Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (6/8/2026), menghentikan reli yang mengantarkan indeks utama mencetak rekor tertinggi pada awal pekan.
Investor mencerna gelombang terbaru laporan keuangan emiten sekaligus memantau perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Harga Saham BUMN Masih Tertekan Meskipun Laporan Kinerja Bagus, Cek yang Layak Beli?
Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 464,02 poin atau 0,85% ke level 53.885,10.
Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 13,52 poin atau 0,18% menjadi 7.710,03 dan Nasdaq Composite melemah tipis 15,09 poin atau 0,06% ke posisi 26.348,35.
Sebelumnya, Dow Jones dan S&P 500 sempat mencetak rekor tertinggi pada awal pekan.
Sentimen positif saat itu didorong musim laporan keuangan yang solid sehingga meredakan kekhawatiran atas besarnya belanja perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya optimisme terhadap peluang berakhirnya konflik Iran.
Namun pada perdagangan Kamis, investor memilih mengambil sikap hati-hati sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dari negosiasi tersebut.
"Respons pasar terhadap berita makro saat ini lebih terbatas, kemungkinan karena musim liburan dan munculnya kejenuhan terhadap berita, khususnya mengenai Iran," kata Head of Trading SummitTX Capital, Robert Bernstone.
"Iran kini memberi dampak yang lebih kecil terhadap pasar. Bukan berarti tidak berpengaruh sama sekali, tetapi pelaku pasar ingin melihat detail konkret, bukan sekadar pernyataan atau judul berita," tambahnya.
Baca Juga: Asing Borong Saham-Saham Ini Saat IHSG Terkoreksi, Ada BBCA dan TLKM, Kamis (6/8)
Harga Minyak Naik
Di pasar komoditas, harga minyak mentah kembali menguat setelah kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa sebuah komite parlemen Iran sedang mengkaji rancangan undang-undang awal yang melarang kapal-kapal Amerika Serikat, Israel, dan negara lain yang dianggap bermusuhan melintasi Selat Hormuz.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 2,75% menjadi US$ 77,29 per barel. Sementara itu, minyak Brent menguat 3,83% ke level US$ 82,49 per barel.
Sebelumnya, harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai sempat menekan harga minyak pada awal pekan.
Penurunan harga energi tersebut membantu meredakan kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, sekaligus mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 0,11% ke 6.343, Kamis (6/8), Cek Saham yang Banyak Dijual Asing
Sejumlah Saham Teknologi Tertekan
Dari sisi emiten, saham perusahaan penyimpanan data Western Digital anjlok 13% setelah merilis laporan keuangan kuartalan. Saham produsen chip memori Sandisk juga turun 6,8%.
Platform pemasaran digital AppLovin merosot 19,7% setelah pendapatannya tidak memenuhi ekspektasi analis Wall Street.
Sementara itu, perusahaan keamanan komputasi awan Datadog kehilangan 19% setelah memperkirakan pertumbuhan pendapatan akan melambat pada kuartal III.
Kedua saham tersebut menjadi salah satu penekan utama indeks S&P 500.
Meski demikian, musim laporan keuangan secara keseluruhan masih menunjukkan hasil yang kuat.
Berdasarkan data LSEG, dari 382 perusahaan anggota S&P 500 yang telah merilis kinerja hingga Rabu pagi, sekitar 84,8% berhasil membukukan laba di atas ekspektasi analis.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis sebesar 68% sejak 1994.
Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Level Tertingi dalam 7 Pekan, Cermati Pemicunya
SpaceX Menguat, Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja
Di sisi lain, saham SpaceX berbalik menguat 6,1% setelah sempat diperdagangkan di zona merah.
Kenaikan ini terjadi meskipun periode lock-up bagi investor awal telah berakhir, yang sebelumnya dikhawatirkan akan memicu aksi jual.
Sementara itu, data ekonomi menunjukkan jumlah klaim baru tunjangan pengangguran di Amerika Serikat meningkat tipis pada pekan lalu.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls) untuk Juli yang dijadwalkan pada Jumat (7/8).
Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan, di tengah sikap Ketua The Fed Kevin Warsh yang mulai mengurangi panduan mengenai prospek kebijakan moneter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
