Reporter: Alya Fathinah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Selasa (10/3). Penguatan mata uang Garuda ini didorong oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik, termasuk perkembangan geopolitik global serta data ekonomi dalam negeri.
Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 16.863 per dolar AS pada Selasa (10/3). Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan penguatan. Rupiah Jisdor tercatat menguat 0,56% secara harian menjadi Rp 16.879 per dolar AS pada hari yang sama.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen eksternal menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan rupiah terhadap dolar AS. Menurut dia, komunikasi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait upaya penyelesaian cepat perang Iran membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Baca Juga: Lewat Transformasi Bisnis, Kinerja TBS Energi Utama (TOBA) Potensi Membaik pada 2026
"Negara-negara G7 pada hari Senin mengatakan mereka siap untuk menerapkan "langkah-langkah yang diperlukan" sebagai respons terhadap melonjaknya harga minyak global, tetapi tidak sampai berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat," ujar Ibrahim pada Selasa (10/3/2026).
Selain faktor geopolitik, Ibrahim menambahkan bahwa kondisi cadangan devisa Indonesia juga menjadi perhatian pasar. Ia menyebut cadangan devisa sempat menyusut sebagai dampak dari eskalasi perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Meski demikian, Ibrahim menilai posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang cukup aman. Bank Indonesia juga sebelumnya menyatakan bahwa cadangan devisa yang ada masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.
Senada, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah terhadap dolar AS juga dipicu oleh meningkatnya optimisme investor. Sentimen positif tersebut muncul seiring dengan turunnya harga minyak dunia yang membantu meredakan tekanan inflasi global.
"Namun sentimen belum tentu bertahan, dan sentimen bisa kembali berbalik arah," kata Lukman.
Baca Juga: IHSG Diperkirakan Akan Kembali Menguat pada Perdagangan Rabu (11/3)
Ia menambahkan, dari sisi domestik, data penjualan ritel Indonesia yang tercatat lebih kuat dari perkiraan sebelumnya turut memberikan dukungan bagi penguatan rupiah.
Meski begitu, Lukman menilai pergerakan rupiah secara umum masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama perkembangan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan global.
Untuk perdagangan selanjutnya, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah akan cenderung fluktuatif namun masih berpotensi menguat. Ia memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 16.820 hingga Rp 16.870 per dolar AS.
Sementara itu, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang yang lebih lebar, yakni sekitar Rp 16.800 hingga Rp 16.950 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













