kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.924   11,92   0,20%
  • KOMPAS100 771   1,79   0,23%
  • LQ45 589   1,88   0,32%
  • ISSI 204   0,51   0,25%
  • IDX30 334   0,92   0,28%
  • IDXHIDIV20 413   1,96   0,48%
  • IDX80 88   0,34   0,39%
  • IDXV30 112   1,14   1,02%
  • IDXQ30 107   0,13   0,12%

Emiten Tambang Logam Masih Prospektif pada Semester II-2026, Ini Saham Pilihan Analis


Minggu, 12 Juli 2026 / 15:38 WIB
Emiten Tambang Logam Masih Prospektif pada Semester II-2026, Ini Saham Pilihan Analis
ILUSTRASI. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) (KONTAN/Muhammad Julian)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten sektor pertambangan logam, seperti PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Timah (Persero) Tbk (TINS), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dinilai masih menjanjikan hingga akhir 2026. 

Meski sempat menghadapi lonjakan biaya operasional akibat kenaikan harga energi pada kuartal II-2026, tekanan tersebut diperkirakan mulai mereda pada paruh kedua tahun ini seiring normalisasi pasokan minyak dunia.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan industri pertambangan merupakan sektor yang sangat intensif menggunakan bahan bakar, listrik, dan logistik. Sehingga, kenaikan biaya energi memang menjadi salah satu tekanan utama pada kuartal II-2026.

Oleh karena itu, penurunan harga energi berpotensi memperbaiki margin keuntungan emiten tambang.

Baca Juga: Kinerja Emiten Kontraktor Tambang Kuartal I-2026 Melemah Saat Harga Batubara Naik

"Apabila pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah kembali normal dan OPEC+ meningkatkan produksi, tekanan biaya operasional berpotensi berangsur mereda pada semester II-2026," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (10/7/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan harga sulfur yang masih tinggi akibat terganggunya jalur logistik di Selat Hormuz tetap menjadi tantangan. 

Menurutnya, kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya pengolahan bagi perusahaan yang menggunakan sulfur maupun asam sulfat dalam proses pemurnian mineral.

Walau begitu, dampaknya diperkirakan tidak sebesar tekanan yang berasal dari kenaikan harga energi. Sebab, bagi sebagian besar emiten tambang, biaya energi memiliki porsi yang lebih dominan dibandingkan sulfur.

Jika dibedah per emiten, Nafan menilai AMMN dan INCO menjadi emiten yang cukup sensitif terhadap perubahan biaya energi. Penurunan harga energi berpotensi meningkatkan profitabilitas AMMN di tengah ekspansi produksi Batu Hijau Fase 8 dan mulai beroperasinya smelter baru secara penuh.

Sementara itu, bagi INCO, efisiensi energi menjadi faktor penting untuk menjaga margin laba di tengah fluktuasi harga nikel global. Menurut Nafan, penggunaan energi alternatif seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA) juga menjadi keunggulan yang dapat membantu menekan biaya produksi.

Baca Juga: Regulasi Tambang Lebih Jelas, Sentimen Positif Mengalir ke Saham Emiten Nikel

Di sisi lain, emiten terintegrasi seperti ANTM dan INCO dinilai lebih mampu meredam dampak kenaikan harga sulfur melalui efisiensi operasional serta pemanfaatan sumber energi yang lebih murah.

Untuk prospek sektor secara keseluruhan, Nafan melihat masih terdapat sejumlah katalis positif yang dapat menopang kinerja emiten tambang logam hingga akhir tahun. 

Di antaranya potensi penurunan suku bunga acuan global yang dapat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, prospek permintaan logam untuk transisi energi, kendaraan listrik, dan pembangunan infrastruktur global, serta berlanjutnya program hilirisasi mineral di Indonesia.

Selain itu, potensi kenaikan harga emas di tengah ketidakpastian global diperkirakan akan menguntungkan ANTM. Sementara pemulihan harga nikel serta permintaan tembaga yang tetap kuat seiring ekspansi pusat data, elektrifikasi, dan pengembangan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi sentimen positif bagi sektor ini.

Namun, investor tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko, seperti perlambatan ekonomi global yang dapat menekan permintaan logam industri, fluktuasi harga komoditas akibat dinamika geopolitik, kenaikan kembali biaya energi.

Selain itu, investor perlu mencernati adanya perubahan regulasi pertambangan maupun kebijakan ekspor-impor, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya emiten yang masih memiliki komponen impor.

Dari sisi rekomendasi, Nafan memberikan rekomendasi add untuk saham ANTM dengan target harga Rp 3.430 per saham. 

Ia juga merekomendasikan accumulative buy untuk AMMN dengan target harga Rp 4.210 per saham, serta add untuk INCO dengan target harga Rp 5.625 per saham.

Baca Juga: Harga Nikel Melemah Awal Maret 2026, Prospek Emiten Tambang Tertekan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×