Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra International Tbk (ASII) memastikan akan terus mengandalkan tiga lini bisnis utamanya sepanjang tahun 2027, yakni sektor otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.
Ketiga sektor ini menyumbang sekitar 90% dari total laba perusahaan, sehingga menjadi prioritas utama dalam strategi bisnis ke depan.
Head of Corporate Investor Relations Astra International, Tira Ardianti mengatakan sejalan dengan fokus bisnis tersebut, alokasi belanja modal dan investasi perseroan juga akan diprioritaskan pada ketiga bisnis inti tersebut.
Salah satu langkah konkret yang mencerminkan strategi ini adalah rencana Astra untuk menambah kepemilikan sahamnya di PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) melalui skema Voluntary Tender Offer (VTO), dengan harga penawaran sebesar Rp 3.600 per saham. Apabila seluruh target saham dapat diperoleh, transaksi tersebut akan membutuhkan dana sekitar Rp 858 miliar.
Baca Juga: BI Rate Ditahan, Rupiah Spot Menguat 0,37% ke Rp 17.818 per Dolar AS pada Rabu (23/9)
Langkah ini sejalan dengan fokus perseroan untuk memperkuat tiga bisnis inti, khususnya bisnis otomotif melalui penguatan bisnis komponen
"Ini contoh konkrit Astra fokus pada bisnis inti. Astra melakukan investasi, dengan mengutamakan bisnis yang memiliki strategic fit dengan Astra, dan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang baik, serta dapat memperkuat ekosistem Astra," kata Tira di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Meski fokus utamanya tetap pada tiga sektor tersebut, Astra tidak menutup diri terhadap peluang investasi di luar bisnis inti atau wider businesses, selama peluang itu memenuhi kriteria investasi perusahaan. Namun, Tira menegaskan investasi pada portofolio di luar bisnis inti ini diperkirakan tidak akan dilakukan dalam skala yang besar.
Terkait nilai pasti investasi pada segmen tersebut, Tira belum bisa memberikan rinciannya lantaran masih dalam tahap pembahasan dan evaluasi internal.
Baca Juga: BEI Cabut Suspensi Saham Bakrie Sumatera Plantations (UNSP)
Prospek Astra
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan fokus ASII pada otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat cukup logis untuk memperkuat alokasi modal, karena tiga lini tersebut memang menjadi mesin utama laba grup.
"Strategi ini juga bisa membuat belanja modal lebih disiplin dan diarahkan ke bisnis yang sudah memiliki skala, ekosistem, serta competitive advantage yang kuat," ucap Elandry kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).
Namun, tantangannya adalah tiga bisnis tersebut tetap cukup siklikal, sehingga keberhasilan strategi hingga 2027 akan sangat bergantung pada kemampuan Astra menjaga keseimbangan antar segmen.
Pada semester I-2026 misalnya, laba otomotif masih tumbuh 9% dan jasa keuangan 6%, tetapi solusi pertambangan dan alat berat turun 46%. Ini menunjukkan diversifikasi antar tiga bisnis tetap penting untuk meredam siklus masing-masing sektor.
Ke depan, sentimen positif Astra utamanya berasal dari pemulihan penjualan kendaraan, daya beli yang membaik, pertumbuhan pembiayaan Astra Financial, serta normalisasi aktivitas pertambangan dan alat berat.
Baca Juga: Binance Investasi Umumkan Investasi Rp 1,78 Triliun di Circle buat Ekspansi USDC
Penjualan mobil Astra pada semester I-2026 sudah tumbuh 10% YoY, sementara bisnis jasa keuangan juga masih menunjukkan pertumbuhan laba. Share buyback hingga Rp 8 triliun di ASII juga menjadi tambahan sentimen positif dari sisi shareholder return.
Di sisi risiko, pelaku pasar perlu mencermati pelemahan daya beli, persaingan otomotif terutama dari jenama baru dan kendaraan listrik, suku bunga yang masih tinggi terhadap pembiayaan, serta volatilitas harga komoditas dan kebijakan pertambangan.
Semester I-2026 menunjukkan risiko tersebut cukup nyata karena laba bersih ASII turun 19% menjadi Rp12,5 triliun, terutama akibat melemahnya kontribusi bisnis pertambangan dan alat berat serta adanya non-recurring items.
Dari sisi rekomendasi saham, Elandry masih melihat prospeknya positif untuk jangka menengah hingga panjang, terutama jika pemulihan otomotif berlanjut dan kontribusi pertambangan mulai normal kembali.
Menurut Elandry, fokus Astra pada tiga bisnis inti berpotensi membuat penggunaan modal lebih efisien, sementara buyback juga memberikan support terhadap shareholder return. Namun investor tetap perlu memperhatikan recovery laba karena semester I-2026 belum sepenuhnya kuat.
Secara valuasi, ASII masih menarik untuk akumulasi atau buy on weakness, dengan target harga di kisaran Rp7.000–Rp7.300.
"Katalis menuju target tersebut terutama berasal dari recovery otomotif, pertumbuhan jasa keuangan, normalisasi bisnis alat berat dan pertambangan, serta disiplin capital allocation. Risiko utamanya tetap pelemahan konsumsi dan recovery sektor pertambangan yang lebih lambat dari perkiraan," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














