kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.106   76,00   0,42%
  • IDX 5.890   16,32   0,28%
  • KOMPAS100 766   2,50   0,33%
  • LQ45 583   0,52   0,09%
  • ISSI 203   0,80   0,40%
  • IDX30 330   -0,15   -0,05%
  • IDXHIDIV20 408   -1,89   -0,46%
  • IDX80 87   0,35   0,41%
  • IDXV30 111   -0,06   -0,05%
  • IDXQ30 106   -0,46   -0,43%

Watchlist S&P DJI Bikin Asing Tahan Masuk, Saham Bank Besar Masih Tertekan


Kamis, 09 Juli 2026 / 09:39 WIB
Watchlist S&P DJI Bikin Asing Tahan Masuk, Saham Bank Besar Masih Tertekan
ILUSTRASI. Investor asing masih mencermati berbagai perkembangan sebelum meningkatkan eksposur ke aset Indonesia. Selain status watchlist dari S&P DJI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Aura Putri | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masuknya Indonesia ke dalam S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) Country Classification Watchlist disebut menjadi salah satu faktor yang membuat investor asing belum kembali agresif masuk ke pasar saham, khususnya pada sektor perbankan.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, investor asing masih mencermati berbagai perkembangan sebelum meningkatkan eksposur ke aset Indonesia. Selain status watchlist dari S&P DJI, pelaku pasar juga menunggu kepastian terkait reformasi pasar modal, arah suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga fundamental emiten.

"Asing sudah lepas Rp89 triliun YTD 2026. Watchlist S&P DJI menambah justifikasi bagi EM-mandated funds untuk mempertahankan posisi underweight Indonesia, bukan segera melakukan re-entry," ujar Wafi kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).

Menurut Wafi, saham-saham bank berkapitalisasi besar menjadi kelompok yang paling sensitif terhadap sentimen global. Hal tersebut disebabkan tingginya kepemilikan investor asing pada saham-saham tersebut serta besarnya kapitalisasi pasar yang dimiliki.

Baca Juga: IHSG Memerah ke 5.863 Awal Perdagangan Kamis (9/7), Berlawanan dengan Bursa Asia

Tekanan sentimen tersebut tercermin pada perdagangan Rabu (8/7/2026), ketika saham-saham perbankan papan atas kompak ditutup di zona merah.

Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat pelemahan terdalam dengan turun 2,59% ke level Rp 3.380 per saham.

Diikuti saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang terkoreksi 2,46% menjadi Rp 3.970 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 2,45% ke level Rp 2.790 per saham, sedangkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 1,98% ke posisi Rp 6.175 per saham.

Wafi menilai, apabila tekanan terhadap harga saham masih berlanjut, strategi utama yang perlu dilakukan perbankan adalah memperkuat fundamental bisnis. Langkah tersebut dapat ditempuh melalui pertumbuhan kredit yang berkualitas, peningkatan efisiensi operasional, serta menjaga kualitas aset agar tetap sehat.

Di sisi lain, aksi pembelian kembali atau buyback saham masih menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan emiten untuk menjaga stabilitas harga saham. Selain itu, kebijakan buyback juga memberikan sinyal optimisme manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan atau insider confidence.

Baca Juga: IHSG Turun ke 5.863 Awal Perdagangan Kamis (9/7) Pagi, Bursa Asia Justru Menghijau

Saat ini, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menjalankan program buyback saham senilai Rp 5 triliun yang berlangsung sejak Maret 2026 hingga Maret 2027.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga masih melaksanakan program buyback dengan nilai maksimal Rp 500 miliar. Program tersebut berlangsung mulai 12 Juni 2026 hingga 11 September 2026.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) telah menyelesaikan program buyback saham 2026 dengan membeli kembali sebanyak 77.856.100 saham. Nilai maksimal buyback yang telah memperoleh persetujuan pemegang saham mencapai Rp 905,48 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×