Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Tekanan datang dari lonjakan harga minyak mentah yang menembus US$ 100 per barel serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjelang rilis data inflasi.
Melansir Reuters, pada penutupan perdagangan, indeks S&P 500 turun 0,48% menjadi 7.636,46. Nasdaq melemah 0,64% ke 26.253,34, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,77% menjadi 52.381,02.
Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) Diproyeksi Masuk Fase Recovery pada 2027, Simak Rekomendasi Analis
S&P 500 kini sekitar 2% di bawah rekor penutupan yang dicapai pada 13 Agustus. Meski demikian, indeks tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 12% sepanjang 2026.
Harga minyak Brent melonjak melewati level US$ 100 per barel di tengah kekhawatiran terhadap pasokan minyak global dan meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah.
Perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang memasuki bulan ketujuh meningkatkan kekhawatiran konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.
Kenaikan harga minyak juga berpotensi mendorong inflasi, sehingga menjadi perhatian investor terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Indeks sektor energi S&P 500 menjadi satu-satunya sektor yang menguat dengan kenaikan 1,1%. Sementara seluruh sektor lainnya berakhir di zona merah.
Baca Juga: Cermati Saham yang Banyak Dikoleksi Asing Saat IHSG Terkoreksi Tipis, Rabu (9/9)
Imbal Hasil US Treasury Naik
Tekanan terhadap saham juga datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak November 2023.
Kenaikan tersebut terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana membeli obligasi pemerintah dengan tenor 10 hingga 20 tahun senilai hingga US$ 6 miliar.
Nilai tersebut lebih kecil dari ekspektasi sejumlah analis yang memperkirakan pembelian sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 10 miliar.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah yang dianggap sebagai aset bebas risiko dapat mengurangi daya tarik saham bagi investor.
“Hal itu membuat pasar sedikit khawatir, terutama karena belum banyak yang bisa dijadikan pegangan terkait ekspektasi laba hingga kita memasuki musim laporan keuangan kuartal ketiga,” ujar Rob Haworth, senior investment strategist di U.S. Bank Wealth Management.
Investor kini menunggu data Producer Price Index (PPI) AS yang akan dirilis Kamis serta data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada Jumat.
Data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 60% The Fed menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan pekan depan.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp 439 Miliar, Cermati Saham yang Banyak Dijual, Rabu (9/9)
Saham Teknologi Bergerak Beragam
Pergerakan saham teknologi juga beragam. Apple turun 0,3% setelah menggelar peluncuran smartphone pertamanya di bawah CEO baru John Ternus.
Sebaliknya, saham Meta melonjak lebih dari 6%. Kenaikan tersebut membantu menahan penurunan S&P 500 setelah perusahaan media sosial itu meluncurkan asisten kecerdasan buatan (AI) yang dapat menjalankan sejumlah tugas secara otomatis, termasuk mengirim email, menjual mobil, hingga melakukan pemesanan perjalanan.
Saham Alphabet turun 2,3% setelah induk Google tersebut mengumumkan rencana investasi sedikitnya US$ 15,1 miliar untuk infrastruktur AI di Finlandia dalam dua tahun ke depan. Investasi tersebut mencakup kesepakatan besar terkait pasokan listrik tenaga nuklir.
Sementara itu, Philadelphia Semiconductor Index naik 0,37%. Saham Advanced Micro Devices (AMD) menguat 3%.
Di luar sektor teknologi, saham Dow turun 0,6% setelah Bloomberg melaporkan perusahaan kimia tersebut mempertimbangkan untuk keluar dari kemitraan senilai US$ 20 miliar dengan Saudi Aramco.
Baca Juga: Merdeka Battery (MBMA) Buka Suara Soal Kabar Pencatatan Saham di Bursa Hong Kong
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














