Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan jual yang melanda pasar logam mulia belakangan ini dinilai sebagai fase konsolidasi teknikal di tengah bayang-bayang pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Trading Economics pada 9 Oktober, harga emas spot berada di posisi US$ 4.193,87 per ons troi, mencatatkan penguatan harian sebesar 1,47% atau naik 60,75 poin, dengan pertumbuhan 4,50% secara tahunan (year on year/YoY).
Sebelumnya, pelemahan pasar sempat membawa harga emas terperosok ke kisaran US$ 4.110,55 per ons troi, yang merupakan level terendahnya dalam dua bulan terakhir.
Tekanan ini didorong oleh kombinasi fundamental makroekonomi, terutama sinyal hawkish dari Federal Reserve (The Fed) usai rilis notulen rapat FOMC bulan September terkait inflasi yang masih persisten.
Baca Juga: Emas mengalami Penyesuaian Harga, Pembelian Bank Sentral Jadi Penopang Utama
Kondisi tersebut membuat pasar kini mengalkulasi probabilitas di atas 80% untuk peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.
Ekspektasi era suku bunga tinggi yang lebih lama (Higher for Longer) ini seketika memicu lonjakan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun dan Indeks Dolar AS, memaksa investor keluar dari posisi beli emas. Bahkan, eskalasi konflik di Timur Tengah urung memicu minat beli secara maksimal akibat kuatnya tarikan likuiditas dolar.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono memandang, tren pelemahan saat ini sejatinya merupakan koreksi teknikal yang sehat sekaligus respons wajar terhadap penyesuaian ekspektasi pasar atas kebijakan The Fed.
"Selama fundamental moneter global masih cenderung potensial untuk melakukan pelonggaran dalam jangka panjang dan akumulasi cadangan oleh bank sentral dunia belum surut, penurunan ini belum dapat dikonfirmasi sebagai pembalikan tren jangka panjang (bear market), melainkan fase konsolidasi di bawah bayang-bayang pengetatan moneter sementara," terang Wahyu kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).
Menghadapi volatilitas finansial dan ketidakpastian makroekonomi global yang tinggi, investor perlu melakukan pendekatan rasional. Selain mencermati arah data inflasi dan dinamika geopolitik, pengelolaan portofolio menjadi kunci utama pertahanan nilai aset.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Menguat Pekan Depan, Ketegangan Timur Tengah Topang Permintaan
"Daripada menempatkan seluruh dana dalam satu waktu (lump sum) di tengah pasar yang bergejolak, lakukan pembelian secara bertahap (misalnya setiap bulan secara rutin). Strategi ini membantu meratakan harga pembelian dan mengurangi risiko salah timing di puncak pasar," saran Wahyu.
Lebih lanjut, Wahyu merekomendasikan agar emas diposisikan sebagai instrumen diversifikasi yang proporsional, idealnya pada kisaran 10% hingga 20% dari total aset investasi.
Investor juga perlu mematok horison jangka menengah-panjang, minimal tiga hingga lima tahun ke depan, sembari menyiapkan dana darurat terpisah agar tak terpaksa menjual aset saat pasar sedang terkoreksi.
Secara keseluruhan, tren harga emas global hingga akhir tahun 2026 masih berada dalam struktur jangka menengah yang konstruktif.
Wahyu memproyeksikan pergerakan harga emas global akan berada di rentang US$ 4.300 hingga US$ 5.000 per ons troi menjelang penutupan tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













