondisi fiskal Indonesia.
Sektor berbasis komoditas energi masih diuntungkan dari harga yang tinggi. Sementara, sektor defensif seperti healthcare dan consumer dengan brand kuat tetap menunjukkan ketahanan di tengah volatilitas pasar.
“Sebaliknya, saham dengan model bisnis yang belum menghasilkan profit stabil cenderung masih tertinggal,” ungkapnya.
Dalam kondisi seperti ini, investor disarankan untuk lebih berhati-hati dan tidak lagi mengandalkan momentum semata. Pendekatan yang lebih relevan adalah stock picking berbasis fundamental, dengan fokus pada emiten yang memiliki arus kas kuat, laba yang konsisten, serta katalis yang jelas.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Teknikal BBRI, ANTM, ICBP untuk Kamis (26/3)
Menurut David, saham lapis kedua masih layak dikoleksi, namun harus melalui strategi akumulasi bertahap di area support, disertai manajemen risiko yang disiplin.
“Tahun 2026 menjadi fase di mana kualitas emiten akan lebih menentukan dibanding sekadar ukuran kapitalisasi,” ungkapnya.
David pun menyarankan investor untuk memperhatikan saham ITMG, PTBA, MEDC, AKRA, MIKA, HEAL, CMRY, dan MYOR.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan, saham lapis kedua masih sangat menarik untuk dilirik. Terutama saham yang punya fundamental dan arus kas kuat, sehingga memiliki potensi valuasi yang menarik di masa yang akan datang.
“Sektor infrastruktur, properti, dan teknologi akan merasakan tekanan yang paling besar di tahun ini,” katanya kepada Kontan.
Oleh karena itu, investor bisa melihat apakah perusahaan tersebut masih memiliki prospektif atau tidak. Sektor saham second liner yang masih menarik untuk diperhatikan adalah energi, basic materials, komoditas, consumer non-cyclical, dan kesehatan.
“Pilih fundamental yang kuat, bisnis yang menarik, arus kas yang kuat, utang yang rendah, dan sejalan dengan rencana bisnis dari pemerintah,” ungkapnya.
Nico pun merekomendasikan investor untuk melirik saham BUVA, CBDK, DEWA, JPFA, KAEF, LSIP, MYOR, PGEO, dan PGAS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













