Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Kamis (20/8/2026), tertekan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan penurunan tajam saham Walmart setelah perusahaan ritel tersebut mencatatkan penjualan kuartalan di bawah ekspektasi pasar.
Pada pukul 09.44 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,60% atau 319,61 poin menjadi 53.143,44. S&P 500 melemah 0,15% ke 7.696,52, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,29% menjadi 26.254,38.
Tekanan utama datang dari pasar obligasi. Yield US Treasury tenor 30 tahun kembali naik sekitar 3 basis poin menjadi 5,239%, sementara yield Treasury 10 tahun berada di 4,698%.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi AS, Jepang dan Eropa Tembus Level Tertinggi
Kenaikan yield membuat saham kembali tertekan karena imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik aset berisiko, termasuk saham.
"Ketika yield terus naik, investor saham akan terus menghadapi masalah," kata Joe Saluzzi, co-manager trading Themis Trading.
Pergerakan yield kembali menjadi perhatian setelah imbal hasil Treasury 30 tahun sempat mencapai level tertinggi hampir dua dekade.
Yield kemudian turun pada Rabu setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan langkah untuk mendukung obligasi berjangka panjang. Namun, dampak positif kebijakan tersebut dinilai hanya sementara.
Baca Juga: Nasdaq Terkoreksi, Saham Teknologi Tertekan Imbal Hasil dan Kenaikan Harga Minyak
Di pasar saham, Walmart menjadi salah satu pemberat utama. Saham perusahaan ritel tersebut anjlok 8,6% setelah penjualan toko yang telah beroperasi setidaknya satu tahun tidak memenuhi ekspektasi Wall Street.
Kinerja Walmart turut menekan sektor consumer staples S&P 500 yang turun 1,6%, menjadi sektor dengan pelemahan terbesar. Kondisi ini menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati membelanjakan uangnya, terutama di tengah kenaikan harga bahan bakar.
Selain itu, sektor consumer discretionary turun 1,3%, terbebani penurunan saham Amazon dan Tesla. Pelemahan indeks utama sedikit tertahan oleh kenaikan saham Nvidia dan Apple.
Sentimen pasar juga tertekan kenaikan harga minyak. Harga minyak naik 2,3% dan mencatat kenaikan dalam lima sesi perdagangan berturut-turut. Kenaikan tersebut dipicu mandeknya pembicaraan damai AS-Iran serta gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Diprediksi Naik Jadi 7,35% pada Akhir 2026
Kekhawatiran terhadap inflasi juga kembali menguat setelah risalah rapat Federal Reserve (The Fed) Juli yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan sejumlah pejabat bank sentral AS masih membuka peluang kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.














