Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peningkatan aktivitas influenza di Indonesia berpotensi menjadi katalis bagi emiten rumah sakit menjelang akhir 2026. Salah satu saham yang dapat dicermati investor adalah PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), seiring potensi peningkatan kebutuhan layanan kesehatan dan ekspansi kapasitas rumah sakit.
Meski demikian, dampak peningkatan kasus influenza terhadap kinerja emiten rumah sakit masih perlu dicermati. Pasalnya, aktivitas influenza di rumah sakit saat ini masih tergolong rendah sehingga peningkatan kunjungan pasien belum tentu langsung berdampak signifikan terhadap pendapatan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan hasil surveilans hingga minggu ke-38 tahun 2026, kondisi tersebut masih berada dalam rentang menengah dan belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.
Baca Juga: Kasus Influenza Membayangi Prospek Saham Kesehatan, Cek Rekomendasi HEAL, SILO, MIKA
Di Indonesia, tingkat positif tes influenza atau positivity rate melalui surveilans sentinel mencapai 56% pada minggu ke-38 tahun 2026. Sementara itu, aktivitas influenza yang terpantau di puskesmas berada pada kategori sedang, sedangkan surveilans di rumah sakit masih menunjukkan kategori rendah.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Berdasarkan informasi yang disampaikan pada 2 Oktober 2026, sebanyak 185 zona musim (ZOM) atau 24,66% luas daratan Indonesia diprediksi memasuki musim hujan pada November 2026, sedangkan 266 ZOM atau 17,31% diperkirakan menyusul pada Desember 2026.
Meski demikian, awal musim hujan di sebagian besar wilayah diperkirakan mundur dari kondisi normal. BMKG mencatat sebanyak 529 ZOM, yang mencakup 61,08% luas daratan Indonesia, berpotensi mengalami awal musim hujan lebih lambat dari biasanya. Adapun puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, mengatakan prospek emiten rumah sakit masih terbuka seiring potensi peningkatan kebutuhan layanan kesehatan menjelang musim hujan. Kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan kapasitas dan mengembangkan layanan medis turut menjadi faktor yang mempengaruhi kinerja ke depan.
“Kinerja emiten rumah sakit berpotensi ditopang oleh peningkatan kunjungan pasien, optimalisasi kapasitas rumah sakit, serta pengembangan layanan medis,” ujar Azis kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).
Menurut Azis, peningkatan aktivitas influenza berpotensi mendorong kebutuhan layanan kesehatan, mulai dari kunjungan rawat jalan dan pemeriksaan diagnostik hingga rawat inap bagi pasien dengan kondisi yang lebih berat.
Baca Juga: Serangan Houthi Panaskan Tensi Global, Begini Arah Pergerakan Harga Emas
“Peningkatan kasus influenza berpotensi mendorong kunjungan rawat jalan, pemeriksaan diagnostik, dan rawat inap untuk kasus berat. Namun, dampaknya terhadap pendapatan diperkirakan terbatas apabila kenaikan kasus tidak signifikan dan mayoritas pasien hanya membutuhkan pengobatan rawat jalan,” jelasnya.
Ekspansi Rumah Sakit Menopang Prospek MIKA
Analis Phillip Sekuritas Indonesia, Helen, mengatakan prospek MIKA ke depan turut ditopang oleh ekspansi kapasitas rumah sakit dan pengembangan layanan medis. Ia menyebut manajemen mempertahankan target pertumbuhan pendapatan pada kisaran belasan persen rendah hingga menengah pada 2026.
“Manajemen tetap yakin dapat mencapai panduan kinerja tahun buku 2026, yakni pertumbuhan pendapatan pada kisaran belasan persen rendah hingga menengah (low- to mid-teens) serta margin EBITDA 38,8%–39,5%,” tulis Helen dalam risetnya, pada (28/8/2026).
MIKA menargetkan rumah sakit baru di BSD mulai beroperasi pada kuartal IV-2026, disusul rumah sakit di Jawa Timur pada kuartal I-2027. Penambahan fasilitas tersebut diharapkan memperluas kapasitas layanan perusahaan, meskipun kontribusinya terhadap kinerja keuangan akan bergantung pada kecepatan peningkatan jumlah pasien dan utilisasi rumah sakit baru.
Selain ekspansi fasilitas, MIKA juga mengembangkan layanan kedokteran nuklir dan onkologi terintegrasi, yang mencakup pencitraan medis, radioterapi, kemoterapi, hingga terapi radionuklida.
Baca Juga: Emas mengalami Penyesuaian Harga, Pembelian Bank Sentral Jadi Penopang Utama
Helen mengatakan peningkatan kontribusi layanan berkompleksitas tinggi dapat mendukung kualitas bauran pendapatan MIKA dalam jangka panjang, meskipun berpotensi menekan margin dalam jangka pendek.
“Walaupun menekan margin dalam jangka pendek, kontribusi layanan berkompleksitas tinggi yang semakin besar seharusnya mendukung bauran pendapatan yang secara struktural lebih berkualitas dan tetap positif bagi profil laba MIKA dalam jangka panjang,” tutur Helen.
Adapun risiko yang perlu dicermati mencakup pertumbuhan volume pasien yang lebih rendah dari perkiraan, peningkatan utilisasi rumah sakit baru yang lebih lambat, serta persaingan yang semakin ketat.
Dari sisi rekomendasi investasi, Azis merekomendasikan trading buy saham MIKA dengan target harga Rp 1.810 per saham.
Sementara itu, Helen mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MIKA dengan target harga Rp 2.500.
Secara keseluruhan, peningkatan aktivitas influenza dan datangnya musim hujan berpotensi menjadi katalis tambahan bagi emiten rumah sakit menjelang akhir 2026. Namun, dampaknya terhadap MIKA belum tentu signifikan mengingat aktivitas influenza di rumah sakit masih berada pada kategori rendah.
Investor perlu mencermati perkembangan kasus influenza, kebutuhan layanan kesehatan, serta peningkatan utilisasi rumah sakit baru MIKA. Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi sejauh mana peluang pertumbuhan sektor kesehatan dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan kinerja perusahaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














