Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin (16/3/2026) di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi global.
Lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah dinilai dapat menahan langkah bank sentral, termasuk Federal Reserve, untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Harga emas spot tercatat turun 0,3% menjadi US$ 5.001,61 per ons pada pukul 11.10 GMT. Sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April merosot 1,1% ke level US$ 5.007,20 per ons.
Analis Natixis, Bernard Dahdah, mengatakan fokus pasar emas kini bergeser dari dampak gangguan perdagangan di Selat Hormuz ke potensi inflasi jangka panjang.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$ 114 per barel, Bursa Global Berguguran
"Harga minyak yang lebih tinggi berarti inflasi meningkat. Kondisi ini bisa membuat The Fed menghentikan pemangkasan suku bunga," ujarnya.
Lonjakan harga minyak menjadi faktor utama yang menekan emas. Harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel, naik lebih dari 40% sepanjang bulan ini dan mencapai level tertinggi sejak 2022.
Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran mendorong Teheran menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global.
Presiden AS Donald Trump bahkan dilaporkan telah berbicara dengan tujuh negara sekutu untuk membantu mengamankan jalur tersebut, setelah serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan itu terus berlanjut.
Konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran kini telah memasuki pekan ketiga.
Baca Juga: Serangan Tanker di Pelabuhan Irak Picu Gangguan Energi, Harga Minyak Tembus US$100
Di sisi kebijakan moneter, perhatian pasar juga tertuju pada rapat dua hari Federal Reserve yang berlangsung pekan ini. Bank sentral AS secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Sejumlah bank sentral besar lainnya juga akan menggelar rapat kebijakan dalam waktu yang sama, termasuk European Central Bank, Bank of England, dan Bank of Japan.
Investor menanti pandangan para pembuat kebijakan terkait dampak perang Iran terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta arah kebijakan moneter ke depan.
Dalam catatannya, analis UBS memperkirakan bank sentral masih akan berhati-hati terhadap risiko inflasi tanpa langsung menaikkan suku bunga secara agresif.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, Saham Energi di BEI Berpotensi Diuntungkan
Namun UBS juga menilai konflik yang berkepanjangan antara AS dan Iran berpotensi menekan perekonomian global. Kondisi itu pada akhirnya bisa meningkatkan permintaan lindung nilai terhadap emas.
Sementara itu, harga logam mulia lainnya bergerak bervariasi. Perak spot turun 2,1% menjadi US$78,86 per ons. Sebaliknya, platinum naik 2,6% ke US$2.076,23 per ons, sedangkan paladium turun tipis 0,3% menjadi US$1.547,14 per ons.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













