Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Astra International Tbk (ASII) hingga akhir 2026 diperkirakan tetap positif, didorong oleh berlanjutnya pemulihan pasar otomotif nasional.
Meski pertumbuhan penjualan mobil Astra masih berada di bawah laju pasar nasional, dominasi pangsa pasar di atas 50% dinilai menjadi modal kuat untuk menjaga kinerja, dengan dukungan bisnis pembiayaan, asuransi, komponen, hingga layanan purnajual.
Berdasarkan data semester I-2026, penjualan mobil Astra mencapai 222.371 unit atau naik 10% secara tahunan (YoY).
Pada periode yang sama, penjualan mobil nasional tumbuh lebih tinggi, yakni 16% YoY menjadi 436.567 unit. Capaian tersebut membuat pangsa pasar Astra tetap bertahan di atas 50%.
Baca Juga: Prospek Astra International (ASII) Dinilai Masih Menarik, Ini Rekomendasi Analis
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai posisi tersebut memberi keuntungan bagi Astra untuk menangkap pemulihan permintaan kendaraan pada paruh kedua tahun ini.
Menurutnya, pangsa pasar yang tetap di atas 50% menjadi modal kuat bagi Astra untuk memanfaatkan pemulihan permintaan otomotif.
Ia menjelaskan, dominasi pangsa pasar tidak hanya menopang penjualan kendaraan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap bisnis pembiayaan, asuransi, komponen, serta layanan purnajual yang menjadi bagian dari ekosistem bisnis Astra.
Meski begitu, Ekky mengingatkan bahwa pertumbuhan penjualan Astra yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pasar nasional menunjukkan persaingan di industri otomotif semakin ketat.
Kompetisi terutama datang dari produsen kendaraan listrik dan hybrid yang terus memperluas pasar.
Untuk semester II-2026, ia melihat sejumlah katalis masih dapat menjaga momentum pertumbuhan ASII.
Baca Juga: Astra International (ASII) Kuasai 49% Pangsa Pasar Otomotif pada Awal 2026
Di antaranya berlanjutnya pemulihan daya beli masyarakat, peluncuran model baru, penyelenggaraan pameran otomotif, serta meningkatnya permintaan kendaraan hybrid.
Selain itu, ekosistem bisnis Astra yang terintegrasi dinilai mampu memberikan kontribusi silang antarsegmen usaha.
Di sisi lain, sejumlah tantangan masih perlu diwaspadai. Mulai dari suku bunga yang masih relatif tinggi, tekanan terhadap daya beli masyarakat, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga persaingan harga yang semakin agresif di industri otomotif.
Ekky juga mengingatkan bahwa kinerja konsolidasi Astra tidak hanya bergantung pada bisnis otomotif.
Pelemahan harga komoditas serta menurunnya kontribusi bisnis alat berat dan pertambangan melalui United Tractors masih berpotensi membatasi pertumbuhan laba perseroan.
Secara keseluruhan, ia menilai prospek ASII tetap positif, meski pertumbuhan laba diperkirakan berlangsung moderat. Pemulihan bisnis otomotif dan jasa keuangan masih menjadi penopang utama, sementara segmen alat berat dan pertambangan menjadi faktor risiko yang perlu dicermati.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham dan Prospek Astra International (ASII) di Tahun 2026
Dari sisi investasi, Ekky merekomendasikan strategi trading buy atau buy on weakness untuk saham ASII. Secara teknikal, level Rp 5.000 menjadi resistance terdekat.
Apabila mampu ditembus dengan didukung volume transaksi yang kuat, saham ASII berpeluang menguat menuju kisaran Rp 5.400-Rp 5.600 per saham, dengan target lanjutan di area Rp 6.000-Rp 6.100 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














