Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aktivitas penghimpunan dana melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue kembali menunjukkan geliat di pasar modal Indonesia.
Sejumlah emiten mulai menyiapkan aksi korporasi untuk memperoleh tambahan modal yang akan digunakan memperluas bisnis, mendanai ekspansi, mengembangkan lini usaha baru, hingga memperkuat struktur permodalan.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas penggalangan dana di pasar modal sepanjang 2026. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan rights issue masih menjadi salah satu instrumen yang banyak dimanfaatkan emiten untuk mendukung strategi pertumbuhan jangka panjang.
Salah satu emiten yang baru mengumumkan rencana rights issue adalah PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK). Perseroan membidik dana hingga Rp 500 miliar untuk mempercepat ekspansi di sektor manufaktur, kendaraan listrik, serta memperluas portofolio bisnis pertambangan.
Dari total dana yang dihimpun, sekitar Rp 200 miliar atau 40% akan disalurkan kepada anak usaha PT Pilar Pratama Dinamika guna memperkuat struktur permodalan sekaligus meningkatkan kapasitas operasional.
Selanjutnya, sekitar Rp 170 miliar akan dialokasikan untuk pembangunan fasilitas assembling plant, sementara Rp 80 miliar digunakan mengembangkan bisnis kendaraan listrik. Adapun Rp 50 miliar sisanya akan dimanfaatkan untuk mengakuisisi perusahaan jasa pertambangan.
Baca Juga: Watchlist S&P DJI Bikin Asing Tahan Masuk, Saham Bank Besar Masih Tertekan
Di sisi lain, PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) segera melaksanakan rights issue dengan menerbitkan 10,68 miliar saham baru. Perseroan menetapkan harga pelaksanaan Rp 120 per saham, sehingga berpotensi menghimpun dana sekitar Rp 1,28 triliun.
Mayoritas dana hasil rights issue COCO akan digunakan untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi, produsen makanan ringan merek Momogi. Sementara sisanya akan dialokasikan sebagai modal kerja, termasuk untuk riset dan pengembangan produk, pembelian bahan baku, serta kegiatan pemasaran.
Sementara itu, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) juga bersiap menggelar rights issue setelah memperoleh restu pemegang saham. Perseroan akan menerbitkan maksimal 89,92 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 53 per saham.
Dengan harga tersebut, BNBR berpotensi meraup dana sekitar Rp 4,76 triliun. Sebagian besar dana akan disalurkan kepada PT Bakrie Technologies Industries untuk melunasi pinjaman kepada Hartman International Pte. Ltd.
Selain NTBK, COCO, dan BNBR, emiten lain seperti PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) dan PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) juga telah memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan rights issue dan tinggal menunggu pelaksanaan aksi korporasi tersebut.
Rights Issue Masih Mendominasi Pipeline OJK
Maraknya rights issue turut tercermin dari data OJK. Hingga akhir Juni 2026, total penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal telah mencapai Rp 112,67 triliun dari berbagai aksi penawaran umum.
Baca Juga: IHSG Memerah ke 5.863 Awal Perdagangan Kamis (9/7), Berlawanan dengan Bursa Asia
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menjelaskan, dana tersebut berasal dari tujuh penawaran umum perdana saham (IPO), 12 penawaran umum terbatas (PUT), sembilan EBUS, dan 98 PUB EBUS.
“Sampai dengan 30 Juni 2025, pada pipeline OJK masih terdapat 11 rencana penawaran umum dengan nilai indikatif Rp 15,84 triliun," jelas Hasan dalam konferensi pers, Selasa (7/7).
Dalam pipeline tersebut, terdapat lima perusahaan yang berencana melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan potensi penghimpunan dana mencapai Rp 10,45 triliun. Jumlah tersebut menjadikan rights issue sebagai aksi korporasi yang paling dominan dibandingkan instrumen penghimpunan dana lainnya.
Aktivitas rights issue juga masih berlanjut di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga 8 Juli 2026, tercatat empat perusahaan telah merealisasikan rights issue dengan total nilai mencapai Rp 3,89 triliun.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin mengatakan masih terdapat satu perusahaan yang masuk dalam pipeline rights issue di Bursa. Emiten tersebut berasal dari sektor properti dan real estat.
"Per 8 Juli 2026 telah terdapat empat perusahaan tercatat yang menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp 3,89 triliun. Sementara masih terdapat satu perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue BEI," ujar Saidu, Rabu (8/7/2026).
Analis: Perhatikan Tujuan Penggunaan Dana
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai investor perlu mencermati tujuan penggunaan dana hasil rights issue sebelum mengambil keputusan investasi.
Menurut Nafan, pasar umumnya memberikan respons positif terhadap rights issue yang digunakan untuk mendukung ekspansi usaha dan menciptakan pertumbuhan bisnis di masa depan.
Baca Juga: IHSG Turun ke 5.863 Awal Perdagangan Kamis (9/7) Pagi, Bursa Asia Justru Menghijau
Untuk saham COCO, Nafan memberikan rekomendasi speculative buy dengan target harga Rp 358 per saham. Ia menilai sentimen rights issue menjadi salah satu faktor yang menopang lonjakan harga saham emiten tersebut.
Pada perdagangan Rabu (8/7/2026), saham COCO ditutup di level Rp 278 per saham, turun 2,80% dibandingkan penutupan sebelumnya. Meski demikian, dalam sepekan terakhir saham COCO masih melesat 117,19%.
"Tren penguatan harga saham COCO dipengaruhi sentimen rights issue senilai Rp1,28 triliun. Sebagian besar dana akan digunakan untuk mengakuisisi PT Sari Murni Abadi, produsen makanan ringan merek Momogi," katanya kepada Kontan, Rabu (8/7/2026).
Selain COCO, Nafan juga merekomendasikan speculative buy untuk saham BNBR dengan target harga Rp 160 per saham. Ia menilai rights issue BNBR berpotensi memperkuat struktur pendanaan grup apabila realisasi penggunaan dana berjalan sesuai rencana.
"Rights issue BNBR akan memperkuat struktur pendanaan melalui entitas anak. Selama penggunaan dana berjalan sesuai rencana, sentimen terhadap saham berpeluang tetap positif," ujar Nafan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














