kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.135   100,00   0,55%
  • IDX 5.912   39,07   0,67%
  • KOMPAS100 769   5,82   0,76%
  • LQ45 587   4,49   0,77%
  • ISSI 203   0,67   0,33%
  • IDX30 333   2,19   0,66%
  • IDXHIDIV20 411   0,93   0,23%
  • IDX80 88   0,82   0,94%
  • IDXV30 111   0,16   0,14%
  • IDXQ30 107   0,26   0,24%

Rupiah Anjlok ke Rp 18.128, Sentimen Domestik dan Eksternal Kompak Membebani


Kamis, 09 Juli 2026 / 16:14 WIB
Rupiah Anjlok ke Rp 18.128, Sentimen Domestik dan Eksternal Kompak Membebani
ILUSTRASI. Rupiah Kembali Melemah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot mendapat tekanan hebat hingga akhir perdagangan hari ini. Selain dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global, pengamat juga menyoroti sejumlah indikator ekonomi domestik.

Mengutip data Bloomberg, Kamis (9/7/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 18.128 per dolar AS. Ini membuat rupiah melemah 0,63% dibandingkan dengan penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 18.014 per dolar AS.

Sejalan dengan itu, kurs rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) juga sama-sama mengalami pelemahan sebesar 0,47% secara harian menjadi Rp 18.090, dari penutupan hari sebelumnya Rp 18.005 per dolar AS.

Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 0,67% ke 5.912 pada Kamis (9/7), DEWA, BRPT, ESSA Top Gainers LQ45

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah hari ini dipicu kombinasi sentimen domestik dan eksternal yang masih membebani minat investor terhadap aset berisiko dan mata uang emerging market termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, menurut Ibrahim, pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada semester I-2026 turut menjadi perhatian pasar. 

APBN 2026 tetap difokuskan untuk mendukung berbagai agenda prioritas nasional, seperti ketahanan pangan dan energi, program Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, pembangunan desa, pemberdayaan UMKM, penguatan sistem pertahanan, hingga percepatan investasi dan perdagangan.

Sementara itu, sentimen indeks konsumen merosot untuk bulan kedua berturut-turut pada bulan Juni, mencapai titik terlemahnya sejak September lalu. Bank Indonesia melaporkan hasil Survei Konsumen periode Juni 2026 yang mengindikasikan adanya penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional. 

"Koreksi ini terlihat dari tren pelemahan indeks utama maupun seluruh komponen penyusunnya yang kompak bergerak melandai menjelang penutupan semester pertama tahun ini," ujar Ibrahim, Kamis (10/7/2026).

Baca Juga: BEI Umumkan 327 Emiten Belum Memenuhi Ketentuan Minimal Free Float 15%

Berdasarkan data makro yang dirilis bank sentral, angka Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 bertengger di level 117,8. 

Realisasi tersebut menunjukkan penurunan yang konsisten jika dibandingkan dengan pencapaian pada Mei 2026 yang sempat berada di level 120,9, atau posisi awal tahun pada Januari 2026 yang sempat perkasa di level 127,0.

Dari eksternal, tekanan terhadap rupiah datang dari meningkatnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah. Ibrahim menyoroti ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah menyatakan berakhirnya gencatan senjata. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan dan keamanan jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz.

Selain itu, risalah rapat Federal Reserve (The Fed) periode Juni juga masih menunjukkan kekhawatiran para pejabat bank sentral AS terhadap inflasi yang bertahan tinggi. 

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuka peluang suku bunga AS tetap tinggi lebih lama apabila tekanan inflasi belum mereda, sehingga menopang penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.

Untuk perdagangan Jumat (10/7), Ibrahim menilai pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan konflik geopolitik serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Meski demikian, ia menilai keyakinan konsumen Indonesia yang masih berada di zona optimistis, di atas ambang batas 100, dapat menjadi salah satu faktor penahan tekanan yang lebih dalam terhadap rupiah.

Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 18.120 hingga Rp 18.180 per dolar AS pada perdagangan Jumat (10/7).

Baca Juga: BEI: Emiten dalam Daftar HSC Berkurang Jadi 14 Perusahaan pada Awal Juli 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×