Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berdasarkan data Trading Economics pada perdagangan Kamis (9/7/2026) pukul 15:01, harga emas global kembali bergerak menguat ke level US$ 4.106,11 per ons troi atau naik 0,76% dengan kenaikan sebesar US$ 30,83.
Meskipun secara tahunan (Year on Year/YoY) komoditas safe haven ini masih melesat tinggi hingga 23,58%, harga emas sebenarnya masih mencatatkan koreksi berjalan dari awal tahun (Year to Date/YTD) sebesar 4,90%.
Penguatan harian ini dinilai sebagai fase technical rebound yang wajar setelah beberapa hari sebelumnya harga emas sempat tertekan cukup dalam hingga sempat menyentuh area US$ 4.000 per ons troi.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, mengungkapkan bahwa di level psikologis tersebut, aksi beli mulai marak kembali karena investor melihat valuasi harga emas sudah menjadi jauh lebih menarik.
Baca Juga: Strategi Masuk Pasar Emas di Semester II-2026: Batasi Portofolio Maksimal 20%
"Secara jangka pendek, emas justru sedang mengalami fase koreksi atau diskon sekitar 12% dari puncaknya, sehingga kondisi ini lebih sebagai fase konsolidasi setelah reli panjang yang sangat kuat," ujar Brahmantya kepada Kontan, Rabu (8/7/2026).
Faktor geopolitik terbaru seputar pernyataan Donald Trump yang menekan Iran turut mengerek minat investor, walaupun ruang kenaikan emas dinilai masih terbatas akibat kuatnya permintaan dolar AS sebagai petrodollar.
Oleh karena itu, Brahmantya menilai kuartal III-2026 ini menjadi periode yang sangat ideal bagi investor ritel jangka panjang untuk mulai masuk ke pasar melalui strategi akumulasi bertahap.
"Strategi yang paling tepat saat ini adalah buy on weakness, bukan membeli sekaligus dalam jumlah besar, baik melalui emas fisik untuk pelindung nilai maupun emas futures bagi investor aktif," ujar Brahmantya.
Baca Juga: Teknologi Kian Canggih, Trading Emas Diprediksi Makin Semarak
Tekanan yang membayangi emas saat ini murni karena keperkasaan USD dan proyeksi suku bunga tinggi, bukan karena rusaknya fundamental komoditas mulia tersebut.
Pada paruh kedua tahun ini, Brahmantya memproyeksikan pergerakan harga emas masih akan diwarnai volatilitas tinggi dengan batas support kuat di kisaran US$ 3.600 – US$ 3.900 per ons troi atau setara Rp 2 juta – Rp 2,3 juta per gram di pasar domestik.
"Apabila The Fed mulai memberi sinyal pelonggaran kebijakan atau ketegangan geopolitik kembali meningkat, emas berpotensi menguji kembali area resistance tersebut," pungkasnya.
Sebaliknya, jika dolar terus menguat karena ekspektasi suku bunga tinggi dan permintaan terhadap USD sebagai petrodollar tetap besar, kenaikan emas kemungkinan masih akan tertahan.
Baca Juga: Mengintip Prospek Komoditas Emas Semester II-2026 di Tengah Badai Volatilitas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














