Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Harum Energy Tbk (HRUM) berpotensi semakin ditopang oleh bisnis nikel setelah PT Blue Sparking Energy (BSE) resmi mengekspor produk olahan nikel berupa mixed hydroxide precipitate (MHP). Ekspor perdana tersebut menjadi langkah penting dalam komersialisasi investasi hilirisasi nikel HRUM, meski kontribusinya terhadap profitabilitas masih bergantung pada volume produksi, utilisasi fasilitas, dan efisiensi biaya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai ekspor MHP BSE menjadi katalis positif bagi pendapatan konsolidasi HRUM. BSE merupakan perusahaan yang 51% sahamnya dimiliki HRUM secara tidak langsung melalui PT Tanito Harum Nickel Industry.
“Pengiriman ekspor perdana Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) oleh PT Blue Sparking Energy (BSE) menjadi katalis positif yang sangat signifikan bagi pendapatan konsolidasi HRUM,” kata Nafan kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).
Baca Juga: Skor ESG KEJU Masih Tertinggal, Maybank Sekuritas Masih Direkomendasikan Buy
Menurut Nafan, MHP memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik. Produk ini juga berpotensi memberikan nilai tambah bagi HRUM di tengah upaya perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap bisnis batubara.
“Produk MHP memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Hal ini berpotensi memberikan margin profitabilitas yang lebih stabil dibandingkan hanya mengandalkan produk nickel pig iron maupun batu bara,” jelasnya.
Meski demikian, besarnya dampak ekspor MHP terhadap laba HRUM tetap perlu dicermati.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyebut kontribusi bisnis tersebut akan dipengaruhi oleh harga jual, biaya produksi, tingkat utilisasi fasilitas, dan margin yang dihasilkan.
Elandry mengatakan, kinerja HRUM pada semester I-2026 menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Pendapatan perusahaan meningkat 67% secara tahunan menjadi US$ 1,08 miliar, sedangkan laba bersih melonjak 229% menjadi US$ 129,3 juta. Penjualan nikel juga naik 69% dan mulai ditopang kontribusi MHP.
“Dengan kepemilikan 51% BSE melalui Tanito Harum Nickel Industry, peningkatan volume produksi dan penjualan berpotensi memperkuat pendapatan serta profitabilitas konsolidasi HRUM. Namun, besarnya kontribusi terhadap laba tetap bergantung pada harga jual, biaya produksi, utilisasi fasilitas, dan margin yang dihasilkan,” kata Elandry.
Beroperasinya BSE juga menandai perkembangan strategi diversifikasi HRUM dari sektor batubara menuju ekosistem nikel. Nafan menilai, ekspor MHP menunjukkan bahwa ekspansi kapasitas mulai memasuki tahap komersialisasi dan monetisasi aset.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Menguat Pekan Depan, Ketegangan Timur Tengah Topang Permintaan
“Momen ekspor ini menandakan bahwa fase ekspansi kapasitas kini mulai bertransisi menuju fase komersialisasi dan monetisasi aset,” kata Nafan.
Senada, Elandry menilai bisnis nikel mulai memberikan hasil nyata dan semakin berperan sebagai motor pendapatan HRUM. Namun, ia mengingatkan bahwa perkembangan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan seluruh investasi nikel perusahaan telah mencapai hasil optimal.
“Tantangan berikutnya adalah menjaga stabilitas operasional, meningkatkan utilisasi fasilitas, serta memastikan efisiensi biaya agar pertumbuhan volume diikuti peningkatan margin dan arus kas,” jelas Elandry.
Dari sisi prospek, kinerja HRUM pada paruh kedua 2026 berpotensi mulai mencerminkan kontribusi penjualan MHP BSE. Nafan menilai, kontribusi tersebut dapat menjadi penopang kinerja perusahaan di tengah fluktuasi harga batubara global.
Memasuki 2027, peluang pertumbuhan diperkirakan semakin terbuka seiring peningkatan kapasitas operasional BSE dan potensi kenaikan produksi dari portofolio smelter nikel berbasis teknologi high pressure acid leach (HPAL) lainnya.
“Memasuki 2027, prospek HRUM diproyeksikan makin solid seiring dengan peningkatan kapasitas operasional BSE secara penuh serta potensi peningkatan produksi dari portofolio smelter nikel berbasis teknologi HPAL lainnya,” ujar Nafan.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Tertekan Pekan Depan, Dibayangi Sentimen Eksternal dan Internal
Elandry juga memandang prospek HRUM relatif positif hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027. Selain peningkatan penjualan nikel dan kontribusi MHP, potensi pemulihan produksi batubara dapat mendukung kinerja perusahaan.
Kendati demikian, Elandry mengingatkan bahwa pertumbuhan pendapatan perlu diikuti kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan arus kas yang berkelanjutan. Kebutuhan belanja modal serta beban pendanaan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai kualitas pertumbuhan HRUM.
Dari sisi sentimen, integrasi smelter HPAL, permintaan MHP untuk bahan baku baterai, dan perkembangan industri kendaraan listrik menjadi sejumlah katalis positif bagi perusahaan. Namun, prospek tersebut juga dibayangi risiko kelebihan pasokan nikel global, volatilitas harga komoditas, serta potensi kenaikan biaya energi dan bahan baku.
Nafan menyoroti volatilitas harga nikel di pasar London Metal Exchange (LME) akibat potensi oversuplai. Selain itu, ketidakpastian adopsi kendaraan listrik global dan dinamika regulasi perdagangan internasional juga berpotensi mempengaruhi prospek bisnis nikel HRUM.
Sementara itu, Elandry menilai besarnya investasi dalam proyek hilirisasi membuat efisiensi operasional menjadi semakin penting. Keterlambatan operasional atau utilisasi fasilitas yang belum optimal dapat menekan margin dan arus kas, meskipun volume produksi meningkat.
“Market sentiment terhadap HRUM tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan volume, tetapi juga oleh harga komoditas dan efisiensi operasional,” ujar Elandry.
Terkait rekomendasi saham, Nafan menyarankan investor untuk bersikap wait and see terhadap HRUM. Sementara itu, Elandry menilai saham HRUM masih menarik untuk dicermati oleh investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang, seiring perkembangan bisnis nikel yang mulai tercermin dalam kinerja keuangan.
“Strategi buy on weakness secara bertahap dapat dipertimbangkan apabila harga terkoreksi ke area support yang wajar,” kata Elandry.
Meski demikian, Elandry belum menyampaikan target harga terbaru dalam pandangannya. Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan harga pasar, valuasi, serta pergerakan teknikal saham sebelum mengambil keputusan investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














