Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan awal pekan ini. Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya sentimen risk off di pasar global.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah masih tergolong wajar karena tidak hanya dialami mata uang domestik, tetapi juga mata uang utama dan regional lainnya terhadap dolar AS.
“Wajar, mengingat seluruh mata uang baik regional maupun utama dunia melemah cukup tajam terhadap dolar AS, dipicu oleh sentimen risk off yang memburuk,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (9/3/2026).
Baca Juga: Rupiah Capai Rp 17.000 dan IHSG Anjlok, Analis Menyoroti Efeknya ke Fiskal Pemerintah
Ia menjelaskan, sentimen tersebut dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus level US$ 110 per barel. Kenaikan harga energi tersebut dikhawatirkan akan memberi dampak besar terhadap perekonomian global sekaligus mendorong inflasi semakin tinggi.
Menurut Lukman, kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan asetnya ke dolar AS yang dianggap lebih aman, sehingga menekan mata uang negara lain termasuk rupiah.
Dalam jangka pendek, ia memperkirakan pergerakan rupiah masih akan cukup volatile. Namun, upaya intervensi dari Bank Indonesia diperkirakan dapat membantu menahan pelemahan yang lebih dalam.
Baca Juga: Dampak Konflik Timur Tengah, Poundsterling Merosot Tajam
“Yang pasti volatile. Dengan upaya intervensi BI, dalam waktu dekat diperkirakan akan berkisar Rp 16.900-Rp 17.150 per dolar AS,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan sentimen global, terutama terkait pergerakan harga minyak dan arah kebijakan bank sentral yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













