Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diproyeksikan memasuki fase produksi paling menguntungkan di tambang Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat (NTB). Peningkatan kadar bijih tambang, optimalisasi fasilitas pengolahan, serta meredanya belanja modal berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
Analis CGS International Sekuritas Joanne Ong dalam riset 9 Oktober 2026 menilai, AMMN mulai memperoleh manfaat dari fase kedua penambangan tahap 8 atau Phase 8 yang dimulai pada Mei 2025. Pada tahun pertama, aktivitas penambangan lebih banyak berfokus pada pengupasan material penutup (waste removal) dan pengambilan bijih di area luar tambang yang memiliki kadar lebih rendah.
Memasuki tahun kedua, produktivitas penambangan diperkirakan meningkat seiring dengan kadar bijih yang lebih tinggi dan produksi yang lebih konsisten. Kondisi tersebut, ditambah prospek harga tembaga yang positif, menjadi salah satu penopang kinerja AMMN.
Baca Juga: Ekspor MHP Jadi Katalis Harum Energy (HRUM), Simak Rekomendasi Sahamnya
Joanne memperkirakan pendapatan AMMN tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk alias compound annual growth rate (CAGR) sebesar 10% pada periode tahun buku 2026–2028. Prospek harga tembaga didukung oleh pasokan yang terbatas akibat gangguan operasional sejumlah tambang serta permintaan yang kuat dari tren elektrifikasi.
Selain peningkatan produksi tambang, kontribusi fasilitas pengolahan juga diperkirakan semakin besar. Pabrik peleburan tembaga (smelter) dan fasilitas pemurnian logam mulia atau precious metals refinery (PMR) milik AMMN telah beroperasi penuh pada Juli 2026. Kedua fasilitas tersebut kini berpeluang meningkatkan utilisasi menuju tingkat optimal.
Joanne memperkirakan penjualan katoda tembaga AMMN meningkat 63% secara tahunan menjadi 124.000 ton pada 2026. Sementara itu, penjualan emas murni diproyeksikan melonjak 113% menjadi 243.000 ons troi pada tahun yang sama.
Peningkatan penjualan kedua produk tersebut diharapkan turut mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Selain peningkatan produksi, AMMN juga berpeluang menikmati manfaat dari berakhirnya periode belanja modal besar. Sejak regulasi domestik diterbitkan pada Januari 2017, perusahaan telah berinvestasi besar-besaran untuk membangun smelter tembaga.
Investasi tersebut meningkatkan kapasitas pengolahan AMMN hingga lebih dari dua kali lipat menjadi 85 juta ton per tahun (million tonnes per annum/Mtpa), sehingga lebih sejalan dengan kapasitas penambangannya.
Dengan smelter yang telah beroperasi penuh, fokus perusahaan kini beralih pada pengurangan utang. CGS International Sekuritas memperkirakan rasio utang bersih terhadap ekuitas (net gearing) AMMN turun dari 1,1 kali pada 2025 menjadi 0,3 kali pada 2028.
Baca Juga: Skor ESG KEJU Masih Tertinggal, Maybank Sekuritas Masih Direkomendasikan Buy
Penurunan leverage tersebut berpotensi memberikan tambahan dorongan terhadap laba. CGS International Sekuritas memproyeksikan laba per saham alias earnings per share (EPS) AMMN tumbuh dengan CAGR sebesar 29% sepanjang 2026–2028.
Setelah periode pengurangan utang, AMMN berpotensi kembali meningkatkan investasi mulai 2030, menjelang perkiraan dimulainya operasi tambang Elang pada 2032 atau 2033.
Berdasarkan prospek tersebut, CGS International Sekuritas memulai cakupan riset terhadap AMMN dengan rekomendasi add dan target harga Rp 7.000 per saham. Target harga yang menggunakan metode penilaian sum-of-the-parts (SOP) tersebut mengimplikasikan rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/P/E) sebesar 19,6 kali berdasarkan proyeksi laba 2027.
Hingga Jumat (9/10/2026), harga saham AMMN naik 4,01% di level Rp 4.410 per saham. Sementara dalam satu bulan harga saham AMMN turun 9,26%.
Dalam valuasinya, CGS International Sekuritas menggunakan metode arus kas terdiskonto (discounted cash flow/DCF) untuk tambang Batu Hijau yang telah beroperasi. Sementara itu, tambang Elang dinilai menggunakan kelipatan nilai perusahaan terhadap cadangan (enterprise value/reserve), dengan asumsi mulai beroperasi pada 2032 atau 2033.
Adapun potensi katalis yang dapat mendorong penilaian saham AMMN antara lain kenaikan harga tembaga dan emas yang lebih tinggi dari perkiraan serta persetujuan pemerintah untuk ekspor sementara konsentrat tembaga. CGS International Sekuritas memperkirakan produksi konsentrat AMMN pada 2027–2028 akan melampaui kapasitas smelter perusahaan.
Namun, sejumlah risiko tetap perlu dicermati, termasuk perubahan regulasi yang tidak terduga, risiko operasional pertambangan, serta ketidakpastian perpanjangan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) AMMN setelah 2030.
Hingga akhir 2026, AMMN berpotensi mengantongi pendapatan sebesar US$ 3,89 juta dengan laba bersih US$ 1,049 juta. Sedangkan di tahun 2027, AMMN bisa menghasilkan pendapatan sebesar US$ 4,359 juta dengan laba bersih mencapai US$ 1,478 juta.
Baca Juga: Koreksi Harga Emas Sebatas Konsolidasi, Simak Rekomendasi Analis Berikut
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














