Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Chief economic strategist Morgan Stanley Wealth Management Ellen Zentner menilai, kondisi saat ini menempatkan bank sentral AS dalam dilema.
“Pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja akan mendukung pemangkasan suku bunga. Namun risiko harga minyak yang tinggi dalam waktu lama bisa memicu lonjakan inflasi baru, sehingga The Fed mungkin memilih menahan kebijakan,” ujarnya.
Di sisi lain, konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki hampir satu pekan tanpa tanda mereda.
Ketegangan ini memicu lonjakan harga energi global, terutama setelah arus pelayaran di Selat Hormuz terganggu.
Harga minyak Brent crude sempat menyentuh sekitar US$90 per barel, mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Turun Jumat (6/3), Tertekan Perang Iran dan Data Tenaga Kerja
Lonjakan harga energi menekan saham maskapai penerbangan. Saham American Airlines dan Delta Air Lines masing-masing turun sekitar 3%, sementara subindeks maskapai di S&P 500 berpotensi mencatat penurunan mingguan hampir 13%.
Di sektor teknologi, saham produsen chip kecerdasan buatan Nvidia turun sekitar 0,8% dan Advanced Micro Devices melemah 1,4%, di tengah pembahasan pemerintah AS mengenai kerangka regulasi baru untuk ekspor chip AI.
Namun tidak semua saham bergerak turun. Saham Marvell Technology melonjak 16,2% setelah perusahaan chip tersebut memproyeksikan pendapatan tahun fiskal 2028 melampaui estimasi pasar.
Meski sentimen pasar memburuk, kinerja saham AS sepanjang pekan ini masih relatif lebih baik dibandingkan pasar Asia dan Eropa.
Hal ini karena Amerika Serikat dinilai lebih terlindungi dari guncangan energi global, mengingat statusnya sebagai eksportir bersih minyak.
Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan, lonjakan harga minyak global kemungkinan tidak akan memicu inflasi yang persisten maupun memerlukan perubahan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













