Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berlanjut.
Melansir data Bloomberg pada akhir perdagangan Senin (16/3/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 16.997 per dolar AS atau melemah 0,23% dibandingkan penutupan Jumat (13/3/2026) yang berada di Rp 16.958 per dolar AS.
Meski demikian, hari ini rupiah sempat jebol ke atas Rp 17.000 per dolar AS di tengah perdagangan. Pukul 12.30 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,28% ke level Rp 17.006 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Turun 1,61% Hari ini (16/3), Simak Pergerakannya pada Selasa (17/3)
Pakar Ekonomi Ferry Latuhihin menilai tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah muncul sebelum meningkatnya konflik geopolitik terbaru di Timur Tengah, antara Amerika Serikat dan Israil dengan Iran. Namun, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik tersebut memperparah tekanan terhadap perekonomian domestik.
“Dengan adanya perang Iran yang membuat harga minyak lari dari US$ 60 dolar per barel, menjadi ke atas US$ 100, tentu beban APBN yang sebelum perang sudah berat menjadi makin berat,” jelas Ferry saat dihubungi Kontan, Senin (16/3/2026).
Ferry menilai kondisi fiskal yang semakin tertekan dapat memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Jika pemerintah tidak mampu menjaga subsidi bahan bakar minyak (BBM), risiko lonjakan inflasi juga dinilai meningkat.
Dalam kondisi seperti ini, ia menilai ruang bagi BI untuk menopang rupiah melalui kebijakan moneter juga terbatas.
Pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 16 - 17 Maret 2026. Ferry menilai kenaikan atau menahan suku bunga belum tentu mampu meredam tekanan terhadap rupiah karena akar persoalannya dinilai lebih terkait dengan kebijakan fiskal daripada moneter.
“Apakah BI bisa membela rupiah lewat kenaikan suku bunga? Rasanya tidak mungkin. Sebab naiknya suku bunga akan membebani ekonomi yang sudah reyot,” jelasnya.
Ia juga menilai jika tekanan fiskal berlanjut, kepercayaan investor terhadap aset domestik berpotensi menurun. Kondisi tersebut dapat memicu arus keluar modal dan memperlemah rupiah lebih lanjut.
Baca Juga: Harga Emas Turun di Tengah Kekhawatiran Inflasi, Harga Minyak Tembus US$ 100
Bahkan, Ferry memperkirakan rupiah berpotensi menembus level Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat. “Saya kira besok juga bisa tembus Rp 17.000,” ujarnya.
Menurut Ferry, skenario terburuk dapat terjadi apabila peringkat kredit Indonesia mengalami penurunan hingga keluar dari kategori investment grade. Jika itu terjadi, biaya pendanaan pemerintah berpotensi meningkat signifikan, dan bahkan berpotensi tembus Rp 22.000 per dolar AS pada Juli 2026.
“Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun bisa naik hingga di atas 8%. Ekonomi kita bisa mengalami kontraksi sedikitnya 5%,” kata dia.
Lanjut Ferry, cara terbaik untuk mengembalikan epercayaan pasar terhadap rupiah adalah dengan memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Menurutnya, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menghentikan program MBG agar ruang fiskal lebih kuat, serta mengganti Menteri Keuangan Purbaya dengan figur yang dinilai lebih kredibel di mata investor.
Di sisi lain, upaya intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah juga dinilai memiliki keterbatasan. Hal ini terlihat dari pergerakan rupiah di pasar offshore yang sempat menembus level Rp 17.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













