kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.546.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Waspada! Yield SBN 10 Tahun Berpotensi Melonjak ke Level 7,8%


Jumat, 30 Oktober 2026 / 20:41 WIB
Waspada! Yield SBN 10 Tahun Berpotensi Melonjak ke Level 7,8%
ILUSTRASI. Suasana transaksi Surat Berharga Negara (SBN) di Treasury BSI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berpotensi melonjak hingga kisaran 7,8% dalam jangka pendek. Kenaikan ini dinilai menjadi bagian dari proses penyesuaian harga aset domestik untuk mengembalikan daya tarik investasi obligasi Indonesia di mata investor asing.

Asal tahu saya, yield SBN tenor 10 tahun saat ini sudah berada di level 7,6%. Pun, Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 10 tahun juga merangkak naik ke level 154,52 basis poin.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, kenaikan yield SBN perlu dilihat sebagai proses normalisasi harga aset Indonesia. Selama ini, yield domestik dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kombinasi risiko nilai tukar rupiah, kebutuhan pembiayaan eksternal, serta tingginya imbal hasil obligasi global.

Baca Juga: Ketegangan Geopolitik Memanas, Harga Minyak WTI Naik 15% Sepanjang Oktober

Menurut Fakhrul, yield domestik perlu diberi ruang untuk meningkat hingga menemukan tingkat keseimbangan pasar atau market-clearing level yang cukup menarik bagi investor asing.

Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran atau balance of payments (BoP). Sebab, Indonesia membutuhkan aliran modal masuk atau capital inflow untuk membiayai defisit transaksi berjalan serta kebutuhan investasi.

"Kalau yield terlalu rendah sementara rupiah masih berada di bawah tekanan, expected return investor asing menjadi kurang menarik," ujar Fakhrul kepada Kontan, Kamis (29/10/2026).

Fakhrul memperkirakan, yield SBN tenor 10 tahun masih berpotensi bertahan di kisaran 7,6%-7,8% dalam jangka pendek. Bahkan, yield dapat bergerak sedikit melampaui level tersebut apabila tekanan dari faktor global dan domestik masih tinggi.

Meski demikian, ia tidak melihat kisaran tersebut sebagai tingkat keseimbangan jangka panjang. Apabila yield mencapai 7,7%-7,8% dan mulai menarik minat investor asing, aliran modal masuk berpeluang kembali meningkat. Kondisi ini dapat membantu memperbaiki neraca pembayaran sekaligus menstabilkan rupiah.

Jika proses tersebut berjalan, yield SBN tenor 10 tahun berpeluang turun lagi ke kisaran 7,3%-7,5% pada akhir tahun.

Baca Juga: Indofood CBP (ICBP) Raup Pendapatan Rp 64,45 Triliun per September 2026, Tumbuh 15%

"Yield harus dilepas dulu agar capital flow kembali. Setelah capital flow kembali, yield bisa turun tanpa harus dipaksa," jelasnya.

Karena itu, area yield 7,7% ke atas justru dapat menjadi titik masuk atau entry point yang menarik bagi investor obligasi asing.

Untuk mengantisipasi gejolak pasar, Fakhrul melihat pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu membiarkan proses pembentukan harga atau price discovery berlangsung, sembari memastikan tidak terjadi dislokasi pasar.

Pemerintah perlu memberikan kejelasan terkait pasokan SBN, arah defisit anggaran, serta kebutuhan pembiayaan. Sementara itu, BI perlu menjaga likuiditas dan volatilitas rupiah tanpa menghalangi pasar menemukan tingkat yield yang sesuai dengan kondisi fundamental.

Selain itu, biaya lindung nilai atau hedging cost juga perlu dibuat lebih kompetitif. Dengan begitu, yield tinggi yang ditawarkan SBN dapat memberikan imbal hasil setelah lindung nilai (attractive hedged return) yang tetap menarik bagi investor asing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×