kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.918   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.094   62,48   1,04%
  • KOMPAS100 785   10,40   1,34%
  • LQ45 602   8,03   1,35%
  • ISSI 213   1,61   0,76%
  • IDX30 334   4,21   1,27%
  • IDXHIDIV20 427   4,86   1,15%
  • IDX80 90   1,14   1,28%
  • IDXV30 117   0,96   0,83%
  • IDXQ30 109   1,31   1,21%

Emas mengalami Penyesuaian Harga, Pembelian Bank Sentral Jadi Penopang Utama


Minggu, 11 Oktober 2026 / 10:37 WIB
Emas mengalami Penyesuaian Harga, Pembelian Bank Sentral Jadi Penopang Utama
ILUSTRASI. Harga Emas Turun (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga emas saat ini dinilai lebih mencerminkan penyesuaian valuasi di tengah tekanan moneter, sementara fundamental jangka panjang tetap ditopang kuat oleh akumulasi permintaan global.

Mengutip Trading Economics pada Jumat (9/10/2026), harga emas spot berada di level US$ 4.193,87 per ons troi, menguat 1,47% atau naik 60,75 poin dengan pertumbuhan secara tahunan (year on year/YoY) sebesar 4,50%.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan mengamati, sebelumnya harga logam mulia melemah ke kisaran US$ 4.100 per ons troi dipicu oleh keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil US Treasury.

Baca Juga: Harga Emas Rebound Dekati US$ 4.200 Per Ons, Intip Prospek dan Strategi Investasinya

Ketidakpastian geopolitik yang melambungkan harga minyak turut mengerek kekhawatiran inflasi, sehingga pasar berekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) masih akan menahan kebijakan hawkish lebih lama.

Kondisi moneter yang ketat tersebut membuat tekanan jual menjadi lebih dominan dibandingkan dengan permintaan emas sebagai aset aman (safe haven).

"Emas sedang mengalami repricing setelah sebelumnya menguat agresif hingga mendekati US$4.700. Perubahan ekspektasi suku bunga dan aksi profit taking mempercepat koreksi harga," terang Brahmantya kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).

Kendati demikian, Brahmantya menilai fundamental jangka panjang emas masih sangat kuat.

Hal ini dibuktikan dengan manuver sejumlah bank sentral global seperti China, Polandia, dan Uzbekistan yang memposisikan emas sebagai instrumen strategis untuk diversifikasi cadangan devisa dan tameng dari ketidakpastian ekonomi dunia.

Baca Juga: Rupiah Berpeluang Tertekan Pekan Depan, Dibayangi Sentimen Eksternal dan Internal

Tercatat, pembelian bersih bank sentral mencapai sekitar 39 ton pada Agustus 2026, yang menggenapkan akumulasi belanja hingga 170 ton sepanjang Januari hingga Agustus.

"Pembelian emas oleh bank sentral tetap menjadi penopang fundamental jangka panjang, meskipun belum tentu mampu menghentikan tekanan jual dalam jangka pendek," imbuhnya.

Menyikapi volatilitas tersebut, investor disarankan untuk cermat melihat peta teknikal.

Brahmantya memetakan level dukungan (support) emas berada di area US$ 4.100–US$ 4.000, dan selanjutnya di US$ 3.900–US$ 3.850.

Sementara level resisten bertengger di kisaran US$ 4.200–US$ 4.230, kemudian menyusul di US$ 4.300–US$ 4.320.

Dengan kuatnya penopang fundamental di tengah pelemahan harga, investor jangka panjang dapat menerapkan strategi buy on weakness melalui akumulasi secara bertahap.

Baca Juga: Garuda Indonesia (GIAA) Rombak Direksi dan Komisaris Dalam RUPSLB, Berikut Rinciannya

Sebaliknya, bagi trader jangka pendek, Brahmantya mengingatkan pentingnya memantau konfirmasi penembusan resisten serta disiplin dalam menerapkan manajemen risiko.

Terkait prospek pergerakan hingga akhir 2026, Brahmantya masih melihat adanya peluang pemulihan (bounce back) dengan mematok proyeksi dasar harga emas di rentang US$ 4.300 hingga US$ 4.600 per ons troi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×