kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.887   62,00   0,35%
  • IDX 6.450   47,94   0,75%
  • KOMPAS100 831   1,62   0,20%
  • LQ45 631   -1,25   -0,20%
  • ISSI 227   4,63   2,08%
  • IDX30 352   -1,25   -0,35%
  • IDXHIDIV20 429   -1,46   -0,34%
  • IDX80 95   0,08   0,09%
  • IDXV30 119   0,94   0,79%
  • IDXQ30 112   -0,32   -0,28%

Astra International (ASII) Diproyeksi Moncer Semester II 2026, Ini Katalisnya


Selasa, 18 Agustus 2026 / 19:34 WIB
Astra International (ASII) Diproyeksi Moncer Semester II 2026, Ini Katalisnya
ILUSTRASI. Kinerja PT Astra International Tbk (ASII) diproyeksikan kembali menguat pada paruh kedua 2026 seiring membaiknya pasar otomotif (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Astra International Tbk (ASII) diproyeksikan kembali menguat pada paruh kedua 2026 seiring membaiknya pasar otomotif, ketahanan bisnis jasa keuangan, serta pemulihan operasional tambang emas Martabe.

Meski demikian, pelemahan daya beli dan risiko penurunan permintaan kendaraan masih menjadi perhatian bagi prospek bisnis perseroan.

Christopher Rusli, Analis Ciptadana Sekuritas Asia mencatat pendapatan semester I – 2026 ASII sebesar Rp 157,9 triliun, turun 3,0% secara year on year (yoy). Sementara laba bersih mencapai Rp 12,5 triliun (turun 19,2% yoy) yang sebagian terbebani oleh kerugian non-berulang sebesar Rp 2,4 triliun terkait penyesuaian nilai wajar dan penurunan nilai aset.

Meskipun demikian, kinerja ASII secara kuartalan membaik. Laba bersih kuartal II – 2026 mencapai Rp 6,7 triliun, naik 14,2% secara quarter on quarter (qoq), didukung oleh pendapatan otomotif yang lebih kuat.

Pendapatan sektor otomotif tercatat meningkat menjadi Rp 66,1 triliun, naik 5,9% yoy. Sementara laba bersih naik 9,4% yoy menjadi Rp 5,9 triliun. Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan penjualan kendaraan roda empat dan kontribusi yang kuat dari divisi Komponen.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Yuan dan Dolar Singapura Jadi Pilihan di Tengah Pelemahan DXY

Volume penjualan grosir kendaraan roda empat di Indonesia juga meningkat 15,9% yoy menjadi 436.564 unit. Adapun penjualan Astra naik 10% yoy menjadi 222.000 unit, sehingga menghasilkan pangsa pasar sebesar 51%.

“Kami memperkirakan kinerja ASII akan membaik pada semester II – 2026, didukung oleh volume otomotif yang lebih kuat, layanan keuangan yang tangguh, dan normalisasi operasional tambang emas Martabe,” ujar Christopher dalam risetnya pada 10 Agustus 2026.

Christopher menilai pemulihan pasar kendaraan roda empat (4W) Indonesia berpotensi menopang peningkatan penjualan kendaraan, pembiayaan otomotif, serta permintaan komponen dan produk aftermarket.

Di sisi lain, operasional tambang emas Martabe yang kembali berjalan pada kuartal II – 2026 diperkirakan memberikan dorongan terhadap pemulihan penjualan emas dan pendapatan dari segmen Heavy Equipment, Mining, Construction & Energy (HEMCE) pada semester II – 2026.

Segmen Layanan Keuangan juga diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang pendapatan ASII. Pada semester I – 2026, laba bersih segmen tersebut meningkat 6% yoy menjadi Rp 4,6 triliun. Pertumbuhan itu didukung oleh pembiayaan konsumen baru yang naik 10% yoy menjadi Rp 61,8 triliun.

Tiga Mesin Pertumbuhan Astra

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, prospek kinerja ASII hingga akhir tahun terbilang solid dengan strategic review yang memfokuskan tiga mesin pertumbuhan inti. Yakni Automotive, Financial Services, dan HEMCE, yang bersama-sama berkontribusi sekitar 90% laba grup.

