Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham emiten pertambangan logam diperkirakan masih menarik hingga akhir 2026. Sejumlah analis melihat pemulihan produksi, berlanjutnya hilirisasi mineral, serta masih tingginya harga emas dan permintaan logam untuk transisi energi menjadi katalis yang dapat menopang kinerja emiten di sektor ini.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang dapat memengaruhi kinerja sektor pertambangan logam. Mulai dari fluktuasi harga komoditas global, perubahan kebijakan pertambangan dan hilirisasi, hingga perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi biaya energi.
Berikut rekomendasi saham sektor pertambangan logam sejumlah emiten oleh masing-masing analis untuk perdagangan Senin (13/7):
Baca Juga: MNC Energy Investments (IATA) Resmi Ganti Nama Jadi Karya Pacific Energy
1. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
Tahun 2026 menjadi titik balik penting bagi AMMN setelah transisi dari Batu Hijau Phase 7 ke Phase 8 selesai pada 2025. Dengan selesainya pengupasan lapisan penutup berkadar rendah (low-grade overburden), perusahaan memasuki siklus penambangan yang jauh lebih produktif. Phase 8 memiliki cadangan sebesar 442 juta ton, atau sekitar 63% dari total cadangan AMMN. Kami memperkirakan Phase 8 menghasilkan volume tambang sebesar 800 ribu dmt pada FY26, meningkat 79,1% YoY.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 6.500
Analis KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana
2. PT Timah (Persero) Tbk (TINS)
Selain bisnis utama di sektor timah, TINS juga mulai mengembangkan potensi bisnis logam tanah jarang (Rare Earth Elements/REE). Perseroan telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan PT Perusahaan Mineral Nasional (PERMINAS) melalui Conditional Framework bertajuk Sovereign Strategic Mineral Cooperation Framework Pengolahan Slag Timah, Monasit & REE/LTJ Bangka. Kerja sama tersebut berfokus pada pengolahan slag timah, monasit, serta logam tanah jarang di Bangka Belitung dan mulai berlaku efektif sejak 20 Mei 2026.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 4.230
Equity Research Analyst PT Binaartha Sekuritas Eka Rahmawati Rahman
3. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
Proyek pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa akan memanfaatkan bijih limonit dengan kandungan magnesium yang tinggi. Karakteristik ini memungkinkan konsumsi sulfur sekitar 27% lebih rendah dibandingkan pabrik HPAL lain di Indonesia. Kami juga menilai mitra INCO, Huayou, berpotensi memprioritaskan pengembangan proyek HPAL Pomalaa dibandingkan proyek lainnya. INCO juga mengungkapkan adanya kemungkinan pelonggaran kebijakan pemerintah, baik terkait Harga Patokan Mineral (HPM) maupun Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan nikel.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 9.500
Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra
4. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM)
Diperkirakan volume penjualan emas ANTM sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar 40 ton. Di saat yang sama, harga emas global masih bertahan di atas level US$ 3.000 per ons troi, sehingga menopang profitabilitas perseroan. Selain itu, volume penjualan bijih nikel diperkirakan meningkat seiring persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebesar 18,1 juta wet metric ton (wmt), lebih tinggi dibandingkan realisasi 16 juta wmt pada 2025. Tetapi potensi revisi RKAB pada pertengahan tahun dapat memicu volatilitas harga jual rata-rata average selling price (ASP) bijih nikel dalam jangka pendek.
Rekomendasi: Buy on Weakness
Target harga: Rp 3.000
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana
Baca Juga: Strategi Mayora Indah (MYOR) Hadapi Pelemahan Daya Beli Masyarakat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














