Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada Jumat (21/8/2026), mencoba bangkit setelah tertekan tajam pada perdagangan sebelumnya.
Namun, penguatan ini belum cukup menghapus tekanan sepanjang pekan akibat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah dan ketegangan geopolitik.
Pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 9,7 poin atau 0,02% menjadi 52.768,87. Sementara itu, S&P 500 menguat 24,5 poin atau 0,32% ke 7.665,68 dan Nasdaq Composite naik 131,7 poin atau 0,51% menjadi 26.198,84.
Meski menguat pada awal perdagangan, ketiga indeks utama Wall Street masih berada di jalur penurunan mingguan. S&P 500 dan Nasdaq berpotensi mengakhiri reli tiga pekan berturut-turut, sedangkan Dow Jones menuju penurunan mingguan kedua sekaligus menjadi penurunan terburuk sejak pertengahan Maret.
Baca Juga: Wall Street Anjlok Dipicu Kenaikan Yield Obligasi dan Kinerja Wall Mart Mengecewakan
Tekanan utama datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang. Yield Treasury 30 tahun bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007 pada pekan ini.
Kenaikan yield mencerminkan kekhawatiran investor terhadap membengkaknya utang pemerintah AS, meningkatnya biaya pembiayaan, serta risiko inflasi yang masih bertahan. Kondisi tersebut membuat aset berisiko seperti saham menjadi kurang menarik.
"Yield obligasi masih menjadi salah satu kekhawatiran utama pasar," kata Paul Stanley, managing director sekaligus founding advisor Arca.
Menurut dia, pasar obligasi yang sangat besar masih mencerminkan ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan inflasi yang lebih tinggi, meski pemerintah AS telah melakukan pembelian kembali surat utang.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan pemerintah dapat meningkatkan pembelian kembali Treasury setelah melakukan intervensi yang mengejutkan pada Rabu.
Di sisi lain, sentimen pasar juga tertahan oleh ketegangan AS dan Iran. Bessent mengatakan AS akan menjatuhkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Langkah tersebut, menurut dia, diharapkan dapat mengurangi kebutuhan untuk melakukan operasi militer besar baru.
Baca Juga: Wall Street Tertekan Kenaikan Imbal Hasil Obligasi & Penurunan Tajam Saham Walmart
Kebuntuan antara Washington dan Teheran turut menjaga harga minyak tetap tinggi, meski harga minyak sedikit melemah pada Jumat.
Saham teknologi dan kripto mulai bangkit
Sejumlah saham berkapitalisasi besar mulai bergerak naik dalam perdagangan awal. Alphabet dan Tesla masing-masing menguat sekitar 0,6% dan 1,2% setelah mengalami tekanan pada perdagangan Kamis.
Saham Ross Stores melesat sekitar 8% setelah perusahaan ritel tersebut menaikkan proyeksi laba tahunan dan membukukan kinerja kuartal II yang lebih baik dari perkiraan.
Saham terkait aset kripto juga menguat. Bitcoin menyentuh level tertinggi sejak akhir Mei setelah Presiden AS Donald Trump mendesak Kongres meloloskan regulasi penting terkait kripto.
Coinbase Global naik 4,5%, Strategy menguat 6,8%, sedangkan Robinhood naik 4,8%.
Meski demikian, investor masih menghadapi sejumlah agenda penting pekan depan. Pasar akan mencermati data Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Wall Street Menguat, Saham Teknologi dan AI Jadi Penopang Utama
Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole juga menjadi perhatian karena investor mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS.
Selain itu, laporan keuangan Nvidia akan menjadi ujian berikutnya bagi reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI). Investor akan melihat apakah pertumbuhan laba dan permintaan infrastruktur AI masih mampu menopang valuasi tinggi saham teknologi.
Di tengah berbagai risiko tersebut, UBS Global Wealth Management justru menaikkan target akhir tahun S&P 500 menjadi 8.100. UBS menilai prospek laba perusahaan masih kuat dan pertumbuhan keuntungan korporasi berpotensi tetap solid hingga tahun depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