“EPS growth tahun 2026 – 2028 (FY26-28F) diproyeksikan tetap solid di 28,4%, dengan katalis tambahan dari ekspansi auto parts dan diversifikasi UNTR ke metallurgical coal,” ujar Abida kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).

Baca Juga: ETF Emas Dapat Menjadi Pilihan Diversifikasi Portofolio di Tengah Harga Emas Tinggi

Meski prospek pertumbuhan masih positif, Abida melihat terdapat dua risiko utama bagi ASII. Pertama, pelemahan rupiah yang dapat meningkatkan harga kendaraan dan komponen impor sehingga berpotensi menekan daya beli. Kedua, daya beli masyarakat yang masih rentan akibat suku bunga tinggi yang membebani cicilan kredit kendaraan bermotor.

Di sisi lain, sejumlah sentimen positif berpotensi menopang saham ASII. Abida mencermati rencana buyback saham senilai Rp 8 triliun dalam 12 bulan ke depan yang menciptakan demand non-discretionary, dividend payout ratio sebesar 45%-50% yang memberikan yield menarik, serta ambisi TSR low-teens yang jauh lebih tinggi dibandingkan annualized return 10 tahun terakhir yang hanya sekitar 6%.

“Sentimen negatif, pelemahan rupiah dan daya beli yang masih menjadi risiko utama versi manajemen sendiri,” terang Abida.

Persaingan Mobil 4W Astra

Sementara itu, UBS Sekuritas Indonesia turut mencermati perkembangan persaingan kendaraan roda empat di Indonesia melalui pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Pengamatan tersebut dilakukan untuk mengukur lanskap persaingan 4W serta dampaknya terhadap bisnis 4W Astra dalam 12 bulan ke depan.

Temuan UBS Sekuritas Indonesia menunjukkan risiko persaingan terhadap pangsa pasar 4W Astra relatif stabil. Bahkan, tingkat risiko secara keseluruhan dinilai relatif menurun dibandingkan tren jangka panjang sejak pameran otomotif 2024.

“Pada GIIAS 2026, kami mencatat peningkatan program pembelian kembali 4W dari para pemain lama (Toyota, Hyundai, Mitsubishi) yang sebagian besar tidak ada pada GIIAS 2024-2025,” ujar Igor Putra, Analis UBS Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada 10 Agustus 2026.

Igor menilai program pembelian kembali kendaraan tidak hanya ditawarkan oleh produsen kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) asal China. Menurut dia, Original Equipment Manufacturer (OEM) lama juga berpotensi mengikuti strategi tersebut.

 

Igor juga melihat divisi pembiayaan Astra, PT Astra Sedaya Finance (ASDF), tengah menguji pasar pembiayaan BEV melalui program pembiayaan baru untuk merek BYD.

Menurut Igor, risiko persaingan dari BEV China masih relatif stabil, sejalan dengan penjualan BEV di Indonesia yang juga cenderung stabil. UBS Sekuritas Indonesia melihat perang harga yang terbatas sejak masuknya BEV pada 2024, antara lain karena fokus ekspor Indonesia dan basis pembeli yang masih terbatas di kota-kota tingkat 1.

“Astra telah mempertahankan pangsa pasar 4W sebesar 51% - 56% sejak tahun 2024 dengan margin ekosistem 4W yang baru-baru ini menguat,” ucap Igor.

Proyeksi Laba ASII 2026

Christopher memproyeksikan pendapatan dan laba bersih ASII tahun 2026 masing – masing mencapai Rp 319,35 triliun dan Rp 31,40 triliun. Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 ASII mengantongi pendapatan Rp 323,40 triliun dan laba bersih Rp 32,77 triliun.

Dari sisi rekomendasi saham, Christopher, Igor, dan Abida sama-sama merekomendasikan Buy saham ASII. Target harga yang diberikan masing-masing analis adalah Rp 6.400 per saham, Rp 7.380 per saham, dan Rp 6.850 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×