Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masing-masing individu tentu memiliki tujuan dan horizon investasi tersendiri dalam memilih aset investasi. Hal itu juga yang dipertimbangkan oleh Handy Juniandri dalam mengelola dana dan aset miliknya.
Direktur Utama PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) ini memutuskan menjadi investor konservatif dan memilih aset dengan waktu imbal hasil jangka panjang.
Lulus dari Universitas Widyatama Bandung pada tahun 2004, Handy langsung memulai karier di perusahaan multifinance. Tepatnya, saat itu dia bergabung dengan BFI Multifinance.
Baca Juga: Per Gram Rp 2.655.000, Cek Daftar Terbaru Harga Emas Antam Hari Ini, Minggu (12/7)
Setelah sekitar 10 tahun di industri multifinance, Handy kemudian sempat pindah ke industri BPR mulai tahun 2015. Kala itu dia masuk menjadi manager di BPR Kredit Mandiri Indonesia.
Dia pun sempat menjabat menjadi komisaris di BPR Gema Esamas Abadi pada periode 2023-2026. Pada periode 2020-2026, Handy juga menjabat sebagai komisaris Samir.
“Saya baru menjabat menjadi direktur utama Samir mulai tanggal 13 Mei 2026,” ujar Handy kepada Kontan, beberapa waktu lalu.
Mengenal Investasi Saat Jalani Karier
Pengetahuan tentang dunia investasi dikenal Handy sejak duduk di bangku kuliah. Dia mengambil jurusan Ekonomi Manajemen saat kuliah dulu. Namun, dia mengaku tak mendapat penjelasan gamblang terkait investasi dan praktiknya.
Justru, dia mulai memahami dan mengenal dunia investasi saat sedang menjalani karier profesional. Ketika sudah mulai bekerja, Handy mulai sadar bahwa dirinya harus mendalami dunia investasi untuk memetik hasilnya di masa tua kelak.
Baca Juga: Persaingan Bisnis Logam Mulia Meningkat, Jakarta Jadi Pasar Strategis
Saat bekerja di perusahaan multifinance pada sekitar 2007-2008, Handy mempunyai atasan yang berinvestasi di saham. Meskipun tak langsung tertarik berinvestasi di saham, tetapi Handy belajar banyak teori fundamental terkait investasi. Alasannya, karena saat itu dirinya masih fokus untuk menata karier.
“Saya waktu itu belum coba untuk mengambil produk. Saat itu hanya sekadar tes saja,” ungkapnya.
Pilih Emas dan Deposito BPR
Kemudian, saat tahun 2019, Handy baru mulai membeli produk investasi. Kala itu, dia memilih emas dan deposito BPR sebagai aset investasi.
Alasannya, bunga deposito BPR lebih besar daripada bank umum dan tetap aman karena terjamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Sementara, emas baru serius dicicil sekitar tahun 2023 saat dia baru memulai membangun rumah tangga. Alasannya adalah untuk menabung sisa dana setelah kebutuhan pokok terpenuhi. Handy menilai, bentuk aset yang paling aman untuk menyimpan dana adalah logam mulia.
Dia pun rajin untuk menambah kepemilikan emas, meskipun harganya tengah naik. Sebab, dia berprinsip bahwa investasinya di emas tidak untuk mencari untung dalam waktu dekat.
“Beda dengan deposito BPR yang lebih likuid dibandingkan emas,” kata Handy.
Baca Juga: Sering Dikaitkan dengan Kaesang Pangarep, Panca Mitra Multiperdana (PMMP) Buka Suara
Menurutnya, deposito BPR cocok untuk dipilih investor konservatif yang mengincar imbal hasil cukup tinggi. Ini lantaran imbal hasilnya bisa di kisaran 5%-6% per tahun, berbeda dengan deposito bank umum yang di kisaran 3%.
Namun, penting bagi investor untuk memilih BPR yang sehat untuk menghindari menjadi korban gagal bayar.
“Dari laporan keuangan yang dirilis, kita bisa lihat berapa persentase keberhasilan mereka dalam mengembalikan uang nasabah. Kalau perusahaannya sehat, uang simpanan kira juga bisa aman,” ungkapnya.
Belum Diversifikasi
Selain kedua instrumen tersebut, Handy juga memiliki aset properti, seperti rumah dan tanah.
Dengan pilihan aset investasinya saat ini, Handy mengaku belum mengalami kerugian sama sekali. Meskipun begitu, keuntungan yang dialaminya juga sesuai dengan pergerakan pasar secara umum.
Misalnya, keuntungannya di emas meningkat saat harga emas dunia naik. Imbal hasil deposito BPR juga sudah tetap, sehingga sudah bisa dihitung sejak awal menaruh dana.
“Namun, harga emas punya kecenderungan terus meningkat dan tak turun lagi,” katanya.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp 1,31 Triliun, Cermati Saham yang Banyak Dijual Selama Sepekan
Secara persentase, portofolio investasi Handy saat ini adalah 70% deposito dan 30% emas.
Ke depan, Handy juga belum berniat melakukan diversifikasi instrumen investasi. Dia hanya berniat untuk menambah kepemilikan di aset yang sudah dia punya.
Pilih Sesuai Profil
Sebagai investor konservatif, deposito dan emas dirasa sudah cocok dan sesuai dengan profil investasinya. Handy mempekerjakan uangnya dengan harapan bahwa hasil investasinya bisa dia gunakan untuk hidupnya di masa pensiun kelak.
“Harapannya, saat sudah tidak berkarier lagi, apa yang kami tanam hari ini bisa menjadi fondasi di masa pensiun,” kata Handy.
Handy pun menyarankan agar calon investor bisa menentukan tujuan investasi terlebih dulu sebelum memilih aset investasi. Jika tujuannya untuk investasi jangka panjang, aset logam mulia bisa dipertimbangkan.
“Sementara, jika butuh yang likuiditas tinggi, sebaiknya dana ditabung saja dulu sebelum memilih aset investasi,” tuturnya.
Baca Juga: Simak Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Senin (13/7)
Memilih aset investasi juga dinilai Handy tidak bisa sembarangan. Katanya, investor juga harus bijak dalam mengelola keuangan agar bisa sadar akan bahaya atau risiko dari suatu aset instrumen.
Jika seseorang memang masih sibuk bekerja dan sumber pemasukan hanya dari gaji bulanan, ada baiknya memilih aset yang low maintenance.
Jika berani mencoba aset lain yang lebih progresif, sebaiknya investor juga harus siap dengan risiko yang niscaya terjadi.
“Kalau mau aman, sisihkan dari gaji sekian persen, lalu masukan ke instrumen-instrumen yang aman,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














