kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.683   97,00   0,55%
  • IDX 6.547   -176,52   -2,63%
  • KOMPAS100 867   -26,60   -2,98%
  • LQ45 644   -13,66   -2,08%
  • ISSI 237   -6,40   -2,64%
  • IDX30 365   -6,15   -1,66%
  • IDXHIDIV20 451   -4,48   -0,98%
  • IDX80 99   -2,74   -2,69%
  • IDXV30 127   -2,26   -1,75%
  • IDXQ30 118   -1,34   -1,12%

Anjlok 1,8% sesi I, IHSG kena dampak aksi jual glo


Rabu, 23 September 2015 / 12:25 WIB


Reporter: Barratut Taqiyyah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tak berkutik. Bahkan pada penutupan sesi I hari ini (23/9), indeks mengalami tekanan hingga 1,8% menjadi 4.265,69.

Ada 182 saham yang tertekan. Sementara, jumlah saham yang naik sebanyak 68 saham dan 61 saham lainnya diam di tempat. Volume transaksi siang ini melibatkan 3,687 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2,377 triliun.

Secara sektoral, terdapat sembilan sektor yang memerah. Tiga sektor dengan penurunan terdalam yakni sektor industri lain-lain yang turun 3,37%, sektor keuangan turun 2,66%, dan sektor manufaktur turun 2,05%. Sedangkan satu-satunya sektor yang berhasil naik adalah sektor pertambangan sebesar 0,06%.

Aksi jual aset-aset berisiko semakin meningkat pada Rabu (23/9). Penyebabnya adalah data awal indeks manufaktur China yang menunjukkan level terendah dalam 6,5 tahun terakhir.

Siang ini, indeks acuan Asia menuju penurunan tiga harian terbesar sejak Agustus lalu. Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 11.17 waktu Hong Kong, indeks MSCI Asia Pacific -di luar indeks Jepang- turun 2,2%.

Sementara itu, indeks Hang Seng China Enterprises turun 3,5% dan indeks Shanghai Composite tertekan 1,9%. Adapun indeks Kospi Korea Selatan turun 1,3%. Sedangkan indeks acuan di Indonesia, Taiwan, dan Malaysia seluruhnya turun setidaknya 1,2%.

Berdasarkan data awal yang dirilis Caixin Media and Markit Economics pada hari ini (23/9), Purchasing Manager's Index (PMI) bulan September berada di level 47. Angka ini di bawah estimasi analis yang disurvei Bloomberg yang mematok angka 47,5. Indeks manufaktur yang berada di bawah level 50 mengindikasikan adanya kontraksi.

"Data awal manufaktur ini merupakan konfirmasi dari kecemasan yang memang sudah dirasakan market terhadap China. Bahkan faktanya, ekonomi China lebih buruk dari prediksi. Selain itu, banyak ketidakpastian lain seperti bagaimana kondisi ekonomi China sebenarnya," jelas Emma Lawson, senior currency strategist National Australia Bank Ltd di Sydney.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×