Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penawaran Sukuk Ritel (SR) seri SR025 diperkirakan berpeluang menghimpun dana hingga menyamai capaian Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 yang berhasil menyerap hingga Rp 40 triliun. Meski menawarkan kupon sedikit lebih rendah, SR025 tetap memiliki daya tarik bagi investor ritel.
Untuk diketahui, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menetapkan besaran imbal hasil (kupon) SBN Ritel seri SR025 masing-masing sebesar 6,80% dan 6,90% per tahun untuk tenor 3 dan 5 tahun.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan prospek penerbitan SR025 kali ini kuat karena kondisi domestik masih mendukung. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%, sementara inflasi Juli 2026 tercatat 2,88%.
“Sehingga imbalan SR025 sebesar 6,80%-6,90% masih memberikan selisih hampir empat poin persentase terhadap inflasi saat ini,” ujar Josua kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga: Rencana Batas Harga Saham Turun ke Rp1, Transaksi Saham Tertentu Berpotensi Melesat
Josua menjelaskan, penetapan kupon SR025 sudah cukup tepat, meski cenderung hemat dari sisi biaya pembiayaan pemerintah.
Sebelum kupon ditetapkan, dia memperkirakan, kisaran yang masuk akal berada di 6,75%-6,90% untuk tenor tiga tahun dan 6,85%-7% untuk tenor lima tahun.
Adapun pemerintah akhirnya menetapkan kupon tetap sebesar 6,80% untuk SR025 tenor tiga tahun dan 6,90% untuk tenor lima tahun, kemungkinan karena ingin menjaga keseimbangan antara daya tarik investor dan biaya utang.
Bagi investor ritel yang mencari pendapatan tetap, kombinasi pembayaran bulanan, jaminan pemerintah, pajak imbalan hanya 10%, serta kemampuan memperdagangkannya di pasar sekunder merupakan daya tarik yang cukup kuat.
Meski demikian, momentum penerbitan SR025 tidak sepenuhnya bebas risiko. Yield Surat Berharga Negara (SBN) masih relatif tinggi di tengah ketidakpastian global.
Josua mencatat, yield SBN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,02% pada pertengahan Agustus 2026, setelah sebelumnya mencapai 7,29% pada akhir Juli. Kenaikan yield tersebut antara lain dipengaruhi konflik Timur Tengah, harga minyak, serta tingginya tingkat suku bunga global.
Sementara itu, yield SBN lima tahun pada pertengahan Agustus berada di sekitar 6,94%, sedangkan tenor tiga tahun sebelumnya sekitar 7,1%.
"Artinya, SR025 bukan produk yang diberi imbalan sangat murah, tetapi juga tidak menawarkan premi yang sangat besar dibandingkan pasar," jelas Josua.
Baca Juga: INPP Tebar Dividen Interim Rp 50,32 Miliar, Cek Potensi Yield dan Jadwalnya
Karena itu, menurut dia, permintaan SR025 kemungkinan paling kuat berasal dari investor yang memang berniat memegang instrumen tersebut hingga jatuh tempo, bukan investor yang mengejar keuntungan dari kenaikan harga dalam jangka pendek.
Dari sisi strategi, SR025 tenor lima tahun lebih menarik bagi investor yang memiliki dana untuk dikunci lebih lama dan memperkirakan suku bunga serta yield obligasi akan turun pada 2027-2028. Sebab, selain mengunci kupon 6,90%, tenor yang lebih panjang memiliki peluang kenaikan harga lebih besar di pasar sekunder ketika yield turun.
Sebaliknya, tenor tiga tahun lebih sesuai bagi investor yang mengutamakan fleksibilitas dan memiliki kebutuhan dana dalam waktu lebih dekat.
"Bagi investor dengan dana cukup, strategi yang lebih seimbang adalah membagi pembelian antara T3 dan T5, sehingga sebagian dana jatuh tempo lebih cepat sementara sebagian lainnya mengunci imbalan lebih lama," tutur Josua.
Lebih lanjut, Josua memperkirakan, SR025 berpeluang menyamai atau bahkan melampaui penjualan ORI030 sebesar Rp 40 triliun. Namun, skenario tersebut bukan merupakan skenario dasar bagi Josua.
Pasalnya, ORI030 memiliki sedikit keunggulan dari sisi kupon, yakni 6,90% untuk tenor tiga tahun dan 7% untuk tenor enam tahun. Sementara SR025 menawarkan kupon masing-masing 6,80% dan 6,90%.Selain itu, sebagian likuiditas investor ritel baru saja terserap oleh penerbitan ORI030.
Baca Juga: INPP Tebar Dividen Interim Rp 50,32 Miliar, Cek Potensi Yield dan Jadwalnya
Meski demikian, penjualan SR025 masih berpeluang menembus Rp 40 triliun apabila rupiah tetap stabil, yield SBN tidak kembali melonjak, pasar saham tetap bergejolak sehingga investor mencari pendapatan yang lebih pasti, serta pemasaran melalui mitra distribusi berjalan kuat.
SR025 juga memiliki keunggulan karena dapat menjangkau investor syariah maupun investor umum.
Melansir laman resmi DJPPR, pemerintah menetapkan nominal minimum pemesanan SR025 pada level Rp 1 juta, dengan nominal maksimum pemesanan mencapai Rp 5 miliar untuk SR025-T3 dan Rp10 miliar untuk SR025-T5.
Adapun DJPPR menyelenggarakan masa penawaran produk ini pada periode 21 Agustus-16 September 2026. SR025-T3 nantinya akan jatuh tempo pada 10 September 2029 dan SR025-T5 pada 10 September 2031.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














